Tafsir Al-Quran Surat Asy-Syura ayat 13-15: Tauhidullah Inti Ajaran Para Rasul

Tafsir Al-Quran Surat Asy-Syura
KH Didin Hafidhuddin
banner 800x800

Daftar Donatur Peduli Semeru 2021

NoNamaJumlah Donasi
1PW IPHI Jawa TengahRp. 100.000.000
2Dr. H. Hotbonar SinagaRp. 5.000.000
3IPHI Kota BogorRp. 23.000.000
4IPHI PROV BaliRp. 8.000.000
5M. JhoniRp. 4.000.000
6Buchory MuslimRp. 300.000
7Ika DalimoenteRp. 500.000
8SyaefurrahmanRp. 500.000
9Kemas AbdurrohimRp. 200.000
10Ismed Hasan PutroRp. 5.000.000
11Dr. Abidinsyah SiregarRp. 1.000.000
12PW IPHI JatengBeras 1 ton
13A Yani BasukiRp. 1.500.000
14Gatot SalahuddinRp. 500.000
15Sella ArindaRp. 20.000
16Erma annisaRp. 50.000
17HanafiRp. 15.000
18Zakki AshidiqiRp. 100.000
19Pelangi RizqiaRp. 50.000
20Faishal Khairy SentosaRp. 100.000
21Seftario VirgoRp. 50.000
22Detia IndriantiRp. 50.000
23Rizky Pratama Putra SudrajatRp. 50.000
24Annisa Dwita KurniaRp. 50.000
25Hammad Ilham BayuajiRp. 150.000
26WafiqohRp. 50.000
27Saskia RamadhaniRp. 100.000
28Ahmad Betarangga AdnanRp. 30.000
29AlifaRp. 22.000
30GhozanRp. 30.000
31Arnetta Nandy PradanaRp. 70.000
32Salsa Marshanda FARp. 40.000
33Zaki HasibuanRp. 50.000
34Bunga Nisa ChairaRp. 50.000
35Aprilia Nur'aini RizRp. 20.000
36Tasyah Syahriyah NingsihRp. 25.000
37Richy Zahidulaulia Qur'anyRp. 50.000
38Eko SetiawanRp. 100.000
39Nidya waras sayektiRp. 100.000
40Fadilla ChesianaRp. 50.000
41Fadli Yushari EfendiRp. 300.000
42Versi Aulia DewiRp. 50.000
43Muhammad Riduan NurmaRp. 100.000
44Yahya AyyasRp. 100.000
45Meisya Nabila ZahraRp. 20.000
46Almeira Khalinda NoertjahjonoRp. 25.000
47Ammar Fayyat Rp. 50.000
48Ifham Choli Rp. 500.000
49Friska Frasa GemilangRp. 100.000
50Putri DewiRp. 100.000
51Nur ApriziyyahRp. 200.000
52Kusnadi Rp. 100.000
53Erlan Maulana IskandarRp. 150.000
54Nur AzizahRp. 150.000
55Jandri CharlesRp. 50.000
56Delvya Gita MarlinaRp. 125.000
57Samsir IsmailRp. 1.000.000
58Sri PujiyantiRp. 300.000
59Azkia RachmanRp. 50.000
60Arif SutadiRp. 100.000
61Faisal BaihakiRp. 150.000
62Ibu Fadillah IPHI PamekasanRp. 750.000


Ta’lim Bakda Subuh

Oleh: KH Didin Hafidhuddin
Ahad, 2 Januari 2022

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Disarikan oleh: Prof. Dr. Bustanul Arifin

Hajinews.id – Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Kita bersyukur kepada Allah SWT pada Ahad pagi ini, tanggal 28 Jumadil Awal 1443 H bertepatan dengan tanggal 2 Januari 2022, kembali kita dapat bersilaturrahum secara virtual, dalam rangka meneruskan kajian kita, mendalami ayat-ayat Allah. Insya Allah kita akan membahas Surat Asy-Syura ayat 13-15. Kita mulai dengan membaca Ummul Kitab Surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan Surat Asy-Syura ayat 13-15, yang artinya, “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad), benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Kitab (Al-Qur’an) itu. Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.”

Ada beberapa pelajaran penting dari Surat As-Syura 13-15 yang kita baca di atas. Setidaknya ada tiga pelajaran yang penting: Pertama, ajaran para nabi dan Rasul adalah sama, yaitu ketauhidan dan keta’atan kepada Allah SWT. Tugas ini sejalan dengan tujuan diciptakannya kita manusia (dan jin), yaitu untuk menyembah atau beribadah kepada Allah SWT. Dua hal tidak dapat dipisahkan, ketauhidan dan kepatuhan. Lima Rasul yang utama atau Ulul Azmi atau sering disingkat NIMIM= Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahin AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW, yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Mereka adalah tokoh atau pemimpin yang memiliki kesabaran luar biasa, memiliki syariat yang agung. Pada setiap Rasul yang lima di atas terdapat perbedaaan, dalam menjalankan syariat islam, termasuk syariat baru. Misalnya, pada Nabi Musa AS, ajaran puasa dijalankan dalam tiga bulan. Pada masa Nabi Muhammad SAW puasa Ramadhan diperintah hanya satu bulan. Ketauhidan dan ketaatan itu akan menghasilkan keselamatan, ketenangan, dan kebahagiaan.

Perhatikan Surat Al-A’raf ayat 157. “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung”. Nama Nabi Muhammad SAW sebenarnya sudah tertulis sejak di Kitab Taurat dan Kitab Injil, karena ajaran amar ma’ruf itu ujungnya adalah ketenangan, kebahagiaan hidup. Ajaran yang lain adalah nahi munkar, mencegah perbuatan yang merusak. Semua yang diperintahkan agama adalah kebaikan. Semua yang dilarang agama adalah kerusakan. Para Rasul itu mengharamkan sesuatu yang merusak, yang menjijikkan. Ajaran agama juga menghilangkan belenggu dari kehidupan manusia. Misalnya, perbudakan. Perbudakan itu dihilangkan oleh ajaran islam, walau pada masa awal-awal islam, perbudakan masih dibolehkan. Agama meerintahkan untk menegakkan kebaikan atau menyuruh berbuat baik, dan menghilangkan segala macam bentuk yang mengekang kehidupan manusia. Ajar lain adalah hendaklah kalian melaksanakan agama dan jangan bercerai-berai karena itu akan memperlemah persatuan dan kesatuan.

Di dalam ayat-ayat dalam Surat Asy-Sura selenjutnya, terdapat beberapa kelompok manusia yang benci pada ajara islam. Bahkan, mereka (Ahli Kitab) itu sebelumnya tidak berpecah belah. Tapi, setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Mereka bukannya tidak tahu, karena di dalam ajaran kitab-kitab terdahulu telah dijelaskan, tapi karena ada kedengkian kepada pembawa risalah, kepada para da’i, kepada para alim ulama, yang mengajak amar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka hasud dan dengki, karena hawa nafsu. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Jika hari kita menghadapi perlakuan seperti itu, sampaikan identitas kita islam, tidak perlu ragu. Namun demikian, kita tetap berlaku adil dan belaku baik, termasuk kepada orang yang benci dan dengki kepada kita. Bagimu, agamamu, bagiku agamaku. Bagimu amal perbuatanmu, dan bagiku amal perbuatanku.

Menjawan pertanyaan bahwa TNI dan ummat islam merupakan benteng terakhir dari NKRI. Tidak dapat dimungkiri bahwa yang paling berjasa dalam perjuangan bangsa Indonesia adalah ummat islam dengan para pejuang di medan perang. Untuk membangun negara kita tercinta ini, kita memerlukan TNI, ummat islam dan unsur-unsur lain. Agama itu perlu dijadikan inti utama dari pembangunan bangsa ini, karena kita berdasarkan Pancasila, dan sila pertama adalah “Ketuhanan Yang Mahaesa. Agama itu yang mempengaruhi struktur berfikir bangsa Indonesia. Panglima Besar Jenderal Soedirman itu adalah seorang ustadz, alim ulama, bahkan selalu berpuasa sunnah dan tidak istiqamah menjalankan ibadah dan syariah islam.

Menjawab pertanyaan tentang Nabi Isa AS sebenarnya mengajarkan tauhid, mengapa sekarang menjadi Trinitas? Ajaran agama yang dibawa Nabi Isa AS adalah ketauhidan, untuk melakukan penyembahan dan ketaatan kepada Allah SWT. Mengapa sekarang berubah, sangat mungkin itu karena ada yang menyelewengkan ajaran itu, mungkin karena hasad dan dengki, seperti dijelaskan banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Quran.

Menjawab pertanyaan tentang apakah kita ummat islam wajib membaca Kitab Taurat dan Kitab Injil, apakah membaca kitab-kitab itu juga dapat pahala? Ajaran dalam Kitab Taurat dan Ajaran dalam Kitab Injil semua tercakup di dalam Al-Quranul Karim. Kitab Injil dan Kitab Taurat yang asli sudah dicakup di dalam Al-Quran. Membaca dan mempelajari kitab-kita itu boleh saja. Jika ajaran-ajaran yang ada di dalam Taurat dan Injil itu bertentangan dengan yang ada di dalam Al-Quran, ya tidak perlu diiukuti.

Menjawab pertanyaan apakah kita tidak boleh menjalankan syariat Nabi-nabi terdahulu, misalnya karena Rasulullah SAW, seperti puasa Nabi Dawud AS. Rasulullah SAW sebenarnya telah mensyariahkan beberapa ajaran nabi-nabi terdahulu, walaupun dengan beberapa penyempurnaan. Puasa sunnah itu adalah ibadah yang juga dikerjakan oleh para nabi terdahulu. Puasa sunnah tiga hari di tengah bulan (yaumil bidh) atau puasa sunnah selang-seling serhari.

Menjawab pertanyaan apakah saat ini telah terjadi penjajahan secara ekonomi saat ini? Ummat islam harus punya kekuatan ekonomi sendiri, menjadi bangsa yang merdeka, sehingga kita tidak dikendalikan oleh bangsa-bangsa lain. Generasi muda perlu memperhatikan hal ini, karena penguasaan ilmu dan pengetahuan menjadi sangat penting bagi perjalanan perjuangan bangsa ke depan.

Menjawab pertanyaan tentang mengapa ada sejumlah kelompok dalam islam yang berbeda satu sama lain, sementara kita diperintahkan untuk tidak bercerai-berai. Kita diperintah menjadi bagian yang mempersatukan itu, jangan menjadi kelompok yang berpecah. Kita perlu sadar bahwa persatuan dan kesatuan ummat tidak terjadi dengan sendirinya, selalu banyak godaan dan cobaan untuk mempersatukan ummat islam. Pertama, menyatukan hati kita sesama muslim, saling berprasangka baik sesama muslim, saling mendoakan sesama muslim. Dimulai dari kompleks kita sendiri. Jika kita terbaisa shalat bersama di masjid, nanti akan terjadi suatu kesamaan hati, kita ruku’ bersama dan sujud bersama. Kedua, menyatukan pikiran (fikrah), visi dan misi pokok dari ajaran islam, misi perdamaian, misi pembangunan, karakter bangsa dan lain-lain. Ketiga, menyatukan gerakan atau amaliah bersama. Kita bersama-sama membangun kekuatan, paling tidak di lingkungan kompleks kita. Jika setiap DKM masjid itu saling bersatu, saling mengenal dan bersama berjuang dengan agenda yang lebih luas dan strategis, maka persatuan dan kesatuan islam dapat terjadi. Kita sekarang perlu mengubah cara berfikir bukan sekadar bertanya mengapa ummat islam tidak bersatu, tapi diubah menjadi apa yang dapat dilakukan agar terjadi persatuan dan kesatuan ummat islam.

Menjawab pertanyaan, apakah mengucapkan salam selain Assamualaikum Wr Wb, seperti salamnya non-muslim dapat melunturkan ketauhidan kita? Salam itu adalah identitas. Ajaran islam mengajarkan doa melalui salam. Keselamatan dan keberakahan langsung dikaitkan dengan Allah SWT. Entah mengapa, kita kadang merasa tidak cukup dengan petunjuk yang ada, yang diajarkan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Kita yang mendengar ucapan salam itu, wajib menjawab salam yang lebih baik. “Wa ‘alaikumussalam Wr. Wb.”

Menjawab pertanyaan bagaimana mengucapkan salam kepada non-muslim? Ucapan salam “Assalamu’alaikum Wr. Wb.” itu adalah ucapan di antara sesama muslim. Kita mendoakan kepada teman non-muslim, selama masih hidup, boleh saja. Boleh ucapkan salam dengan cara yang umum, seperti selamat pagi, selamat malam, dll. Itu jika kita berdua dengan teman non-muslim. Tapi, jika kita akan berucap salam dengan atau kepada banyak orang dan kita paham di sana ada yang muslim, dianjurkan mengucapkan “Assalmu’alaikum Wr. Wb.”

Menjawab pertanyaan bahwa ajaran nabi-nabi itu sama, walau akhir-akhir ini ada yang mensosialisasikan bahwa ISNUS lebih sesuai di Indonesia. Di mana-mana islam itu ya sama. Janganlah disebut islam nusantara. Islamnya sama, shalatnya sama, zakatnya sama, puasanya sama. Apa yang kita inginkan adalah ketenangan hidup, kebahagiaan dunia dan akhirat, seperti diperintahkan dalam Al-Quran dan ajaran Rasulullah SAW. Kita jangan membuat sesuatu yang menyusahkan kita sendiri. Kalau istilahnya ummat muslim di Indonesia, ummat muslim di Nusantara, boleh saja. Kalau Islam di Nusantara ya boleh saja. Hakikatnya adalah satu kesatuan ajaran islam di Indonesia.

Mari kita berdoa dan membaca Ummul Kitab kepada Saudara-Saudara kita yang telah dipanggil oleh Allah SWT. Inna lillah wa inna ilaihi rojiun. Kita juga mendoakan teman-teman dan jamaah kita yang sedang sakit, semoga Allah SWT segera mengangkat penyakitnya, sehingga beliau-beliau dapat sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala. Mari kita tutup pengajian kita dengan doa kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruuka wa atuubu ilaika”. Demikian catatan ringkas ini. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh hadirin yang sempat mengikuti Ta’lim Bakda Subuh Professor Didin Hafidhuddin tadi. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *