UAH: Salat Akan Sia-sia karena Hal Ini,  Mustahil Disebut oleh Nabi SAW jika Tidak Penting

Salat Akan Sia-sia karena Hal Ini
Ustadz Adi Hidayat (UAH)
banner 800x800

banner 800x800



Hajinews.idUstadz Adi Hidayat (UAH) ungkap satu hal penting yang sering dilupakan membuat Salat sia-sia dan tidak diterima.

Salat adalah ibadah ritual wajib umat muslim. Salat wajib dikerjakan dalam 5 waktu dalam sehari.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Karena sudah setiap hari dilakukan, kadang banyak hal-hal kecil yang sebenarnya penting tapi seringkali diabaikan.

Hal tersebut jika dilupakan akan menjadi sebab Salat tidak sempurna dan akan menjadi sia-sia.

Berikut penjelasan Ustadz Adi Hidayat mengenai hal penting yang sering diabaikan bisa membuat Salat jadi sia-sia dan tidak diterima, dilansir dari kanal Youtube Majlis Islami yang diunggah 23 Agustus 2021.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, hal yang penting dilakukan adalah kesempurnaan wudhu. Kesempurnaan wudhu berhubungan dengan kesempurnaan Salat.

“Kalau Anda ingin Salat sempurna, kesempurnaan wudhu terkorelasikan dengan kesempurnaan Salat,”ucap UAH.

Artinya orang yang wudhunya tidak sempurna, maka bisa dipastikan salatnya pun tidak akan sempurna.

Dikisahkan dalam sebuah hadits, datang seorang lelaki kepada Nabi SAW. Ia masuk ke masjid Nabawi dan Salat di samping Nabi SAW.

Lelaki itu Salat di sisi lain Nabi SAW. Setelah selesai Salat, lelaki itu mendatangi Nabi SAW dan mengucap salam kepada Nabi SAW.

Kemudian Rasulullah SAW menjawab dan menyuruh orang tersebut Salat lagi dan mengatakan orang itu belum Salat.

Maka orang itu mengulang salatnya sampai tiga kali. Namun Rasulullah SAW memberi jawaban yang sama, dengan menyuruhnya Salat lagi, karena ia belum Salat.

Maka orang tersebut berkata “Ya Rasulullah, saya tidak bisa lebih baik lagi dari yang tadi”.

Ketika Rasulullah mendengar perkataan orang tersebut, beliau bersabda “Kalau ingin salatmu sempurna, mulai dengan menyempurnakan wudhu. Begini caranya.”

Rasulullah SAW mengajarkan dan memberikan contoh cara yang benar dari mulai wudhu, menghadap kiblat, bertakbir, sampai dengan salam, kepada lelaki tersebut.

“Kalau tidak penting masalah ini, mustahil Nabi SAW meminta mengulang,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Kata para ahli hadits, jika kalimat haditsnya menunjukkan pada salatnya langsung, ini menunjukkan wudhunya sudah sempurna.

Tapi ketika kalimat arahan Nabi SAW dimulai dari arahan wudhu, maka orang tersebut sudah bermasalah sejak wudhunya.

“Kalau wudhunya tidak punya masalah, mustahil Nabi SAW menyinggung soal wudhunya,”tegas UAH.

UAH juga menjelaskan, kata para ahli fiqih, hal itu menunjukkan wudhu akan berdampak pada benar tidak salatnya.

“Bapak Ibu lihat anaknya sudah benar atau tidak wudhunya. Kalau wudhunya sudah keliru, pasti salatnya akan berantakan,”ucap UAH kepada para jamaah.

“Kalau Anda bisa mengajarkan yang benar, maka jangan ajarkan yang salah. Maka ia akan tumbuh dengan cara yang keliru,”tambahnya. [jember]

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *