Ambisi China: Sengaja Jerat Puluhan Negara dengan Utang, Gagal Bayar Bakal Bernasib Tragis

Ambisi China: Sengaja Jerat Puluhan Negara dengan Utang
Ambisi China: Sengaja Jerat Puluhan Negara dengan Utang, Gagal Bayar Bakal Bernasib Tragis
banner 800x800

banner 800x800



Hajinews.idPuluhan negara di dunia dikabarkan telah meminjam uang atau berutang dengan China.

Mirisnya, utang-utang negara tersebut membengkak. Apalagi setelah dihantam badai global pandemi covid-19.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Alih-alih untuk membayar utangnya ke China, akibat covid-19 malah perekonomiannya hancur hingga babak belur.

Imbasnya negara-negara yang berutang ke China ini berisiko gagal bayar atau tak sanggup membayar.

Ada yang sampai meminta keringanan utang, dengan tanpa bunga malah ditolak oleh China.

Akibatnya hubungan negara-negara tersebut bisa memburuk dengan China.

Rencana China membangun jaring untuk menjerat negara di dunia dengan utang sudah cukup lama.

Pada tahun 2013, Presiden China Xi Jinping mengumumkan peluncuran “Belt and Road Initiative” (BRI), proyek multi-miliaran dolar yang sering dikenal sebagai Marshall Plan China.

China mengatakan program itu dibuat untuk mengembangkan terhubungnya ekonomi dan kerjasama di seluruh dunia.

Terdiri dari koridor di darat dan jalur laut, skema BRI melibatkan 71 negara dan separuh populasi dunia.

China mengatakan inisiatif itu adalah paket stimulus ekonomi, dirancang untuk membantu bisnis milik negara dalam solusi sama-sama menang.

Kritik sendiri telah menuduh mereka menjebak negara-negara yang akhirnya akan tunduk pada China.

Pinjaman China ke negara-negara di Benua Afrika mencapai USD 152 miliar antara 2000 dan 2018, menurut South China Morning Post, sebagian besar masuk dalam BRI.

BRI kemudian dikenal sebagai ‘diplomasi jebakan utang‘, di mana sebuah negara meminjamkan uang dengan niat politik atau kesadaran ekonomi jika pinjaman tidak bisa dilunasi.

Mengutip Newsweek, jika ada negara yang gagal membayar utang, ditakutkan situasinya akan mirip dengan Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka tidak mampu membayar utang jasa di pelabuhan, yang akhirnya membuat pelabuhan tersebut dikuasai China dalam masa 99 tahun.

Amerika Serikat (AS) telah mengatakan kekhawatiran jika pelabuhan tersebut bisa dipakai China sebagai pangkalan militer mereka.

Administrasi Trump telah berulang kali memperingatkan negara-negara Afrika jika menerima pinjaman China dapat menyebabkan mereka kehilangan kontrol atas aset-aset strategis mereka.

Mereka memperingatkan bahwa sebuah pelabuhan strategis di Tanjung Harapan Afrika atau Djibouti bisa mengalami hal yang sama, sebuah prospek yang telah ditampik pemerintah Afrika.

Kini, dengan ekonomi global kesulitan pulih dari Covid-19, kekhawatiran gagal membayar ini lebih nyata daripada sebelumnya.

Namun apakah ancaman jebakan utang ini memang benar-benar nyata?

“Diplomasi jebakan utang adalah salah satu bentuk tekanan finansial, tapi tidak hanya ini yang dipakai China untuk mengumpulkan pengaruh, meraih posisi, akses militer dan kekuatan di seluruh dunia,” ujar Rick Fisher, rekan peneliti di lembaga penelitian AS International Assessment and Strategy Center.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *