Nasionalisme dan Ungkapan Hubbul Wathan minal Iman

Nasionalisme dan Ungkapan Hubbul Wathan minal Iman
Prof Syafiq A. Mughni MA PhD, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Guru Besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
banner 800x800

Daftar Donatur Peduli Semeru 2021

NoNamaJumlah Donasi
1PW IPHI Jawa TengahRp. 100.000.000
2Dr. H. Hotbonar SinagaRp. 5.000.000
3IPHI Kota BogorRp. 23.000.000
4IPHI PROV BaliRp. 8.000.000
5M. JhoniRp. 4.000.000
6Buchory MuslimRp. 300.000
7Ika DalimoenteRp. 500.000
8SyaefurrahmanRp. 500.000
9Kemas AbdurrohimRp. 200.000
10Ismed Hasan PutroRp. 5.000.000
11Dr. Abidinsyah SiregarRp. 1.000.000
12PW IPHI JatengBeras 1 ton
13A Yani BasukiRp. 1.500.000
14Gatot SalahuddinRp. 500.000
15Sella ArindaRp. 20.000
16Erma annisaRp. 50.000
17HanafiRp. 15.000
18Zakki AshidiqiRp. 100.000
19Pelangi RizqiaRp. 50.000
20Faishal Khairy SentosaRp. 100.000
21Seftario VirgoRp. 50.000
22Detia IndriantiRp. 50.000
23Rizky Pratama Putra SudrajatRp. 50.000
24Annisa Dwita KurniaRp. 50.000
25Hammad Ilham BayuajiRp. 150.000
26WafiqohRp. 50.000
27Saskia RamadhaniRp. 100.000
28Ahmad Betarangga AdnanRp. 30.000
29AlifaRp. 22.000
30GhozanRp. 30.000
31Arnetta Nandy PradanaRp. 70.000
32Salsa Marshanda FARp. 40.000
33Zaki HasibuanRp. 50.000
34Bunga Nisa ChairaRp. 50.000
35Aprilia Nur'aini RizRp. 20.000
36Tasyah Syahriyah NingsihRp. 25.000
37Richy Zahidulaulia Qur'anyRp. 50.000
38Eko SetiawanRp. 100.000
39Nidya waras sayektiRp. 100.000
40Fadilla ChesianaRp. 50.000
41Fadli Yushari EfendiRp. 300.000
42Versi Aulia DewiRp. 50.000
43Muhammad Riduan NurmaRp. 100.000
44Yahya AyyasRp. 100.000
45Meisya Nabila ZahraRp. 20.000
46Almeira Khalinda NoertjahjonoRp. 25.000
47Ammar Fayyat Rp. 50.000
48Ifham Choli Rp. 500.000
49Friska Frasa GemilangRp. 100.000
50Putri DewiRp. 100.000
51Nur ApriziyyahRp. 200.000
52Kusnadi Rp. 100.000
53Erlan Maulana IskandarRp. 150.000
54Nur AzizahRp. 150.000
55Jandri CharlesRp. 50.000
56Delvya Gita MarlinaRp. 125.000
57Samsir IsmailRp. 1.000.000
58Sri PujiyantiRp. 300.000
59Azkia RachmanRp. 50.000
60Arif SutadiRp. 100.000
61Faisal BaihakiRp. 150.000
62Ibu Fadillah IPHI PamekasanRp. 750.000
63Monita Bela DamayantiRp. 250.000
64AnnisaRp. 50.000


Oleh Prof Syafiq A. Mughni MA PhD, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Guru Besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Hajinews.id – Rasa nasionalisme telah ada sejak zaman dahulu kala. Nasionalisme lama diikat oleh kesamaan suku. Orang mencintai sukunya dan memiliki loyalitas yang kuat terhadap kelompok sukunya.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Di Arabia dulu, nasionalisme seperti ini disebut dengan ashabiyah jahiliyah (fanatisme jahiliyah); disebut juga dengan ashabiyah qabaliyah (fanatisme kesukuan).

Pada zaman Nabi dan Khulafa’ Rasyidun, fanatisme tersebut dihilangkan dan diganti dengan loyalitas kepada agama Islam. Tetapi, setelah itu, nasionalisme kesukuan kambuh kembali dengan lahirnya dinasti-dinasti, seperti Amawiyah, Abbasiyah, dan Usmaniyah.

Nasionalisme lama juga muncul dalam bentuk lain, misalnya ikatan agama, bahasa, atau budaya. Nasionalisme tersebut dijunjung tinggi lebih daripada ikatan lain.

Nasionalisme Modern

Nasionalisme modern baru muncul pada abad XVII. Ia pertama kali muncul di Eropa, kemudian menjalar ke benua lainnya. Nasionalisme modern tidak lagi didasarkan atas kelompok yang terikat dengan hubungan darah atau agama, tetapi atas kelompok yang lebih luas.

Nasionalisme modern lebih merupakan produk dari rekayasa sosial daripada perasaan alamiah. Ia lebih merupakan produk propaganda yang diciptakan, ia bergantung pada kesadaran akan tujuan yang sama.

Nasionalisme modern menggunakan kesamaan nasib atau tanah tempat tinggal sebagai pengikat untuk membentuk sebuah bangsa. Indonesia, misalnya, terdiri dari banyak suku, agama, dan bahasa. Tetapi karena sama-sama dijajah oleh Belanda, dan tinggal di wilayah yang berdekatan, maka terbentuklah bangsa Indonesia dengan nasionalismenya (semangat kebangsaannya).

Misionaris Butrus Bustani

Nasionalisme modern masuk ke Timur Tengah pada abad XIX ketika wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Usmani. Pada saat itu muncul para nasionalis yang ingin menjadikan Arabisme sebagai kekuatan yang menyatukan bangsa Arab dan melepaskannya dari kekuasaan Turki Usmani.

Banyak tokoh nasionalis yang lahir, seperti Butrus Bustani (1819-1883) dan Nashif Yaziji (1800-1871). Butrus Bustani adalah seorang misionaris Protestan dan nasionalis Arab yang berpengaruh di Lebanon dan Syria. Ia dikenal lewat majalah yang ia terbitkan. Namanya Nafir Suriya pada 1860an.

Butrus Bustani mempromosikan semboyan Hubbul Wathan minal Iman untuk membangkitkan nasionalisme Arab. Bersama Nashif Yaziji, Butrus Bustani berusaha menggelorakan nasionalisme melalui gerakan penulisan dan pendidikan.

Kegiatannya dalam dunia misionaris pun akhirnya ditinggalkan karena sibuk membangkitkan semangat nasionalisme Arab. Ia ingin mengembalikan kejayaan Arab masa lampau. Kegigihannya untuk membangkitkan kembali kejayaan Bahasa Arab juga diwujudkan dalam bentuk kerja sama dengan sahabatnya Nashif Yaziji untuk menerjemahan Bibel ke dalam Bahasa Arab.

Nashif Yaziji adalah seorang pemikir dan penulis Katholik, yang bersama Butrus Bustani menjadi tokoh utama dalam Gerakan Nahdlah (kebangkitan).

Semboyan “cinta tanah air” itu tidak hanya diartikan secara fisik, tempat tinggal. Tanah tempat tinggal yang dicintai mengandung nilai-nilai yang dicintai pula.

Bagi Butrus Bustani dan Nashif Yaziji, nilai-nilai itu bukan agama. Nilai-nilai itu adalah kebangsaan Arab dan kebudayaannya, termasuk bahasa. Orang-orang Arab harus memiliki kebanggaan sebagai Arab, dan bertanggung jawab untuk melepaskan diri dari kekuasaan bangsa lain. Apapun agamanya orang Arab harus memiliki kebangaan yang sama, yakni nasionalisme Arab.

Hubbul Wathan minal Iman Bukan Hadits

Butrus Bustani merupakan intelektual yang memopulerkan semboyan Hubbul Wathan minal Iman. Artinya, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Semboyan ini menjadi sangat popular karena diperkenalkan dalam tulisan-tulisan yang dipublikasikan oleh Gerakan Nahdlah.

Kata-kata itu sangat terkenal di kalangan pejuang-pejuang nasionalis. Begitu terkenalnya sehingga banyak orang mengira itu adalah hadis padahal bukan, karena tidak otentik dari Nabi.

Rasanya banyak sekali kata-kata mutiara yang bernasib sama, menjadi populer sehingga dikira hadis sahih dari Nabi. Nasibnya sama seperti an-Nadhafatu Minal Iman (kebersihan bagian dari iman) dan Uthlubul Ilma walau bis Shin (carilah ilmu hatta di negeri China). Bahkan, tidak jarang ulama atau penceramah menyebut kata-kata itu sebagai hadis.

Bisa jadi orang mencampuradukkan antara hadis dan lainnya (termasuk hadis maudlu’) karena ketidaktahuan. Tetapi, itu juga bisa karena kesengajaan untuk meyakinkan orang banyak.

Tampaknya umat Islam di Arab terkesima dengan kata-kata itu. Para nasionalis Arab menjadikan kata-kata seolah-olah hadis sahih itu sebagai senjata pamungkan untuk menaklukkan ideologi tandingan. Lama-lama orang di negeri lain, termasuk Indonesia, dengan enteng menyebutnya sebagai hadis yang sahih. Sesungguhnya mencintai apa pun yang halal tidak masalah sepanjang tidak berlebih-lebihan.

Namun, tidak perlu menaikkan kata-kata orang biasa ke pangkat hadis Nabi. Cinta tanah air, cinta bahasa, cinta kampung halaman, dan cinta sesama teman adalah hal yang wajar.

Kecintaan itu akan membawa solidaritas untuk memperkokoh ketahanan diri dan menguatkan kerja sama untuk kebaikan. Kecintaan itu harus didasarkan pada nilai-nilai kebajikan dan kebenaran. Hanya dengan itu cinta tanah air akan menjadi kekuatan konstruktif, dan bukan kekuatan destruktif. (*)

 

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *