Universalitas Ajaran Islam

Universalitas Ajaran Islam
Universalitas Ajaran Islam




Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.idAjaran Islam itu untuk semua manusia. Sebagaimana Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai ganti atas Kitab-kitab Allah yang diturunkan terdahulu, maka semenjak pewahyuan Al-Qur’an itu, fase pemberlakuan syariat yang terdapat pada Kitab-kitab terdahulu telah berakhir dan dinyatakan berlaku jika ditetapkan kembali dalam Al-Qur’an. Oleh sebab itu, kepada para pengikut syariat Islam sebelum pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW, diperintahkan Allah untuk menyempurnakan pelaksanaan syariat Islamnya dengan menerima kehadiran Al-Qur’an dan mengikuti petunjuk tekhnis pelaksanaan syariat Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Ajaran atau syariat Islam memang tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan secara bertahap melalui para Nabi dan Rasul-Nya, terutama kepada yang namanya disebutkan dalam Al-Qur’an. Dan fase pewahyuan ajaran Islam ini berpuncak pada fase diutusnya Nabi dan Rasul terakhir, yakni Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Allah bagi seluruh alam semesta, dan inilah salah satu pengertian dari universalitas ajaran Islam. Sebagai Nabi bagi seluruh alam semesta, maka tidak mengherankan jika kita memperoleh kisah-kisah misalnya bahwa Nabi Muhammad SAW bisa berbicara dengan batu kerikil, dengan pohon korma, memerintahkan pergerakan awan, membacakan surah-surah Al-Qur’an kepada Bangsa Jin, mengislamkan Iblis, memandu para malaikat, dan tidak terbatas hanya pada bagaimana mengajari manusia saja agar beriman kepada Allah. Demikianlah Nabi Muhammad SAW itu sebagai Nabi dan Rasulullah, Beliau diutus menjadi rahmatan lil-alamiin.

Tentu sebagai pribadi, beliau adalah manusia biasa juga, yang memiliki urusan pribadi dan kebutuhan-kebutuhan primer sebagai manusia. Karena itu, kita mesti membedakan saat kapan Beliau bertindak dalam kapasitasnya sebagai Nabi dan Rasul, dan saat kapan Beliau bertindak sebagai pribadi. Sehingga tidak semua yang dilakukan oleh Nabi (terutama urusan pribadi) mesti diikuti. Yang harus dipatuhi adalah perintah dan larangannya sebagai seorang Nabi dan Rasul. Untuk memilah kedua keadaan Beliau (sebagai pribadi dan sebagai Nabi dan Rasul), tentu setiap muslim mesti mempelajari Sirah Nabawi dengan baik.

Universalitas ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, dengan demikian berlaku bagi semua manusia, dan semesta alam. Tentu saja tidaklah mudah untuk dapat memahami universalitas ajaran Islam ini, apalagi menerimanya hingga sampai ke level iman. Bahkan dalam level ilmu sekalipun tidak banyak yang mampu memahami masalah ini. Karena itu persoalan yang cukup rumit ini ditempatkan pada posisi keimanan, manjadi bagian dari rukun Iman dalam syariat Islam.

Pemahaman akan universitas ajaran Islam, mengharuskan para pemeluk ajaran Ilahi ini, untuk bersikap “inklusif”, tidak eksclusive dan apalagi sampai kaku. Sehingga tidak muncul pengklaiman bahwa hanya mereka yang telah memeluk agama Islam yang boleh mempelajari Al-Qur’an misalnya, atau hanya mereka yang seolah berhak atas ajaran Nabi Muhammad SAW. Sikap demikian tidaklah tepat, karena memang Al-Qur’an itu diturunkan bagi seluruh alam semesta, termasuk seluruh manusia. Tiap manusia dengan demikian boleh dan terbuka untuk mempelajari Al-Qur’an itu. Dan oleh karena itu, jika misalnya ada seorang non-muslim (belum memeluk ajaran Islam), keliru dalam mengomentari Al-Qur’an, kita mesti biasa-biasa saja. Sebagaimana juga hal yang sering terjadi kekeliruan dikalangan umat Islam dalam memahami Al-Qur’an. Dan karena Al-Qur’an itu Kitab Ilahi yang didalamnya berisi petunjuk bagi semua manusia, sudah seharusnya semua manusia menaruh hormat kepada Al-Qur’an itu, memperlakukannya dengan adab yang baik dan mulia. Siapapun tanpa kecuali mesti berlaku demikian. Akan halnya dengan kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Sabur, Injil, dan atau suhuf para Nabi, karena Naskah aslinya telah hilang (tidak ditemukan), maka berbagai komentar atas naskah asli itu yang masih terdapat dalam ribuan versi dewasa ini, kita mesti pahami saja sebagaimana kedudukannya sebagai sebuah hasil interpretasi. Tidak lebih dari buku atau catatan biasa, yang tentu saja boleh dibaca, namun tidak bisa lagi di yakini kebenarannya, karena telah bercampur baur dengan berbagai pandangan para penulisnya. Tidak lagi dapat disebut kitab suci. Dan satu-satunya Kitab Suci di muka Bumi ini yang ada, hanyalah Al-Qur’an. Suci dalam arti tidak mengalami perubahan, tidak bercampur dengan teori, asumsi, dugaan, cerita mitologis.

Memahami ajaran Islam sebagai satu-satunya ajaran yang bersifat universal (dalam arti yang seluasnya dari kata universal ini), meliputi langit dan bumi serta segala yang ada. Maka seorang muslim mestilah membuka wawasan yang seluas-luasnya, agar dapat memahami segala perintah Allah, menjauhi segala larangan-Nya serta mengetahui dan menerima segala ketetapan-Nya (sunnatullah). Umat Islam tidak boleh berpikiran picik, kaku, sempit. Apa yang Allah dan Rasul-Nya berikan mesti kita terima dengan baik. Kita tidak mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, dan sebaliknya tidak menghalalkan apa yang Allah haramkan. Serta berusaha mengatasi apa yang anda di antara keduanya (yang halal dengan yang haram) atau perkara subhat dengan ilmu pengetahuan yang benar, dan jika tidak mampu maka sebaiknya menghindarinya.

Demikianlah umat Islam khususnya dan manusia pada umumnya mesti mempelajari Al-Qur’an itu, dan berusaha melaksanakannya sesuai petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Demikianlah ajaran Islam untuk semua makhluk Allah.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.