Keadaan Orang Beriman dan Bertakwa

Orang Beriman dan Bertakwa
Orang Beriman dan Bertakwa

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Terdapat perbedaan yang besar dikalangan orang yang beriman dan bertakwa dengan orang yang tidak beriman dan bertakwa. Bukan pada perbedaan pisik tubuh mereka, bukan pada latar belakang kebangsaan atau etnisitas-nya, bukan pada bentuk-bentuk lahiriahnya, namun pada kesadaran mereka bahwa tidak satupun dari apa yang mereka lakukan, baik itu perbuatan, perkataan maupun bisikan hati mereka, seluruhnya disaksikan oleh Allah SWT.

Bacaan Lainnya

Demikianlah firman Allah SWT berikut ini:

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

wa mā takūnu fī sya’niw wa mā tatlū minhu min qur’āniw wa lā ta‘malūna min ‘amalin illā kunnā ‘alaikum syuhūdan iż tufīḍūna fīh, wa mā ya‘zubu ‘ar rabbika mim miṡqāli żarratin fil-arḍi wa lā fis-samā’i wa lā aṣgara min żālika wa lā akbara illā fī kitābim mubīn

“Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Q.S Yunus [10] : 61)

Kesadaran akan penyaksian Allah terhadap setiap yang mereka lakukan, mendorong mereka bersikap hati-hati dan senantiasa penuh kewaspadaan dalam memutuskan sesuatu sebelum mengambil tindakan. Sehingga dikatakan dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an bahwa mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Kesadaran seperti itu diperoleh melalui perjuangan yang sungguh-sungguh (jihad). Melalui serangkaian triar and error yang panjang, mengambil pelajaran disaat malam atau kemalangan sedang menimpa, demikian halnya disaat kelapangan, atau kesenangan sedang mendatangi mereka. Ketika kesulitan atau kemalangan sedang menimpa, mereka bergegas menuju Tuhannya, memohon ampunan dan perlindungan dari azab Allah, karena mereka yakin bahwa tidak akan ada musibah yang dapat menimpa mereka tanpa se-izin Allah. Mereka berdiam dibawah sikap penyerahan diri hanya kepada-Nya, hingga tiba saatnya Allah memunculkan cahaya fajar di ufuk, sebagai pertanda bahwa malam telah berlalu. Lalu pada siang hari mereka mencari fadhilah-Nya, di muka bumi dengan tetap menjaga kesadarannya bahwa Allah tidaklah lengah terhadap apapun yang sedang mereka lakukan. Mereka melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan tidak mensyaratkan-Nya, hingga kembali “malam” datang lagi sebagaimana sudah seharusnya, sebagaimana yang telah menjadi ketetapan-Nya, bahwa “DIA mempergilirkan siang dan malam”.

Terbiasa dengan sunnatullah demikian, sebab itu mereka tidak pernah merasa takut dan tidak pula merasa bersedih hati. Sikap penerimaannya atas segala ketetapan-Nya, membuat mereka dicintai oleh Allah.

Allah SWT berfirman:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

alā inna auliyā’allāhi lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn

Ingatlah wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Q.S Yunus [10] : 62)

Demikianlah orang-orang yang beriman dan bertakwa itu sebagaimana firman-Nya:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ

allażīna āmanū wa kānū yattaqūn

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. (Q.S Yunus [10] : 63)

Tidak ada informasi yang dapat membuat mereka bersedih hati atau bermurung durja, karena keyakinannya kepada ketetapan-ketetapan Allah’ telah meliputi dirinya. Mereka sangat meyakini bahwa “tidak ada perubahan atas janji-janji Allah. Demikian itulah (cara meraih) kemenangan yang agung, dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Allah SWT mengangkat mereka menjadi kekasih-Nya, dan mereka diberi kedudukan yang mulia disisi Allah SWT. Allah memberikan penjaminan kepada Rasulullah Muhammad SAW, bahwa mereka (para ummat Muhammad ini) sepenuhnya dalam perlindungan dan pengawas Allah. Itulah janji Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang memang senantiasa memikirkan bagaimana nasib umat Beliau sepeninggalnya.

Allah SWT berfirman:

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْۘ اِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

wa lā yaḥzunka qauluhum, innal-‘izzata lillāhi jamī‘ā, huwas-samī‘ul-‘alīm

Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Q.S Yunus [10] : 65)

Sebab itu, wahai manusia, beriman dan bertakwalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu takut dan jangan pula kamu bersedih. Dan di manapun kamu berada yakin lah bahwa Allah senantiasa bersamamu (QS. Al-Hadid ayat 4).

Semoga dalam situasi yang masih belum sepenuhnya bebas dari pandemi khususnya, dan disaat bangsa secara umum masih sedang dalam kegelapan, kita tidak larut dalam ketakutan dan kesedihan. Tetaplah optimis bahwa era kegelapan yang sedang berlangsung ini pasti berakhir.

Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Kepadanya sajalah kita berserah diri.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.