Kenapa Al-Quran Terjaga Keasliannya? Pendekatan dengan Teknologi Blockchain

Kenapa Al-Quran Terjaga Keasliannya?
Kenapa Al-Quran Terjaga Keasliannya?
banner 800x800

Daftar Donatur Peduli Semeru 2021

NoNamaJumlah Donasi
1PW IPHI Jawa TengahRp. 100.000.000
2Dr. H. Hotbonar SinagaRp. 5.000.000
3IPHI Kota BogorRp. 23.000.000
4IPHI PROV BaliRp. 8.000.000
5M. JhoniRp. 4.000.000
6Buchory MuslimRp. 300.000
7Ika DalimoenteRp. 500.000
8SyaefurrahmanRp. 500.000
9Kemas AbdurrohimRp. 200.000
10Ismed Hasan PutroRp. 5.000.000
11Dr. Abidinsyah SiregarRp. 1.000.000
12PW IPHI JatengBeras 1 ton
13A Yani BasukiRp. 1.500.000
14Gatot SalahuddinRp. 500.000
15Sella ArindaRp. 20.000
16Erma annisaRp. 50.000
17HanafiRp. 15.000
18Zakki AshidiqiRp. 100.000
19Pelangi RizqiaRp. 50.000
20Faishal Khairy SentosaRp. 100.000
21Seftario VirgoRp. 50.000
22Detia IndriantiRp. 50.000
23Rizky Pratama Putra SudrajatRp. 50.000
24Annisa Dwita KurniaRp. 50.000
25Hammad Ilham BayuajiRp. 150.000
26WafiqohRp. 50.000
27Saskia RamadhaniRp. 100.000
28Ahmad Betarangga AdnanRp. 30.000
29AlifaRp. 22.000
30GhozanRp. 30.000
31Arnetta Nandy PradanaRp. 70.000
32Salsa Marshanda FARp. 40.000
33Zaki HasibuanRp. 50.000
34Bunga Nisa ChairaRp. 50.000
35Aprilia Nur'aini RizRp. 20.000
36Tasyah Syahriyah NingsihRp. 25.000
37Richy Zahidulaulia Qur'anyRp. 50.000
38Eko SetiawanRp. 100.000
39Nidya waras sayektiRp. 100.000
40Fadilla ChesianaRp. 50.000
41Fadli Yushari EfendiRp. 300.000
42Versi Aulia DewiRp. 50.000
43Muhammad Riduan NurmaRp. 100.000
44Yahya AyyasRp. 100.000
45Meisya Nabila ZahraRp. 20.000
46Almeira Khalinda NoertjahjonoRp. 25.000
47Ammar Fayyat Rp. 50.000
48Ifham Choli Rp. 500.000
49Friska Frasa GemilangRp. 100.000
50Putri DewiRp. 100.000
51Nur ApriziyyahRp. 200.000
52Kusnadi Rp. 100.000
53Erlan Maulana IskandarRp. 150.000
54Nur AzizahRp. 150.000
55Jandri CharlesRp. 50.000
56Delvya Gita MarlinaRp. 125.000
57Samsir IsmailRp. 1.000.000
58Sri PujiyantiRp. 300.000
59Azkia RachmanRp. 50.000
60Arif SutadiRp. 100.000
61Faisal BaihakiRp. 150.000
62Ibu Fadillah IPHI PamekasanRp. 750.000


Oleh: Irwansyah Saputra (Mahasiswa PhD Computer Science, Bidang Kajian Computational Intelligence and Optimization)

Hajinews.id – Lagi rame kan cryptocurrency, mata uang kripto yang sangat berbeda dengan mata uang yang kita yakini setiap hari. Bedanya apa? Kalo mata uang fiat/kertas itu sifatnya sentralisasi, artinya terpusat, ada penjaminnya, dalam banyak kasus penjaminnya itu negara. Makanya di uang kertas ada kalimat “Uang ini sebagai alat pembayaran yang sah”, siapa yang mengesahkan? Ya negara. Kalo negara bilang ga berlaku gimana? Ya ga laku lagi, wong cuma kertas doang, nilainya 100 ribu di uang itu kan semu.
Bedanya dengan mata uang kripto, sifatnya desentralisasi, ini kontra dengan yang sebelumnya. Ga ada penjamin pihak ketiga. Nilainya benar-benar ditentukan oleh mekanisme pasar supply and demand. Ketika orang butuh, maka harganya naik berkali lipat, ketika ga butuh, harganya turun. Karenanya, di Indonesia ini mata uang kripto semacam bitcoin dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan, ya sejenis emas lah, cuma virtual.
“Trus apa hubungannya sama Al-Quran?”
Bentar dulu atuh sabar. Itu prolog intermezo aja untuk menyadarkan kembali dan mendefinisikan ulang tentang arti uang yang sebenarnya. Sistem desentralisasi ini, karena ga ada penjamin pihak ketiga maka yang menjaminnya adalah semua orang yang bergabung dalam jaringan tersebut.
Gini gw kasih contoh paling sederhana. Ada satu rumah yang dihuni oleh 5 orang. Kemudian keluarga tersebut beli apel 10, jeruk 20, semangka 3, pear 13, dimasukkan ke kulkas lalu dicatat semuanya dalam  daftar yang ditempelkan di pintu kulkas. Di malam hari ada penghuni rumah yang berkhianat lalu mengambil buah pear 1 dan mengubah catatan di pintu kulkas. Hebatnya, catatan tersebut seakan ga ada perubahan sama sekali. Esok harinya, ga ada penghuni yang sadar bahwa catatan itu udah diubah. Karena semua orang mempercayakan ingatan mereka pada catatan di pintu kulkas. Inilah yang disebut dengan sistem sentralisasi, kelemahannya di sini.
Bedanya dengan sistem desentralisasi, seluruh buah itu dimasukkan ke kulkas tapi catatannya ga ditempel di pintu kulkas. Catatannya ditulis oleh masing-masing anggota keluarga dan dipegang. Jadi ada 5 catatan. Nah, ketika ada satu orang yang berkhianat lalu mengambil buah pear dan mengubah catatannya sendiri, esok harinya bakal ketauan karena 4 catatan lainnya berbeda dengan punya dia. Jadi, dalam sistem desentralisasi terdapat transparansi, traceability (keterlacakan), minim resiko di-hack atau keliru, meningkatkan kepercayaan para penggunanya. Ini sifat-sifat yang otomatis dimiliki sistem desentralisasi.
Nah sekarang kita masuk ke pembahasan. Hebatnya, di awal turunnya Al-Quran, Rasulullah mengajarkan ayat yang turun dengan cara desentralisasi. Yaitu disimpan pada ingatan banyak sahabat, bukan dicatat, tapi diingat. Karena Al-Quran itu asal katanya dari qa ra a – yaq ra u – qur anan. Artinya bacaan.
Jadi ketika ada sahabat yang lupa atau keliru, mereka bisa mengupgrade hafalannya ke sahabat yang lain sehingga kekeliruannya akan hilang secara otomatis karena diverifikasi oleh yang lain.
Banyaknya sahabat nabi yang menghafal Al-Quran ini secara otomatis menjadi node-node yang terkumpul dalam satu jaringan blockchain yang disebut dengan Penghafal Al-Quran.
Ketika ada yang mau mengubah atau membuat ayat baru, maka akan langsung diketahui oleh node lain (sahabat nabi) dan dinyatakan bahwa itu adalah ayat palsu.
Sifat transparansi ini menyebabkan Al-Quran susah dipalsukan. Sifat traceability (keterlacakan) ini menyebabkan Al-Quran sulit untuk ditambahkan ayatnya atau pun dikurangi. Lalu dengan begitu, otomatis akan meningkatkan kepercayaan orang-orang yang mewariskannya.
“Lalu bagaimana dengan Al-Quran yang dibakar karena tidak sesuai?” itu merupakan lembaran-lembaran dan dialek yang tidak sesuai standar, walaupun isinya sama. Kan di Indonesia juga ada bahasa jawa lembut, kasar, ngapak. Nah waktu itu disepakati menggunakan dialek Quraisy dan dibukukan hingga jadi Mushaf Utsmani. Namun sekali lagi, ini pun sudah menjadi konsensus para node di jaringan blockchain penghafal Al-Quran tadi. Dalam Islam, konsep seperti ini disebut dengan mutawattir.
Ditambah, jaringan blockchain para penghafal Al-Quran hari ini menjadi sangat besar. Maka sungguh sudah sangat mustahil bisa mengubah isi Al-Quran, baik itu menambah ayat atau menguranginya. Kecuali orang tersebut bersusah payah mengubah seluruh ingatan dari seluruh node (para penghafal quran) dalam jaringan blockchain tersebut.
Karenanya, mengingkari orisinalitas Al-Quran hingga hari ini, berarti mengingkari cara berpikir logis. Mengingkari sifat transparansi, traceability, trust yang dimiliki sistem desentralisasi seperti blockchain. Padahal sifat-sifat tersebut adalah sebuah keniscayaan yang secara otomatis muncul akibat mekanisme sistem itu sendiri.
Meningkatnya kepercayaan terhadap Al-Quran seharusnya otomatis muncul karena sama halnya dengan kasus catatan buah di pintu kulkas sebelumnya. Orang akan langsung percaya pada 4 catatan tersisa karena yang berubah hanya 1, dan ini sangat ilmiah juga empiris.
Terhadap 4 catatan saja kita langsung bisa membuktikan bahwa ini benar, apalagi terhadap jutaan orang yang memiliki catatan (hafalan) Al-Quran yang sama dari ribuan tahun yang lalu dan dari berbagai belahan dunia tanpa kurang satu huruf pun hingga hari ini.
Anggap aja gambar di bawaah ini adalah jaringan desentralisasi dari para penghafal Al-Quran.

Blockchain atau semula dieja block chain (Rantai blok), merupakan sebuah buku besar digital terdesentralisasi, terdistribusi dan bersifat publik yang dimanfaatkan untuk mencatat transaksi pada banyak komputer sehingga catatan tersebut tidak dapat diubah secara retroaktif tanpa mengubah seluruh blok setelahnya serta konsensus dalam jaringan. Dengan demikian memungkinkan para peserta untuk memverifikasi dan mengaudit transaksi dengan mudah.

Blockchain dirancang dari awal agar aman (secure by design) dan merupakan contoh sistem komputasi terdistribusi dengan Byzantine Fault Tolerance (BFT) yang tinggi. Konsensus terdesentralisasi dapat dicapai dengan blockchain. Hal ini membuat rantai blok cocok untuk merekam peristiwa, catatan medis, dan aktivitas pengelolaan record lainnya, seperti manajemen identitas, pemrosesan transaksi, dokumentasi barang bukti, ketertelusuran makanan (food traceability), dan pemungutan suara (voting).
Blockchain diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008 dan dimanfaatkan sebagai buku besar untuk transaksi publik mata uang kripto bitcoin. Penemuan blockchain untuk bitcoin menjadikannya mata uang digital pertama yang dapat mengatasi masalah double-spending tanpa memerlukan otoritas tepercaya atau peladen pusat. Desain bitcoin ini juga telah mengilhami aplikasi-aplikasi lain.
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *