Hikmah Malam : 5 Ayat Al-Quran Tentang Ibu, Sosok yang Sangat Mulia


banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Hajinews.id – Kasih sayang dan perhatian penuh yang diberikan orangtua kepada anak patutlah kita terima dengan kasih sayang pula. Sayangnya, hal tersebut seringkali mudah diabaikan oleh anak.

Pengorbanan yang dilakukan orangtua kepada anaknya tentu begitu besar. Maka, sudah sepatutnya pula seorang anak untuk berbakti kepada orangtuanya. Seorang anak yang orangtuanya masih hidup, tetapi sedikit amal baktinya, maka Islam menyebut anak tersebut golongan yang merugi.

Bacaan Lainnya

Dalam kehidupan modern ini, banyak sekali nilai berharga yang telah dilupakan. Padahal Islam mengajarkan selalu menghormati dan mentaati orangtua.

Perlu untuk kamu ketahui, di dalam Al-Quran, ibu mendapatkan posisi yang sangat mulia, sehingga anak diwajibkan hormat kepada ibu terlebih dahulu, sebelum kepada ayah. Karena ibu merupakan sosok yang sangat istimewa. Bahkan, hal tersebut dijelaskan dalam suatu hadis yang berbunyi,

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR Al Bukhari)

Inilah mengapa, berbakti kepada ibu merupakan salah satu amalan utama yang sangat ditekankan dalam Islam. Juga dijelaskan dalam kitab suci Al-Quran.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut beberapa ayat Al-Quran tentang derajat kemuliaan ibu. Simak di sini, yuk.

1. QS. An-Nur ayat 61

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 61 yang berbunyi:

لَّيْسَ عَلَى ٱلْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَن تَأْكُلُوا۟ مِنۢ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَٰنِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَٰمِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَٰلِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا۟ جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Laisa ‘alal-a’maa harajuw wa laa ‘alal-a’raji harajuw wa laa ‘alal-mariidi harajuw wa laa ‘alaa anfusikum an ta`kuluu mim buyutikum au buyuti aabaa`ikum au buyuti ummahaatikum au buyuti ikhwaanikum au buyuuti akhawaatikum au buyuti a’maamikum au buyuti ‘ammaatikum au buyuti akhwaalikum au buyuti khaalaatikum au maa malaktum mafaatihahuu au sadiiqikum, laisa ‘alaikum junaahun an ta`kulu jamii’an au asytaataa, fa izaa dakhaltum buyutan fa sallimu ‘alaa anfusikum tahiyyatam min ‘indillaahi mubaarakatan tayyibah, kazaalika yubayyinullaahu lakumul-aayaati la’allakum ta’qilun.

Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

2. QS. Luqman ayat 14-15

Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 14-15 yang berbunyi:

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Wa wassainal-insaana biwaalidaiih, hamalat-hu ummuhu wahnan ‘alaa wahniw wa fisaaluhu fii ‘aamaini anisykur lii wa liwaalidaiik, ilayyal-masiir.

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Wa in jaahadaaka ‘alaa an tusyrika bii maa laisa laka bihii ‘ilmun fa laa tuti’humaa wa saaḥib-humaa fid-dun-yaa ma’rufaw wattabi’ sabiila man anaaba ilayy, summa ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimaa kuntum ta’malun.

Artinya: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

3. QS. Ali Imran ayat 35-36

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 35-36 yang berbunyi:

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Iz qaalatimra`atu ‘imraana rabbi innii nazartu laka maa fii batnii muharraran fa taqabbal minnii, innaka antas-samii’ul-‘aliim.

Artinya: (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Fa lammaa wada’at-haa qaalat rabbi innii wada’tuhaa unṡaa, wallaahu a’lamu bimaa wada’at, wa laisaz-zakaru kal-unsaa, wa innii sammaituhaa maryama wa innii u’iizuhaa bika wa zurriyyatahaa minasy-syaitaanir-rajiim.

Artinya: Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.

4. QS. Al-Qashash ayat 9-13

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 9-13 yang berunyi:

وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّى وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوْ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Wa qaalatimra`atu fir’auna qurratu ‘ainil lii wa lak, laa taqtuluhu ‘asaa ay yanfa’anaa au nattakhizahu waladaw wa hum laa yasy’urun.

Artinya: Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَٰرِغًا ۖ إِن كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِۦ لَوْلَآ أَن رَّبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Wa asbaha fu`aadu ummi musaa faarigaa, ing kaadat latubdii bihii lau laa ar rabatnaa ‘alaa qalbihaa litakuna minal-mu`miniin.

Artinya: Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِۦ قُصِّيهِ ۖ فَبَصُرَتْ بِهِۦ عَن جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Wa qaalat li`ukhtihii qussiih, fa basurat bihii ‘an junubiw wa hum laa yasy’urun.

Artinya: Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.

وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ ٱلْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰٓ أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُۥ لَكُمْ وَهُمْ لَهُۥ نَٰصِحُونَ

Wa harramnaa ‘alaihil-maraadi’a ming qablu fa qaalat hal adullukum ‘alaa ahli baitiy yakfulunahu lakum wa hum lahu naasihun.

Artinya: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”

فَرَدَدْنَٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ كَىْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Fa radadnaahu ilaa ummihii kai taqarra ‘ainuhaa wa laa tahzana wa lita’lama anna wa’dallaahi ḥaqquw wa laakinna aksarahum laa ya’lamun.

Artinya: Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

5. QS. Maryam ayat 32

Allah SWT berfirman dalam QS. Maryam ayat 32 yang berbunyi:

وَبَرًّۢا بِوَٰلِدَتِى وَلَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا

Wa barram biwaalidatii wa lam yaj’alnii jabbaaran syaqiyyaa.

Artinya: Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Nah, itulah beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan derajat kemuliaan seorang ibu. Semoga kita sebagai anak dapat terus berbakti kepada orangtua.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.