Ustadz Khalid Basalamah: Kakek Nabi Temukan Kembali Air Zam-zam Setelah Hilang 500 Tahun

Kakek Nabi Temukan Kembali Air Zam-zam
Ustadz Khalid Basalamah
banner 800x800

banner 800x800



Hajinews.idUstadz Khalid Basalamah mengisahkah kisah maulid tentang bagaimana kakek nabi Muhammad SAW menemukan kembali air zam-zam setelah hilang 500th.

Air zamzam pertama kali ditemukan oleh Hajar ketika putranya yang masih bayi yaitu nabi Ismail menangis kelaparan, namun tidak ada makanan dan air sama sekali di tengah gurun pasir.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Ia berlari antara bukit safa dan marwa hingga kemudian Allah memberikan mukjizat berupa munculnya mata air dari tanah yang dikaki nabi Ismail.

Namun, air zam-zam ini menghilang hingga 500th dan tinggal legenda.

Dikutip dari YouTube Lentera Islam Ustadz Khalid Basalamah mengatakan bahwa Abdul Muthalib masuk ke Mekkah karena dibawa pamannya.

Sebelumnya dia tinggal di desa bersama ibunya karena orangtuanya bercerai.

Abdul Muthalib kemudian menikah dan diruniakan 1 orang anak yang diberi nama Harif.

Pada saat Harif masuk usia bujang, ia mendapatkan mimpi yang menuntunya pada air zamzam.

Sebelumnya masyarakat Mekkah mendatangkan air dari luar kota semenjak Mekkah dikuasai suku Khuza’a.

“Sebelumnya suku Khuza’a selalu mendatangkan atau beli air dari luar Mekah,” kata Ustadz Khalid Basalamah dikutip dari YouTube Lentera Islam yang diunggah pada 10 Desember 2017.

Abdul Muthalib mimpi pada suatu malam mendengar suara yang bunyinya, ‘Galilah tayyibah (sesuatu yang baik).

Saat ia bertanya, apa itu tayyibah, suara itu menghilang.

Hari kedua ia bermimpi lagi, kali ini suara itu berkata yang artinya, ‘Galilah barrokh (sesuatu yang baik yang bermanfaat)’.

Ketika ia menanyakan, apa itu barrokh suara itu menghilang lagi.

Hari ketiga ia bermimpi lagi, kali ini suara itu memerintah yang artinya ‘galilah magmunah (sesuatu yang terjamin)’.

Tapi lagi-lagi suara itu menghilang saat ditanya.

Barulah pada hari ke empat ia mendengar jawaban, ‘igfir zam-zam (galilah zam-zam)’.

Padahal saat itu zam-zam sudah tinggal kisah karena sudah 500th menghilang.

Maka Abdul Muthalib bertanya, apa itu zam-zam. Suara dalam mimpinya menjawab yang artinya, ‘Sesuatu yang bersih dan tidak akan pernah rusak.

Engkau akan memberikan dengannya air jamaah haji. Tempatnya air zam-zam itu berada di antara raft’.

“Raft itu bisa berarti busanya darah atau memang darah yang bercampur, apa namanya busa yang bercampur dengan darah, atau memang busa air biasanya,” kata Ustafz Khalid Basalamah.

“Ciri-cirinya adalah tempat zam-zam itu ada darah yang bercampur dengan raft, dengan busa, karena bercampur dengan tanah,” jelasnya.

Selanjutnya dalam mimpi Abdul Muthalib itu dikatakan letaknya di bawah burung gagak yang warnanya keputihan dan di sekitar sarang semut.

Merasa mimpi tersebut memang memiliki arti dan petunjuk, maka eesokannya Abdul Muthalib pergi ke Kakbah.

Ia mencari tempat dalam mimpinya di sana karena ia yakin tempatnya tidak jauh dari Kakbah.

Ia kemudian melihat ada seseorang menyembelih sapi yang darahnya mengalir tepat di tengah antara patung Ishaf (ada di hajar ismail) dan Naila (ada di hajar aswad) di depan Kakbah.

Darah itu menggenang bercampur pasir dan ada busanya.

Kemudian saat didatangi ada seekor gagak hitam sedang mematuk-matuk di sekitar darah sambil mengepakkan sayap.

Lalu ketika dia lihat ke kakinya ada beberapa semut menggigit kaki Abdul Muthalib dan rupanya ada sarang semut di sana.

Maka dia katakan pada anaknya Harif bahwa ia akan menggali di tempat itu dan minta agar tidak ada yang mengganggunya.

Padahal saat itu banyak orang bertawaf, sehingga menjadi pusat perhatian dan mengundang penasaran orang-orang.

“Terus saja Harif menyibukkan orang-orang dan terus saja Abdul Muthalib mencangkul sampai ujung cangkulnya menyentuh bibirnya sumur itu, sumur zamzam, dan dengan kuasa Allah airnya muncrat keluar,” kata Ustadz Khalid Basalamah.

Pada sat itu juga, Abdul Muthalib berseru, ‘Allahu Akbar!’ dan membuat orang-orang yakin bahwa Abdul Muthalib telah menemukan yang dicarinya.

Kemudian air ini dituntut oleh kaum Quraish untuk digunakan bersama-sama dan ditolak oleh Abdul Muthalib karena itu adalah kerja kerasnya.

Sehingga dipanggillah hakim. Waktu itu mereka ke dukun Bani Saidah di Madinah yang disegani.

Abdul Muthalib pergi bersama tokoh-tokoh Quraist, tapi ketika tiba di Madinah ternyata dukun tersebut pergi ke Khaibar.

Mereka memutuskan mengejar ke Khaibar meski jaraknya jauh dan terpisah padang pasir luas serta tidak hafal arah jalan.

Di tengah jalan mereka kehabisan air, di tengah terik matahari. Akhirnya mereka bermusyawarah dan karena tidak menemukan solusi maka memutuskan untuk menggali kubur saja.

Setiap yang mati duluan akan ditutup kuburnya oleh yang hidup, sehingga diharapkan hanya kubur orang terakhir yang tidak tertutup.

Tapi, Abdul Muthalib menjadi satu-satunya orang yang tidak setuju dan tidak mau menyerah.

Ketika Abdul Muthalib naik untanya untuk melihat keadaan, tiba-tiba air keluar muncrat dari pijakan untanya.

Ia pum turun dan minum, serta memberi minum untanya dan teman-temannya.

Kejadian itu membuat mereka sepakat mengatakan, ‘Demi Allah sungguh yang telah memberikan air kamu di sini Allah SWT dialah yang telah memberikanmu air zam-zam. Zam-zam milikmu hai Abdul Muthalib,”

“Sebagian ahli sejarah menanggapi mengatakan, Allah yang Maha Tinggi dan Maha Pemurah memudahkan mata air zamzam ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib,” kata Ustadz Khalid Basalamah.

“Karena memang suku ini dari turunan Abdul Manaf bertugas untuk memberikan minum dan makan jamaah haji, maka karena itu Allah SWT kasih,” lanjutnya.

Dan dengan itu secara tidak langsung Abdul Muthalib ditunjuk sebagai Raja.

Kedudukannya semakin naik dan namanya semakin besar.

Ia mengizinkan semua orang minum air zam-zam melalui izinnya secara cuma-cuma. [jember]

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *