Kisah Abu Dujanah, Sahabat Anshar yang Menerima Pedang Rasulullah SAW di Perang Uhud

Kisah Abu Dujanah
Kisah Abu Dujanah
banner 800x800

banner 800x800



Hajinews.id Salah seorang dari sahabat Anshar adalah Abu Dujanah yang memiliki nama Simak bin Kharasyah. Ketika dalam peperangan Uhud, Rasulullah SAW mengangkat pedang dan bersabda, “Siapakah yang akan mengambil pedang ini?”

Sehingga kaum muslimin berkumpul dan berharap memperoleh pedang tersebut. Tetapi setelah itu Rasulullah SAW bersabda lagi, “Siapakah yang akan mengambilnya dengan haknya?”

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Kali ini tidak ada yang menjawab. Hanya ada seorang bernama Zubair bin Awwam menyanggupinya. Akan tetapi Rasulullah SAW tidak mau memberikan pedang itu kepadanya, bahkan Rasulullah SAW mengulangi lagi sabdanya.

Kemudian Abu Dujanah bangkit dan menghampiri Rasulullah SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya akan mempergunakannya dengan haknya. Apakah haknya tersebut?”

“Janganlah kamu membunuh seorang muslim dengan pedang ini, dan janganlah kamu mundur dari orang kafir, sedangkan pedang ini masih ada di tanganmu!” kata Rasulullah SAW.

Abu Dujanah lalu mengeluarkan sorban merah dan melilitkan di kepalanya. Ia berjalan ke depan dan menempatkan dirinya di antara dua pasukan. Orang-orang Anshar disekitarnya beranggapan bahwa Abu Dujanah memakai sorban merahnya sebagai lambang semangat juangnya sampai titik darah penghabisan, Abu Dujanah telah mengeluarkan sorban mautnya…!”

Karena melihat sikap Abu Dujanah tersebut, Rasulullah SAW sempat bersabda, “Sungguh itu suatu cara berjalan yang dibenci oleh Allah, kecuali di tempat ini (yakni di medan jihad, karena akan memotivasi dan membangkitkan semangat jihad anggota pasukan lainnya)…”

Akhirnya setelah menerima pedang tersebut, Abu Dujanah berangkat menuju medan pertempuran untuk menyerang kaum musyrikin. Setiap orang yang berhadapan dengannya, dapat ditewaskan.

Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan sekumpulan wanita, yang salah satu dari mereka adalah Hindun bin Utbah, dan berkata dengan nada angkuh, “Kami adalah anak-anak perempuan yang mulia, berjalan di atas bantal-bantal dan bau kesturi. Jika engkau menyerang, kami akan merangkul. Jika kamu berpaling, kami pun akan berpaling.”

Karena sikap Hindun dan perkataannya itu, Abu Dujanah akan menyerang Hindun. Akan tetapi wanita itu berteriak minta tolong.

Setelah beberapa saat kemudian tidak ada yang datang menolongnya. Bahkan Abu Dujanah-pun meninggalkan mereka.

Anas bin Malik yang saat itu bersamanya merasa heran dan menanyakan mengapa ia tidak membunuh wanita tersebut. Ia berkata, “Ia menjerit minta tolong, dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, karena itu aku tidak mau menggunakan pedang Rasulullah SAW untuk membunuh wanita yang tidak mempunyai penolong seorangpun,”. Wallahu A’lam. [akurat]

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *