Hikmah Pagi : 5 Orang Ini Akan Masuk Surga Tanpa Hisab

ILUSTRASI PENGHUNI SURGA


 

Hajinews.id – Di antara umat Nabi Muhammmad, berdasarkan hadits Bukhari, ada 70.000 yang masuk surga tanpa hisab. Dalam riwayat lain dikatakan, masing-masing dari mereka membawa 70.000 orang. Dalam tulisan ini akan disebut 5 orang yang akan masuk surga tanpa hisab.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Masuk surga tanpa hisab maksudnya: langsung masuk surga tanpa melalui pertanggung jawaban atau perhitungan sebagaimana manusia lain pada umumnya. Jadi, lima orang yang akan disebut ini, akan langsung masuk surga tanpa diminta mempertanggung jawabkan amal perbuatannya saat di dunia. Siapakah mereka?

Terkait hal ini, Nabi pernah bersabda ketika ditanya siapakah di antara 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab:

هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“yaitu yang tidak meminta diruqyah (pengobatan dengan jampi-jampi, atau mantera), tidak berfirasat sial karena melihat burung dan hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka.” (HR. Bukhari)

Pertama, tidak minta diruqya. Dalam buku “Syarh Shahiih al-Bukhari” (IX: 405), Ibnu Baththal menerangkan bahwa yang dimaksud ruqyah di sini adalah sebagaimana yang dilakukan oleh orang jahiliyah.

Mereka punya kebiasaan meminta ruqyah (jampi-jampi) kepada dukun-dukun mereka. Ini merupakan ruqyah yang tidak berdasarkan Kitab Allah, asma dan sifat-Nya. Justru ruqyahnya adalah bagian dari sihir. Sedangkan ruqyah yang didasarkan pada syariat, maka dibolehkan.

Kedua, tidak berfirasat sial karena melihat burung. Badruddin Aini dalam kitab “Umdatul Qari” (XXI: 245) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tidak berfirasat sial karena melihat burun (tathayyur) adalah tidak merasa pesimis dengan adanya burung-burung dan semacamnya.

Dahulu, pada masa jahiliyah, jika mereka melihat burung saat sedang bepergian, maka mereka dihinggapi rasa pesimis dan mengurungkan niatnya. Dalam Islam, hal ini tidak dibenarkan, karena segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Allah, bukan karena burung.

Ketiga, hanya bertawakkal kepada Tuhan. Masih dalam buku yang sama, Badruddin Aini menjelaskan bahwa tawakkal adalah menyerahkan urusan kepada Allah Ta’ala dalam melakukan ikhtiyar atau sebab-sebabnya.

Pada masa Nabi, pernah terjadi orang yang dengan nama tawakkal, ia membiarkan untanya tanpa terikat. Maka, pandangan demikian dikoreksi oleh Nabi: “Ikatlah untamu, baru kamu bertawakkal.” Ini berarti, tawakkal itu tidak sekadar pasrah, tapi dikerjakan setelah ada usaha konkret.

Ini seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad terkait burung yang mencontohkan tawakkal yang baik:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rizqi kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberikan rizqi kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang” (HR. Ahmad)

Selain dari ketiga karakter tersebut yang membuat orang masuk surga tanpa hisab, ada lagi sifat lain yang disebutkan dalam hadits Nabi. Yaitu tidak berobat dengan pengobatan Kay. Keempat, tidak menggunakan pengobatan Kay. Imam Ahmad meriwayatkan sabda Nabi:

هُمْ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“(adalah) orang-orang yang tidak pernah menggunakan Kay (pengobatan dengan besi panas), tidak pernah meminta untuk diruqyah, tidak pernah bertathayyur, dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam “Fath al-Bari” (XI: 410) menjelaskan bahwa berobat dengan Kay (besi), tidak apa-apa ketika dalam kondisi darurat. Yang tidak kalah penting adalah mempunyai keyakinan bahwa yang menyembuhkan dirinya bukanlah pengobatan kay, tapi murni karena Allah.

Besar kemungkinan pada zaman jahiliyah yang mengakui bahwa kay itu adalah yang menyembuhkan, bukan Tuhan. Sehingga dalam Islam, keyakinan seperti ini dikoreksi.

Kelima, tidak ber’iyafah (meramal alamat baik). Nabi bersabda:

هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَعْتَافُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka yang tidak minta diruqyah, tidak pernah bertathayyur, tidak ber’iyafah (meramal alamat baik) dan kepada Rabb merekalah, mereka bertawakal” (HR. Ahmad)

Dilihat dari karakter-karakter tersebut: tidak memakai ruqyah terlarang, tidak menganggap sial ketika melihat burung, tidak menggunakan pengobatan kay, tidakmeramal alamat baik serta bertawakkal hanya kepada Allah, menunjukkan bahwa orang yang nanti masuk surga tanpa hisab adalah yang tauhidnya murni, tidak dicampuri dengan syirik.

Jadi, ketika kita ingin menjadi bagian dari lima orang yang akan masuk surga tanpa hisab –sebagaimana penjelasan tadi—maka bersihkan tauhid, meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah bukan karena mengganggap sial pada sesuatu makhluk-Nya, dan bertawakkal hanya kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *