Kunjungan Menlu Malaysia ke Paramadina: Cyber Security Threat, ASEAN Harus Ambil Peranan Ini Ancaman Political Security


banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Hajinews — Menteri Luar Negeri Malaysia YB Dato’ Saifuddin Abdullah, berkunjung ke Universitas Paramadina. Menlu Negeri Jiran ini menyampaikan beberapa pemikirannya ihwal peran ASEAN dalam menghadapi tantang lobal saat diskusi bersama tokoh-tokoh seperti Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Dr. Tatok D Sudiarto, dan Dr. Hendri Satrio, 18 Oktober 2021.

Dato’ Saifuddin menyampaikan rasa bahagianya sebab dapat berkunjung ke kampus Univeritas Paramadina, dimana menurutnya istilah di malaysia disebut boutique university. University-nya diatur sedemikian rupa untuk sizenya kecil, tidak besar jumlah mahasiswanya tapi khusus. Kelahiran Universitas Paramadina ini berasal dari pemikir-pemikir besar dalam sejarah Intektual Indonesia. Prof. Nurcholish Madjid, yang dikenal dunia akademia dan aktivis di Malaysia.

Bacaan Lainnya

Dikatakan oleh Menlu Malaysia, ASEAN sebenarnya ini suatu gabungan negara-serantau yang unik dibandingkan dengan European Union (EU). Kita masih banyak tertinggal, tetapi kalau dibanding dengan wilayah lain kita memiliki banyak kekuatan.

“Saya merasakan kita di ASEAN ini kita mempunyai ruang yang luas untuk memberbaiki diri. Ada beberapa bidang yang harus kita kerjakan lebih giat. Hubungan bilateral Indonesia-Malaysia sebagai suatu yang penting dalam kita berusaha untuk memperkukuh Asean ini. Ini hubungan bilateral yang memiliki bersama persamaan dan perkongsian. Walaupun karena banyak persamaan dan perkongsian sekali-sekali ada juga isu-nya. Tapi karena serumpun dan bersaudara itu bisa diatur, bisa diluruskan,” ungkap Dato’ Saifuddin Abdullah.

Ia pun bersyukur dengan hubungan presiden, perdana menteri, menteri luar negeri silih berganti sangat akrab. Hubungan bilateral istimewa Indonesia-Malaysia, bisa membantu memperkokoh ASEAN dalam banyak hal.

“Dari segi ASEAN kita tahu bahwa dia dibentuk sebagai political security arrangement 5 buah negara pendiri asean ditambah 5 lagi, dan mudah-mudahan timor leste juga,” katanya.

Lebih jauh ia mwnjelaslan, dari segi political security arrangement secara relatif asean berhasil sebab kita tidak menemui masalah berat dari segi political security. Kalaupun ada mungkin dalam bentuk nelayan nakal dari satu negara memasuki perairan negara lainnya. paling-paling nelayang ditangkap, mungkin kapalnya dibakar.

Tapi kemalangan jiwa, peperangan antara satu wilayah dengan wilayah lain bisa kita elakkan sejak ASEAN dikukuhkan, jelas Dato’ Saifuddin Abdullah.

Menurutnya, ASEAN centrality dan asean consensus juga berjaya mempertahankan kawasan rantau ini khususnya laut cina selatan dari ancaman yang besar. Traditional security treat dari luar khususnya dari cina yang paling dekat dengan kita. Walaupun kita tahu kita ada case-case dimana china coast goard boat itu datang ke perairan kita.

“Di Malaysia kita ada sebuah pulau bernama Beting Patinggi Ali setiap hari dirapati dan didekati Chinese coast guard boat. Masalahnya kapalnya lebih besar dari kapal navy Malaysia, alhamdulilah belum ada engagement, maknanya pertempuran. Walaupun Malaysia senantiasa mengirimkan diplomatic notes untuk membantah kehadiran mereka dan sebagainya,” jelasnya.

Ada kawasan dekat Sarawak dimana Petronas Malaysia sedang mengusahakan gali minyak kawasan bernama Tasawari, dimana china bukan hanya mengirim coast guard board tapi juga kapal researh, risek dalam bahasa melayu berarti intelijen. Tapi masih dapat kita atasi dengan baik. Kita panggil dutanya.

“Yang terbaru Australia ingin membuat kapal selama berkuasa nuklir, menlunya menelepon memberitahu saya ini kapal selam bertenaga nuklir tapi bukan bersenjata nuklir. Saya beritahu secara jenaka its not make different to Malaysian, it still nuclear dan mereka mengirim wakil the wise admiral kepada saya dan Menhan Malaysia. Namun saya katakan tadi dibalik beberapa isu on political and security treat alhamdulilah paling tidak dari sudut traditional threat nampaknya kita aman,” kata Menlu Negeri Jiran itu.

Namun kita ada soal non traditional threat seperti drug, human traficking itu lain lagi mungkin ada isu besar di sana sini.

Dato’ Saifuddin Abdullah mengingatkan, bahwa yang terbaru cyber security threat, dimana ASEAN harus ambil peranan ini ancaman political security yang terbaru.

Dari segi ekonomi, pilar kedua ASEAN, negara ASEAN belum mengoptimumkan kehadiran penduduknya yang sebanyak 650 juta itu. Our intra asean trade is still very low, 25% of our whole trade. Yang ini kita jauh dibanding EU mereka jauh di depan. Mereka 50-60% intra trade itu mempengaruhi ekonomi negara-negara EU. ini sesuatu yang harus kita perhatikan.

Dalam bidang ekonomi ada suatu bidang baru yang kita negara-negara ASEAN bisa optimalkan dengan cepat sebab dianggap bisa leverage dan menjadi playing ground young people, yakni digital economy. Disini peran orang muda yang lebih besar.

Yang ketiga social budaya yang saya pikir paling lambat digerakkan dari ketiga pilar ASEAN yang harus kita beri perhatian namun keuntungan kita disini adalah kalau Huntington mengatakan the clash of civilization tapi kita di ASEAN melihat kawasan kita sebagai wilayah untuk dialog peradaban. Ini berlawanan dengan thesis Huntington itu.

Dalam ketiga pilar itu sebenarnya Malaysia – Indonesia ini bisa memainkan peran yang lebih besar. Political security sebagai contoh kerjasama kita senada dalam mempertahankan the ASEAN outlook on indopacific. Credit harus diberikan ke Indonesia yang memimpin diskusi on the concept asean outlook on indopacific. Tentang cyber security medan baru yang bisa diusahakan bersama Malaysia-Indonesia disamping dengan negara ASEAN yang lain.

Dalam isu ekonomi juga dan isu-isu yang betul-betul regional seperti Myanmar. Malaysia-Indonesia dan Singapura dan Filipina, berawal dari Malaysia-Indonesia yang bersuara lantang dengan pendirian tegas bahwa untuk sidang puncak ASEAN yang akan datang 26-28 Oktober seandainya tugas-tugas utusan khas pengungsi ASEAN untuk melaksanakan 5 point consensus tentang myanmar. Kalau tidak ada kemajuan yang jelas maka ini 2 negara paling awal mengatakan jangan diundang senior general itu ke ASEAN Summit. 2 pemimpin ASEAN seorang Presiden Indonesia membuat panggilan telepon kepada Sultan Brunei, dan Perdana Menteri Malaysia mengirim surat kepada Sutan Brunei dengan pendirian yang sama.

“Jadi saya pikir ada ruang yang bisa diperkuat hubungan bilateral Indonesia-Malaysia yang diangkat ke tingkat serantau dan ke semua negara anggota ASEAN di setiap 3 pilar ini ada ruang dimana kita bisa memperkukuh kedudukan asean untuk rakyat sendiri atau sebagai pemain di platform antar bangsa yang lebih luas,” pungkasnya.(ingeu)

 

 

 


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.