NU, Muhammadiyah, dan Presiden Baru: Antara Gus Yahya dan Prof Abdul Mu’ti

Gus Yahya dan Prof Abdul Mu'ti
Gus Yahya dan Prof Abdul Mu'ti
banner 800x800

banner 800x800



Sang Mantera

Hajinews.id – MEMBAYANGKAN gerak roda kehidupan kenegaraan, kemasyaratakan dan kebangsaan pasca-2024, seperti marapal mantera. Penuh aksara, sarat makna, dan mengandung kekuatan yang melimpah.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Penuh aksara, sebab para penggerak roda kehidupan itu nanti adalah anak-anak muda, generasi penuh talenta, mengitari punggung bumi untuk mencari ilmu, menuntutnya dan mengamalkannya.

Sarat makna karena mantera mereka adalah gumpalan huruf mengandung ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Tiga komponen ini, akan menjelma kekuatan yang melimpah.

Itulah modal utama anak muda bangsa. Mereka akan merangkai sejuta perspektif mengenai rancang bangun Indonesia masa depan.

Di tempurung kepala mereka, tersimpan sketsa dan gambar kehidupan yang penuh kejutan, gejolak, dan disrupsi.

Saat tahun itu tiba, saat musim gugur berganti musim semi, nama-nama besar masa lalu akan menjadi masa lalu dengan nilai dan warisannya.

Digantikan nama-nama baru dengan masa depan yang menantang. Masa depan yang gemilang dengan landasan nilai masa lalu yang cemerlang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Sosok besar

Sosok-sosok besar dalam lanskap kenegaraan dan kemasyarakatan seperti Megawati Soekarnoputri, SB Yudhoyono, Jusuf Kalla, Amien Rais, KH Ma’ruf Amin, Sri Sultan HB X, Surya Paloh, Wiranto, Rizal Ramli, Fuad Bawazier dan lain-lain, akan segera surut. Gulung pentas. Tutwuri Handayani.

Sejumlah figur menjulang lain seperti Buya Syafii Ma’rif, Said Aqil Siradj, Haedar Nashir, Din Syamsuddin, Emha Ainun Nadjib, Azyumardi Azra, Hidayat Nurwahid, Yusril Ihza Mahendra, mewakili generasinya, bersiap meninggalkan gelanggang. Bersiap menyaksikan para the golden generation memimpin bangsanya.

Saat tahun itu datang, akan bertaburan bintang baru yang melesat di orbitnya. Bursa gagasan mengenai konsep kenegaraan akan datang dari nama-nama besar seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Mahfud MD, Anies Baswedan, Khofifah Indar Parawansa, Puan Maharani, Basuki Tjahaja Purnama.

Tri Rismaharini, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Yenny Wahid, Nadiem Makarim, Erick Thohir.

Pada akhir kompetisi, satu di antara mereka akan jadi Presiden RI dan Wakil Presiden RI. Satunya jadi Ketua DPR RI dan MPR RI. Lainnya berada di posisi-posisi strategis elite bangsa.

Vis a vis

Generasi muda progresif dengan gagasan-gagasan besar, mesti dijaga dengan pagar moral yang kuat. Negeri bertabur agamawan, Indonesia, akan memasuki gerbang peradaban masa depan.

Gerbang itu haruslah dibangun di atas landasan moral yang kuat, berakar pada kedalaman jati diri dan budaya yang adiluhung.

Para moralis dan agamawan inilah yang akan memagari, mengawasi, menjadi mata-mata. Mata-mata umat, masyarakat dan bangsa.

Menyiapkan landasan, memberi arah, dan mengembalikan ke rel jika roda kenegaraan, kemasyarakatan dan kebangsaan berubah ke arah inkonstitusional. Agamawan muda bersinergi dengan negarawan muda.

Dari maqam ini, paling tidak bisa disebutkan dua nama: Abdul Mu’ti dan Yahya Cholil Staquf. Keduanya mewakili gerbong panjang. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Penuh sesak.

Pemilik saham mayoritas atas lahirnya Republik Indonesia. Dari rahim dua organisasi keagamaan ini, lahir pahlawan nasional. Dalam perut keduanya, dikubur ribuan patriot bangsa.

Yang pertama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, yang kedua Sekretaris Umum Syuriyah PBNU. Keduanya merupakan kader terbaik dari lingkungan masing-masing.

Matang dalam organisasi. Dari ranting hingga pengurus besar dan pimpinan pusat. Mewarnai diskursus nasional. Keduanya bolak-balik ke luar negeri, mengenalkan nilai-nilai wasathiyah Islam dengan pendekatan berbeda.

Tidak ada lagi agenda pertemuan formal, vis a vis antara Ganjar, Anies, Emil, Risma, Yenny dengan Haedar Nashir atau Said Aqil.

Mereka akan berunding dengan Ketua Umum PBNU dan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang seusia mereka. Seperti Yahya Staquf dan Abdul Mu’ti.

Presiden Ganjar, Anies, Emil, Khofifah, Risma, atau Yenny membuka muktamar, datang disambut Ketua Umum PBNU Gus Yahya Staquf yang “kadernya” Kiai Said dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Mu’ti yang “kadernya” Prof Haedar.

Figur Yahya

Selain mantan juru bicara Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid, Yahya Cholil Staquf juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko Widodo.

Ia salah seorang komisioner pertama sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) berdiri. Dia lahir pada 16 Februari 1966 di Rembang Jawa Tengah. Ia cucu muassis NU, KH Bisri Mustofa dan saat ini Yahya merupakan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Pendidikan formal Yahya di pesantren. Ia murid KH Ali Maksum di Krapyak, Yogyakarta. Dia melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada.

Yahya kerap menjadi pembicara internasional di luar negeri. Juni 2018, Yahya berbicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel menyerukan konsep rahmat, sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang timbul akibat masalah agama.

“Kita sampai tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan,” ujar Yahya dalam video yang diunggah di YouTube oleh AJC Global sebagai penyelenggara acara itu, Selasa, 11 Juni 2018.

Sedang Abdul Mu’ti lahir di Kudus, 2 September 1968. Pendidikan dasarnya di Kudus, 1986. Meraih gelar sarjana dari Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, S2 di Flinders University, South Australia, tahun 1996. Doktoralnya di UIN Syarif Hidayatullah. Di sini, Mu’ti dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam.

Mu’ti adalah anggota Muhammadiyah sejak 1994. Dia menjabat Sekretaris PWM Jawa Tengah periode 2000-2002.

Periode 2002-2006 sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah merangkap Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah 2005-2010.

Mu’ti menjadi bagian dari anggota Dewan Indonesia dan Amerika Serikat pada Agama dan Pluralisme.

Ia juga anggota eksekutif Konferensi Asia Agama untuk Perdamaian. Tokoh pemikir Muhamadiyah yang moderat dan toleran ini, juga wakil sekretaris Agama Kontra Terorisme dan sekretaris Dewan Nasional Intelektual Muslim Indonesia.

Mu’ti menorehkan prestasi di kancah internasional sebagai salah satu Advisor di British Council London sejak 2006. [kompas]

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *