Hikmah Siang: 4 Nasihat Rasulullah tentang Kematian

Ilustrasi bunga di atas batu nisan. Foto: Dok Pixabay


 

Hajinews.id– Rasulullah SAW telah mengingatkan kepada umatnya bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang kekal dan abadi.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Pernyataan tersebut terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al Mustawid bin Syadad, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda.

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

Artinya: “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim)

Setiap makhluk hidup ciptaan Allah SWT akan mengalami kematian sesuai dengan ketentuan umurnya masing-masing dan waktu kematian seseorang pun hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

Sehingga, setiap manusia senantiasa harus menyiapkan diri untuk menghadapi kematiannya, adapun masalah susah atau mudahnya ketika sakaratul maut tergantung pada amal perbuatan individu.

Maka, Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada umatnya untuk menghadapi hal tersebut, berikut penjelasannya.

1.Memperbanyak mengingat kematian

Dikutip dari buku Bekal Meggapai Kematian yang Husnul Khatimah karya Majdi Muhammad. Memperbanyak mengingat kematian terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huraira, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda.

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Artinya: “Perbanyaklah mengingat Si Pemutus Kenikmatan (Kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

Kalimat tersebut mengandung peringatan dan nasihat. Sebab, mengingat kematian dapat menghilangkan perasaan nyaman terhadap dunia yang fana ini dan mendorong jiwa untuk setiap saat fokus menghadapi kehidupan yang kekal (akhirat).

2.Bersikap tenang dan terus mengucap kalimat syahadat saat menjelang ajal

Dikutip dari buku Ringkasan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Rasulullah SAW menganjurkan, saat menjelang ajal (sekarat) tetap bersikap tenang dan diam. Sementara lisannya terus mengucapkan kalimat syahadat.

Pernyataan tersebut terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huraira, sebagaimana Rasulullah SAW berkisah.

“Malaikat maut mendatangi seorang laki-laki yang hampir meninggal dunia. Setelah memeriksa hati orang itu, ia tidak mendapati apa-apa di dalamnya. Kemudian ia membuka mulut orang itu dan mendapati di ujung lidahnya ada yang menempel pada langit-langit mulutnya suatu ucapan La Ilaha Illallah. Allah SWT lalu berkenan mengampuni dosanya dikarenakan kalimat tersebut diucapkan dengan ikhlas.” (HR. Abu Huraira)

Jika seseorang yang hampir mati tidak sanggup mengucapkan la Ilaha Illallah karena lemah, maka orang diisekitar lah yang menuntunnya dengan sikap lemah-lembut.

3.Berprasangka baik kepada Allah SWT menjelang ajal

Dikutip dari buku Menyucikan Jiwa karya Abdul Qadur Abu Fari Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, sebagaimana Rasulullah bersabda.

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَ

Artinya: “Jangan sampai salah seorang di antara kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Allah SWT!” (HR.Muslim).

Hadis tersebut merupakan peringatan agar manusia tidak berputus dan mendorong agar manusia senantiasa berharap kepada Allah SWT agar dirahmati dan mengampuni dosanya. Sebab, Hanya kepada Allah SWT lah kita berharap diterima serta diberi rahmat dan ampunanya.

Islam mengajarkan agar berprasangka baik kepada Allah SWT sehingga orang yang berprasangka baik akan mendapatkan anugerah husnul khatimah.

4.Tidak meminta suatu kematian

Dikutip dari buku 1100 hadist terpilih karya Muhammad Faiz al-Math. Rasulullah SAW sangat melarang manusia untuk meminta didatangkan suatu kematian.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagaimana Rasulullah bersabda.

لا يَتَمَنَّيَنَ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Artinya: “Janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata, “Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku.” (HR. Bukhari)

Karena sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 49 yang menjelaskan ketetapan Allah SWT tentang kematian

قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya: “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS. Yunus: 49).

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *