Siswa PAUD Meninggal Usai Divaksin Corona, Bupati Cianjur : Punya Riwayat Stunting





Cianjur, Hajinews.id – ZL (6,5) siswa PAUD asal Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang meninggal dunia usai divaksinasi COVID-19 Sinovac diduga memiliki riwayat masalah kurang gizi kronis (stunting). Demikian disampaikan Bupati Cianjur, Herman Suherman kepada wartawan di Pendopo Kabupaten Cianjur, Rabu (19/1).

Disebutkan Herman, kasus meninggalnya siswa PAUD di Cianjur yang diduga usai menjalani vaksinasi COVID-19 sudah dilaporkan dan ditangani Komnas KIPI.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

“Berdasarkan keterangan dari Dinas Kesehatan, diketahui bahwa siswa tersebut memiliki riwayat stunting. Namun, kita masih mendalami penyebab pastinya dan kasusnya sudah ditangani Komnas KIPI,” kata Herman.

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Hal itu mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Lebih lanjut, Herman meminta, masyarakat dan orang tua agar jujur saat melakukan pemeriksaan atau screening sebelum menjalani vaksinasi.

“Hal tersebut sangat penting untuk mencegah hal yang tidak diinginkan usai menjalani vaksinasi dan untuk mempercepat penanganan,” kata dia.

Herman juga meminta masyarakat agar tidak khawatir dengan adanya kasus tersebut dan tetap untuk mau menjalani vaksinasi.

“Karena vaksinasi tersebut untuk melindungi kita dari virus COVID-19, apalagi saat ini muncul varian Omicron. Dengan vaksinasi, jelas akan memperkuat imun kita,” ujarnya.

Sebelumnya, seorang siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ZL (6,5) asal Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat meninggal dunia usai menjalani vaksinasi COVID-19. Diduga ZL mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) dan sempat mengalami demam tinggi dan beberapa kali kejang-kejang.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal, mengatakan, diketahui siswa tersebut menjalani vaksinasi di SD Banyuwangi, Kecamatan Pasirkuda, Senin (17/1) pagi. Vaksinasi yang dijalani siswa itu, kata Yusman, setelah menjalani tahap pemeriksaan dan mendapat persetujuan orang tuanya.

“Setelah menjalani tahap pemeriksaan dan mendapat persetujuan orang tua anak tersebut pun disuntikkan vaksin, sekitar pukul 09.30 WIB, kemarin. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, anak tersebut dinyatakan layak untuk mendapatkan vaksinasi,” kata Yusman, kepada wartawan, Rabu (19/1).

Sekitar pukul 12.30 WIB, orang tua siswa tersebut melaporkan pada petugas jika anaknya mengalami demam. Petugas puskesmas pun memberi obat pereda demam dengan dititipkan pada gurunya.

Menurut Yusman, pada pukul 19.30 WIB, ZL kembali mengalami demam hingga kejang-kejang. Orangtuanya pun segera membawanya ke puskesmas untuk diperiksa.

“Sejak siang mengalami demam hingga malam harinya mengalami kejang sudah ditangani secara medis, mulai dari pemberian obat sampai perawatan di puskesmas,” tuturnya.

Namun pada Selasa (18/1) pagi, lanjut Yusman, ZL kembali demam dan kejang, sehingga pihak Puskesmas rekomendasi agar siswa tersebut dirujuk ke RSUD Pagelaran.

Namun orang tua ZL menolak anaknya dirujuk ke rumah sakit.

“Sekitar pukul 09.00 WIB anak demam dengan suhu 39 derajat. Setelah ada persetujuan dokter spesialis di RSUD Pagelaran, pihak Puskesmas menyarankan agar dirujuk, tapi orang tua anak tersebut menolak,” katanya.

Menurut dia, pada pukul 10.15 WIB, anak tersebut dinyatakan meninggal dunia di ruang IGD Puskesmas. “Anak meninggal di Puskesmas,” ucap Yusman.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.