Pandemi Covid-19, Berkah atau Masalah, Dimana Bedanya?

Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19


Oleh: Dr. apt. Chazali H. Situmorang, M.Sc (Pemerhati Kebijakan Publik/Dosen FISIP UNAS)

Hajinews.id – Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir memilih untuk menganggap pandemi Covid-19 sebagai berkah ketimbang masalah. Ia pun menjelaskan pandangannya tersebut.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

“Saya pikir ini positifnya berkah sebenarnya. Karena kalau kita mau lihat sesuatu karya itu harus diuji. Bagi saya pandemi ini berkah,” ujar Honesti dalam sebuah acara daring, Kamis, 7 Oktober 2021.

Kita mulai pembahasan dari sekelumit informasi di atas, yang menimbulkan banyak protes dan marahnya tokoh masyarakat, tenaga medis, dan kelompok lainnya.

Ini persoalan landasan berpikir dalam melihat suatu masalah atau berkah. Masalah itu kita semua mengerti yaitu adanya gap antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi.

Dalam kesehatan masyarakat, kita ingin menuju Universal Health Coverage (UHC), dengan dilahirkannya berbagai produk perundang-undangan terkait sesuai amanat UU Dasar 1945 yakni UU Kesehatan, UU Rumah Sakit, UU SJSN, UU BPJS dan beberapa undang-undang lainnya yang terkait. Jika terjadi wabah, ada UU tentang Wabah Penyakit Menular , dan UU tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Masalah itu timbul karena apa yang menjadi amanat UU itu, tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya, atau sebagian, karena berbagai sebab yang paling berat adalah Pandemi Covid-19 yang menewaskan hampir sebanyak 150 ribu penduduk Indonesia.

Angka kematian ini, hampir sama dengan jumlah penduduk yang tewas karena bencana alam Tsunami di Aceh tahun 2004 yang lalu.

Masalah itu pasti berimplikasi hal yang merugikan, atau menyakitkan, atau memilukan, atau merusak tatanan kehidupan dan bahkan dapat menghancurkan suatu peradabaan.

Terlalu tidak berharga jiwa manusia Indonesia yang meninggal karena Covid-19, apalagi para mereka tenaga medis, professor, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan lainnya, sebagai SDM unggul yang begitu susah payah menghasilkannya, jika dipadankan dengan berkah.

Mari kita simak apa itu berkah secara umum. Kita cari saja di Google. Berkah atau barokah dalam Al-Quran dan sunah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula dapat diartikan dengan bertambahnya kebaikan atau ziyadatul khoir, dan bahkan artinya bisa kedua-duanya. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah atau barokah ialah kebaikan yang banyak dan abadi.

Pertanyaannya, Pandemi Covid-19 itu apakah langgengnya kebaikan, atau langgengnya musibah atau masalah? Pembaca jawab saja sendiri.

Hampir dua tahun Pandemi Covid-19 kebaikan apa yang didapat bangsa ini? Apakah ratusan ribu penduduk meninggal suatu kebaikan? Apakah morat maritnya ekonomi suatu kebaikan? Apakah benyaknya pengangguran dan PHK suatu kebaikan? Anak-anak usia sekolah tidak bisa belajar dengan normal, suatu kebaikan?

Mungkin “berkah” itu dinikmati oleh industri farmasi tertentu, yang mengimport obat-obat Covid-19, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, masker, alkohol, APD, obat imunitas, disinfectan, bahan baku Swab Antigen dan PCR, yang diawal Pandemi harganya “menggila” dan tidak mampu dikendalikan oleh pemerintah.

Termasuk juga vaksin, yang coba dikomersialkan oleh BUMN farmasi, tapi dilarang Presiden karena banyaknya keberatan masyarakat.

Industri farmasi di Indonesia itu masih bersifat refill atau _repacking, atas bahan baku import, dengan melakukan uji klinis pada tahap akhir, sebelum mendapat ijin edar darurat dari BPOM. Kita belum menemukan proses transformasi teknologi farmasi yang tinggi, terhadap penemuan vaksin. Vaksin merah putih yang diproduksi oleh Universitas Airlangga, baru tahun depan bisa diluncurkan.

Memang Pandemi Covid-19 benar juga sebagai “berkah” bagi mereka yang menikmati keuntungan harga tarif PCR dan swab Antigen yang selangit, ternyata atas perintah Presiden Jokowi kepada Menkes untuk diturunkan sampai setengahnya, “mereka” penikmat keuntungan tidak ada yang teriak.

Sudut pandang dan landasan berpikir pejabat publik, termasuk pejabat BUMN, perlu di_ brainwashing_ oleh BPIP, sehingga kadar Pancasila mereka itu perlu diasah kembali menjadi emas 24 karat, atau perlu diukur ulang wawasan kebangsaannya melalui Test Wawasan Kebangsaan (TWK).

Kalau dilakukan TWK kepada Direksi BUMN Farmasi, penulis menitipkan satu pertanyaan yaitu: “apakah anda sepakat, bahwa Pandemi Covid-19 bukan saja masalah tetapi juga suatu berkah”.

Cibubur, 10 Oktober 2021

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *