banner 970x250

Rejeki Boy

Rejeki Boy
Luhut Binsar Panjaitan Jokowi dan Boy Thohir hajinews.id
banner 800x800

Daftar Donatur Peduli Semeru 2021

NoNamaJumlah Donasi
1PW IPHI Jawa TengahRp. 100.000.000
2Dr. H. Hotbonar SinagaRp. 5.000.000
3IPHI Kota BogorRp. 23.000.000
4IPHI PROV BaliRp. 8.000.000
5M. JhoniRp. 4.000.000
6Buchory MuslimRp. 300.000
7Ika DalimoenteRp. 500.000
8SyaefurrahmanRp. 500.000
9Kemas AbdurrohimRp. 200.000
10Ismed Hasan PutroRp. 5.000.000
11Dr. Abidinsyah SiregarRp. 1.000.000
12PW IPHI JatengBeras 1 ton
13A Yani BasukiRp. 1.500.000
14Gatot SalahuddinRp. 500.000
15Sella ArindaRp. 20.000
16Erma annisaRp. 50.000
17HanafiRp. 15.000
18Zakki AshidiqiRp. 100.000
19Pelangi RizqiaRp. 50.000
20Faishal Khairy SentosaRp. 100.000
21Seftario VirgoRp. 50.000
22Detia IndriantiRp. 50.000
23Rizky Pratama Putra SudrajatRp. 50.000
24Annisa Dwita KurniaRp. 50.000
25Hammad Ilham BayuajiRp. 150.000
26WafiqohRp. 50.000
27Saskia RamadhaniRp. 100.000
28Ahmad Betarangga AdnanRp. 30.000
29AlifaRp. 22.000
30GhozanRp. 30.000
31Arnetta Nandy PradanaRp. 70.000
32Salsa Marshanda FARp. 40.000
33Zaki HasibuanRp. 50.000
34Bunga Nisa ChairaRp. 50.000
35Aprilia Nur'aini RizRp. 20.000
36Tasyah Syahriyah NingsihRp. 25.000
37Richy Zahidulaulia Qur'anyRp. 50.000
38Eko SetiawanRp. 100.000
39Nidya waras sayektiRp. 100.000
40Fadilla ChesianaRp. 50.000
41Fadli Yushari EfendiRp. 300.000
42Versi Aulia DewiRp. 50.000
43Muhammad Riduan NurmaRp. 100.000
44Yahya AyyasRp. 100.000
45Meisya Nabila ZahraRp. 20.000
46Almeira Khalinda NoertjahjonoRp. 25.000
47Ammar Fayyat Rp. 50.000
48Ifham Choli Rp. 500.000
49Friska Frasa GemilangRp. 100.000
50Putri DewiRp. 100.000
51Nur ApriziyyahRp. 200.000
52Kusnadi Rp. 100.000
53Erlan Maulana IskandarRp. 150.000
54Nur AzizahRp. 150.000
55Jandri CharlesRp. 50.000
56Delvya Gita MarlinaRp. 125.000
57Samsir IsmailRp. 1.000.000
58Sri PujiyantiRp. 300.000
59Azkia RachmanRp. 50.000
60Arif SutadiRp. 100.000
61Faisal BaihakiRp. 150.000
62Ibu Fadillah IPHI PamekasanRp. 750.000
63Monita Bela DamayantiRp. 250.000
64AnnisaRp. 50.000


Hajinews.id – “Mungkin memang sudah rejeki-nya Boy Thohir“.

Itu bukan guyon. Kalimat itu diucapkan Menko Luhut Binsar Panjaitan di depan presiden, para menteri, gubernur, bupati, dan investor. Yakni saat Menko Marves itu berpidato di acara dimulainya pembangunan kawasan industri hijau di pantai Tanah Kuning, Kalimantan Utara.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

“Sebelumnya kami tidak tahu siapa pemilik tanah kawasan ini. Ternyata milik Boy Thohir,” kata Luhut.

Itulah ciri khas Luhut: blak-blakan. Tidak ada yang disembunyikan. Toh orang juga tahu. Luhut tampak sangat tangkas di umurnya yang 74 tahun. Bukan saja bicaranya, juga gerak tubuhnya. Ia sudah bangkit dari kursinya menuju podium sebelum MC selesai mengundangnya. Lalu berjalan setengah berlari. Salamnya juga simpel, yang cara Islam saja. Kata-katanya tegas dan jelas.

Luhut juga realistis. Di samping soal tanah tadi juga soal waktu. “Sejak tahun 2015, proyek ini seperti telur dan ayam. Muter-muter terus,” katanya. “Investor PLTA menunggu industrinya dibangun. Investor industri menunggu listrik,” tambahnya.

Maka, kata Luhut, harus dilakukan terobosan. “Sebelum PLTA jadi, sementara menggunakan PLTS dan PLTU,” katanya.

Demikian juga soal pabrik baterai. Luhut sangat realistis. “Pabrik baterai yang akan dibangun di sini tidak hanya yang berbahan baku nikel. Sudah ada teknologi non-nikel yang lebih unggul,” tambahnya.

Luhut melapor ke presiden bahwa investor yang hadir di acara itu adalah investor yang serius. Termasuk yang sudah nyata-nyata mau membangun smelter nikel di Sulawesi Tengah. “Ada 10 investor Tiongkok yang hadir di sini, semuanya investor serius,” katanya.

Pidato Boy Thohir juga singkat dan padat. Boy memang bisa jadi jaminan proyek ini bukan kaleng-kaleng. Ia baru saja selesai membangun PLTU 2 unit masing-masing 1000 MW di Batang, Jateng: itu proyek sekitar Rp 30 triliun. Yang di pinggir utara jalan tol antara Pekalongan-Semarang itu.

Boy juga sedang membangun proyek besar di Kaltara yang engineering-nya dilaksanakan oleh salah satu BUMN –sejak sebelum kabinet ini.

“Saya juga sudah bicara dengan Pak TP Rahmat dan Pak Edwin Soeryadjaya. Kami akan merehabilitasi 5.000 hektare hutan bakau di sini,” katanya. Dua nama itu adalah partner Boy Thohir di PT Adaro, produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Di acara minggu lalu itu hanya ada pidato Boy dan Luhut. Lalu pidato Presiden Jokowi. Tidak ada pidato dari pejabat daerah –Bupati Bulungan maupun Gubernur Kaltara.

Di lokasi acara tampak sudah ada berderet solar cell baru. Rupanya belum ada listrik di situ. Pengeras suara dan komunikasi dilistriki dari solar cell itu.

Wartawan Disway Kaltara Khajjah Rohmah, datang ke acara itu lewat darat. Dia bersama pejabat daerah ke sana. Naik mobil dari Tanjung Selor. Selama 3 jam. Tanjung Selor adalah ibu kota Kabupaten Bulungan, sekaligus ibu kota Provinsi Kaltara.

Presiden Jokowi tiba di lokasi dengan helikopter. Demikian juga Boy dan para menteri. Lokasi ini memang jauh dari mana-mana.

Apalagi lokasi PLTA-nya nanti. Makanya membangun PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) di hulu Sungai Kayan itu sulit. Juga sangat mahal. “Biayanya bisa USD 10-15 miliar,” ujar Luhut. Itu berarti sekitar Rp 150 triliun. Untuk PLTA-nya saja.

Bandingkan dengan PLTU 2000 MW milik Boy tadi. Yang ”hanya” Rp 30-an triliun.

Dari segi waktu juga beda jauh. Perkiraan saya, PLTA Kayan itu baru akan selesai 10 tahun lagi. Itu pun baru yang 600 MW. Untuk bisa lebih dari itu perlu membangun PLTA lagi di lokasi lebih hilirnya.

Itu mirip proyek Asahan di Sumut. Yakni di hulu Sungai Asahan. Yang mendapat aliran air dari Danau Toba.

PLTA Asahan-1 –yang paling dekat Danau Toba– berkapasitas 600 MW. Listriknya dialirkan khusus untuk pabrik aluminium milik Jepang di pantai Tanjung Balai.

Itulah yang membuat pabrik aluminium Jepang tersebut berhasil: dapat listrik murah. Padahal tidak ada bahan baku aluminium di Asahan.

Listrik murah lebih menentukan daripada bahan baku –pun bila harus didatangkan dari luar negeri.

Pola Asahan itu yang kelihatannya akan dipakai di KIPI Kaltara. Menurut Boy Thohir, di KIPI juga akan berdiri pabrik aluminium. Tentu orang bertanya-tanya: dari mana bahan bakunya. Itu tidak penting. Yang penting listrik murahnya.

Apa itu KIPI? Saya juga baru tahu: Kalimantan Industri dan Pelabuhan Internasional. Pun sebelum saya hafal singkatan itu kini diganti menjadi Kawasan Industri Hijau Indonesia disingkat KIHI.

“Ini kawasan industri hijau terbesar di dunia,” ujar Boy.

Tentu kalau PLTA-nya sudah jadi kelak. Terutama kalau sudah dibangun Kayan 2 dan 3.

Di Asahan sendiri, belakangan, sudah dibangun PLTA Asahan 2 dan 3. Posisinya beberapa kilometer di hilir Asahan 1. Yang listriknya untuk masyarakat Sumut –lewat PLN.

Pabrik aluminium Jepang itu sendiri kini sudah sepenuhnya milik BUMN: PT Inalum.

Di PLTA Kayan 1 nanti tentu tidak akan mengulang Asahan 1. Yang semua listriknya untuk industri. Desa-desa di sekitar Asahan 1 gelap gulita. Dalam kontrak jual-beli listrik Kayan 1 nanti, bisa disisihkan beberapa sendok listrik untuk masyarakat sekitar.

Saya pun menerima beberapa pertanyaan dari masyarakat di Kaltara: apakah proyek ini akan jadi?

Saya justru balik bertanya: “Kenapa ada pertanyaan seperti itu,” tanya saya.

“Tahun 2015 Presiden juga meresmikan proyek besar di Kaltim. Sampai sekarang tidak jadi,” katanya.

Saya tahu itu: proyek kereta api. Tepatnya kereta api batu bara. Mungkin juga, yang dimaksud itu, kawasan ekonomi khusus Maloy. Yang sangat tersendat. Yang akan ada pabrik semen Tiongkok di situ. Juga akan ada pabrik metanol milik grup Bakrie.

Tapi yang di Kaltara ini, kelihatannya, urusannya bisa lebih simpel: hanya perlu berurusan dengan satu orang pemilik tanahnya. (Dahlan Iskan)

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar