Langkah Internasionalisasi Ideologi Muhammadiyah di Masa Pandemi Covid-19

Langkah Internasionalisasi Ideologi Muhammadiyah
Langkah Internasionalisasi Ideologi Muhammadiyah
banner 800x800

banner 800x800



Oleh: Indra Yogaswara, Mahasiswa Prodi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang

Hajinews.id – Siapa yang tidak kenal dengan Muhammadiyah, Muhammadiyah adalah organisasi social terbesar di Indonesia. Di era globalisasi ini, Muhammadiyah sebagai Gerakan dan organisasi social menghadap tantangan yang semakin berat. Muhammadiyah berdiri sejak tahun 1912, atau telah 100 tahun lebih lamanya menghadapi tantangan untuk ikut berpartisipasi dalam internasionalisasi. Kita sebagai umat muslim di Indonesia berharap agar Muhammadiyah dapat mendobrak pagar kokoh ini sehingga dapat segera menciptakan internasionalisasi ini, tidak hanya khusus melayani local ke-Indonesiaan. Saat ini mulai muncul intelektual dari negara barat yang tertarik dengan pemikiran Isalm di Indonesia, utamanya Muhammadiyah, namun Muhammadiyah saat ini telah menetapkan beberapa upaya-upaya strategis untuk melakukan ekspansi ideologis ke jaringan yang lebih luas.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Amin Abdullah pernah menulis persoalan internasionalisasi pemikiran Islam Indonesia, utamanya tentang Muhammadiyah. Menurutnya, banyak ide-ide baru yang bisa bermunculan di panggung internasional dari karakteristik pemikiran Muhammadiyah. Sebagai contoh, hubungan agama (Islam) dengan adat budaya daerah setempat yang sangat kental, seni, budaya dan lain – lain.

Ide – ide ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh Muhammadiyah dan umat islam yang lain di Indonesia. Menurut Amin, dengan berbagai perguruan tinggi yang dimilikinya, lembaga-lembaga penelitian yang ada di dalamnya, jaringan yang tersebar di berbagai wilayah, dan jumlah dosen yang begitu banyak, Muhammadiyah dapat secara serentak seirama bersama-sama melakukan internasionalisasi pemikiran Islam Berkemajuan.

Ide lain dari Internasionalisasi Muhammadiyah yang juga sering dipahami adalah keikutsertaan Muhammadiyah dalam berbagai organisasi internasional atau aktivitas di luar negeri. Ini misalnya seperti yang dilakukan oleh beberapa pimpinan Muhammadiyah seperti Din Syamsuddin, Abdul Mu’ti, dan Syafiq Mughni. Mereka terlibat dari beberapa pertemuan agama tingkat dunia, berbicara tentang Islam Indonesia di beberapa forum internasional, dan terlibat dalam aksi kemanusiaan serta filantropi dengan berbagai negara di dunia.

Realisasi Internasionalisasi Muhammadiyah

Saat ini Muhammadiyah telah melakukan beberapa langkah-langkah strategis untuk mewujudkan cita-cita besar itu. Hal tersebut dapat dilihat dari tiga faktor, di antaranya:

Pertama, semakin banyaknya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai belahan dunia. Ada beberapa dalasan mengapa Muhammadiyah di luar negeri perlu didirikan. Pertama, perlunya memperluas dakwah perjuangan Islam yang rahmatan lil alamin dalam perspektif Muhammadiyah tidak hanya di negara Indonesia tetapi ke berbagai negara. kemudian banyaknya kader, anggota dan warga Muhammadiyah yang menyebar ke berbagai negara baik karena alasan studi maupun kerja dan mereka memerlukan ruang untuk berorganisasi. Atas dasar alasan dan tujuan di atas tersebut, pada akhirnya Muhammadiyah di luar negeri dinamakan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan tersebar di berbagai negara, seperti Jepang, Vietnam, Inggris, Amerika, Mesir, dan Belanda. Inilah makna pertama dari internasionalisasi Muhammadiyah yang selama ini sering dipahami. Anggota berbagai PCIM itu, misalnya, masih didominasi oleh orang Indonesia yang kebetulan berada di luar negeri seperti pelajar, pekerja, dan istri atau suami orang asing. Karena itu seringkali aktivitasnya sangat tergantung dari luangnya waktu kuliah atau bekerja.

Kedua, Muhammadiyah berupayan untuk melakukan publikasi wacana melalui jurnal internasional. Saat ini Muhammadiyah makin gencar untuk menyebarkan paham Islam dengan ke jejaring yang lebih luas dnegan melalui jurnal internasional. Meskipun belum optimal, Muhammadiyah percaya akan proses dan terus berupaya untuk menggalakkan cita-cita ini agar cendekiawan lintas negara tahu dan memahami arti penting Muhammadiyah untuk semesta.

Ketiga, upaya pengenalan Muhammadiyah di bidang Pendidikan, seperti contohnya di Malaysia dan Australia. Muhammadiyah sedang menunggu dokumen legal mengenai ijin pemberdayaan dan pembangunan (Planning Permit) dari pemerintah Australia untuk mendirikan Muhammadiyah Australia College (MAC). Planning Permit adalah dokumen legal mengenai ijin pemberdayaan dan pembangunan suatu lahan di wilayah Australia dengan berbagai pertimbangan efek ekologis, ekosistem dan sosial. Selain itu di Malaysia, Maszlee Malik selaku Menteri Pendidikan Malaysia menyikapi dan menyambut rencana pendirian Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) dengan tangan terbuka. Nantinya, UMAM akan bersifat terbuka untuk semua negara dan kebangsaan sebagai wujud pendidikan inklusif bagi semua di ranah global.

Langkah Awal Internasionalisasi Muhammadiyah

Dalam 2 tahun terakhir ini, dunia bersama-sama terluka dalam perihnya gelombang wabah covid-19, dunia yang ramai tiba-tiba sunyi dan terdiam. Pandemi Covid-19 mendisrupsi hampir seluruh aktifitas beragam industri termasuk dalam bidang pendidikan. Perubahan iklim pendidikan dipaksa untuk berubah dan segera menyesuaikan dengan keadaan. Di dalam hal ini, kolaborasi menjadi kunci menghadapi disrupsi termasuk di dalam bidang pendidikan, kerjasama yang luas akan memacu semangat berkompetisi dalam riset, kajian, pembelajaran, dan pengembangan pendidikan. Perluasan jejaring harus dikembangkan agar kampus-kampus dapat menyerap keunggulan dan mitra potensial.

Langkah Muhammadiyah membangun kerjasama pendidikan dengan mitra di Malaysia adalah respon tepat dan efektif atas tuntutan perubahan. Sebanyak 177 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah menjadi bukti peran Muhammadiyah dalam pendidikan. Kini tantangan Muhammadiyah adalah meningkatkan kualitas dan membangun kerjasama yang luas. Kerjasama dengan negeri jiran Malaysia menjadi salah satu penanda langkah Muhammadiyah dalam menjawabnya. Kehadiran Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) akan mengkokohkan hubungan Indonesia dengan Malaysia, hubungan yang tulus dan produktif menuju kemajuan. Kerjasama dinamis menuju terbangunnya pusat keunggulan di Asia Tenggara. Menurut Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, pendirian UMAM dimaksudkan sebagai upaya perluasan gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa dan pengembangan pendidikan tinggi di ranah global.

Muhammadiyah memiliki beberapa alasan strategis ketika merintis kerjasama pendidikan dengan mitra di Malaysia. Pertama adalah persamaan bangsa serumpun dengan Malaysia di mana hubungan antara dua negara dipenuhi dengan warna dan semangat kesamaan ini perlu dirajut kembali. Kedua, Indonesia dan Malaysia sebagai bagian dari ASEAN terus bergerak menjadi kekuatan regional. Dengan semangat fastabiqul khairaat, kedua negara terus ingin memainkan peran global bersama seluruh bangsa di seluruh dunia untuk menciptakan perdamaian, persatuan dan kemajuan hidup bersama. Ketiga, Muhamadiyah ingin relasi antar bangsa serumpun tidak hanya berhenti pada alasan konvensional dan tradisional yang selama ini telah dibangun, tetapi ingin bergerak maju dengan relasi yang dinamis berupa program unggulan atau center of excellence yang menyatukan Islam dan kebudayaan. Keempat, Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan harus menjadi yang terdepan memelopori lahirnya pendidikan tinggi di luar negeri terlebih di era globalisasi seperti saat ini. Setiap organisasi saling berinteraksi bahkan membuka ruang diberbagai negara. [klbar]

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *