banner 970x250

Mencuri Ninja

Mencuri Ninja
Cyber Ninjas mengerjakan perhitungan ulang Pilpres 2020
banner 800x800

Daftar Donatur Peduli Semeru 2021

NoNamaJumlah Donasi
1PW IPHI Jawa TengahRp. 100.000.000
2Dr. H. Hotbonar SinagaRp. 5.000.000
3IPHI Kota BogorRp. 23.000.000
4IPHI PROV BaliRp. 8.000.000
5M. JhoniRp. 4.000.000
6Buchory MuslimRp. 300.000
7Ika DalimoenteRp. 500.000
8SyaefurrahmanRp. 500.000
9Kemas AbdurrohimRp. 200.000
10Ismed Hasan PutroRp. 5.000.000
11Dr. Abidinsyah SiregarRp. 1.000.000
12PW IPHI JatengBeras 1 ton
13A Yani BasukiRp. 1.500.000
14Gatot SalahuddinRp. 500.000
15Sella ArindaRp. 20.000
16Erma annisaRp. 50.000
17HanafiRp. 15.000
18Zakki AshidiqiRp. 100.000
19Pelangi RizqiaRp. 50.000
20Faishal Khairy SentosaRp. 100.000
21Seftario VirgoRp. 50.000
22Detia IndriantiRp. 50.000
23Rizky Pratama Putra SudrajatRp. 50.000
24Annisa Dwita KurniaRp. 50.000
25Hammad Ilham BayuajiRp. 150.000
26WafiqohRp. 50.000
27Saskia RamadhaniRp. 100.000
28Ahmad Betarangga AdnanRp. 30.000
29AlifaRp. 22.000
30GhozanRp. 30.000
31Arnetta Nandy PradanaRp. 70.000
32Salsa Marshanda FARp. 40.000
33Zaki HasibuanRp. 50.000
34Bunga Nisa ChairaRp. 50.000
35Aprilia Nur'aini RizRp. 20.000
36Tasyah Syahriyah NingsihRp. 25.000
37Richy Zahidulaulia Qur'anyRp. 50.000
38Eko SetiawanRp. 100.000
39Nidya waras sayektiRp. 100.000
40Fadilla ChesianaRp. 50.000
41Fadli Yushari EfendiRp. 300.000
42Versi Aulia DewiRp. 50.000
43Muhammad Riduan NurmaRp. 100.000
44Yahya AyyasRp. 100.000
45Meisya Nabila ZahraRp. 20.000
46Almeira Khalinda NoertjahjonoRp. 25.000
47Ammar Fayyat Rp. 50.000
48Ifham Choli Rp. 500.000
49Friska Frasa GemilangRp. 100.000
50Putri DewiRp. 100.000
51Nur ApriziyyahRp. 200.000
52Kusnadi Rp. 100.000
53Erlan Maulana IskandarRp. 150.000
54Nur AzizahRp. 150.000
55Jandri CharlesRp. 50.000
56Delvya Gita MarlinaRp. 125.000
57Samsir IsmailRp. 1.000.000
58Sri PujiyantiRp. 300.000
59Azkia RachmanRp. 50.000
60Arif SutadiRp. 100.000
61Faisal BaihakiRp. 150.000
62Ibu Fadillah IPHI PamekasanRp. 750.000


Hajinews.id – MENDENGAR nama Cyber Ninjas siapa pun akan bilang wow. Mirip ketika saya mendengar ada orang yang tiba-tiba bikin koran dengan nama Buser –Buru Sergap. Atau Harian KPK –lupa kepanjangan dari singkatan itu.

Apalagi CEO Cyber Ninjas itu, Doug Logan, pernah mengatakan ada 30.000 suara yang sangat mencurigakan di dapil Maricopa, Arizona. Logan pun mendapat kontrak: untuk meninjau ulang surat suara di Pilpres Amerika Serikat, November 2020.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Yang memberi order adalah Senat negara bagian Arizona –yang dikuasai Partai Republik.

Sebenarnya hitung ulang sudah pernah dilakukan di distrik itu. Tapi hasilnya tidak memuaskan pendukung mantan Presiden Donald Trump: tetap kalah.

Setelah gagal lagi dan gagal lagi itu perlu usaha yang lebih serius. Jangan lagi sekadar dihitung ulang. Harus dilakukan tinjau ulang sampai detail. Sampai ke sistem komputer penghitungan suara.

Ditunjuklah kontraktor untuk meninjau hasil Pemilu: Cyber Ninjas. Kontraktor mengangkat juga sub-sub kontraktor.

Secara resmi Cyber Ninjas hanya dapat anggaran USD 150.000. Tapi dukungan dari perorangan jauh lebih besar dari itu. Media di Amerika menyebut sampai angka USD 1,5 juta.

Cyber Ninjas adalah perusahaan swasta. Memang bergerak di bidang keamanan cyber. Sebelum dapat order dari Arizona itu praktis tidak ada yang kenal nama Cyber Ninjas. Tapi begitu ditunjuk Arizona, namanya melangit. Termasuk nama Logan sendiri.

Maka semua daerah yang ingin mempersoalkan hasil Pilpres menunggu dengan degup hasil kerja Cyber Ninjas di Arizona. Mereka sudah ancang-ancang untuk juga minta Cyber Ninjas turun tangan di daerah mereka.

Saya kenal baik distrik ini. Kantor pusat Freeport ada di sini. Kota Tempe sangat menyenangkan –tetangga Phoenix itu.

Pokoknya Donald Trump dan pendukungnya di Arizona tetap belum bisa move on. Mereka ngotot Pilpres yang lalu itu penuh kecurangan. Kemenangan Trump telah dirampok. Puluhan ribu suara misterius, ikut memenangkan Joe Biden.

Padahal dari penghitungan ulang di berbagai negara bagian tetap saja sama: Trump kalah. Demikian juga upaya gugatan ke pengadilan di banyak kota: tetap kalah.

Kali ini lain: ninja yang turun tangan. Waktu yang diberikan kepada Cyber Ninjas pun panjang: sejak April tahun 2021.

Hasilnya baru keluar dua hari lalu: Trump kalah.

Tapi Cyber Ninjas tidak mengatakan begitu di laporan akhirnya. Yang dilaporkan adalah: perlunya penyempurnaan sistem Pilpres yang akan datang.

Hasil laporan Cyber Ninjas itu diberikan ke Senat yang memberinya kerja. Tapi beredar juga versi yang sudah ditukangi: Cyber Ninjas telah menemukan berbagai kecurangan sehingga sistem Pilpres mendatang harus disempurnakan.

Saya kagum pada dua-duanya: begitu gigih pihak Trump mempersoalkan hasil Pilpres. Tapi begitu jujur juga Pilpres di sana. Sampai pun diselidiki tingkat ninja tidak juga ditemukan kecurangan.

Padahal sebagian besar surat suara itu dikirim lewat pos. Kok ya jujur semua. Padahal surat suara yang mencurigakan itu sudah disisihkan. Dipilah. Dicocokkan dengan alamat, nomor penduduk sampai pun diselidiki nama orang tua mereka.

Jujur kok sampai segitunya.

Saya pun ingat perbuatan memalukan yang pernah saya lakukan di Amerika. Yang berhubungan dengan ketidakjujuran itu.

Kejadiannya 40-an tahun lalu.

Saya lagi belajar bahasa Inggris di Santa Barbara, pertengahan San Francisco –Los Angeles. Saya tinggal di rumah orang Amerika –kulit putih.

Kejadiannya sendiri di kelas –waktu belajar. Teman sekelas saya dari berbagai negara yang berbahasa non-Inggris.

Saya naik bus kota ke kelas itu. Hari itu saya tidak membawa buku atau kertas.

Ketika ada tugas menulis saya celingukan. Gurunya lagi keluar kelas. Saya lihat begitu banyak kertas di meja guru itu. Saya berdiri untuk mengambilnya satu lembar.

Saat mengambil kertas itulah guru saya masuk kelas. Ia berhenti. Seperti tertegun. Matanya melihat saya. Tatapannya penuh keheranan.

“Anda mengambil kertas dari meja saya?” katanya.

“Iya. Hanya satu lembar,” jawab saya.

“Kenapa tidak minta izin?” katanya lagi.

“Anda lagi tidak ada tadi,” jawab saya.

“Tapi itu kan bukan milikmu?” katanya lagi.

Saya lemas.

Kalimat terakhirnya itu menyadarkan saya bahwa saya telah mencuri. Saya tidak bisa berkata-kata lagi. Saya tahu perbuatan seperti itu tidak bisa dimaafkan. Ditonton pula orang satu kelas.

Mencuri adalah mencuri. Pun satu lembar kertas. Pun saya sudah membayar mahal kursus itu –termasuk membayar mahal guru itu.

Mencuri adalah mencuri.

Pun untuk satu lembar kertas.

Kata-kata itu, peristiwa itu, filsafat kejujuran di baliknya membekas sangat dalam. Melebihi pelajaran fikih Islam yang diajarkan selama 6 tahun di madrasah.

Itu bukan soal dosa.

Itu masalah mengambil barang yang bukan milik saya.

Mencuri adalah mencuri.

Sejak peristiwa itu saya tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Pun sampai pulang. Adegan itu begitu hidupnya di benak saya –sampai pun 40 tahun kemudian.

Saya gagal belajar bahasa Inggris. Saya tetap tidak bisa tahu apa arti ”hotel” yang dimaksud dalam syair lagu Hotel California.

Berkali-kali, selama kursus itu, saya harus mendengarkan lagu tersebut. Di lab bahasanya. Pakai earphone. Tetap tak bisa tahu apa arti kata itu.

Untunglah belakangan ada lagu Hotel Kalioso yang dinyanyikan sebagai Hotel California. Saya mengerti sepenuhnya artinya: kan pakai bahasa Jawa. (Dahlan Iskan)

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *