Wagub Emil Ajak Kepala Daerah Gotong Royong Entaskan Kemiskinan



 

Surabaya, Hajinews.id – Wakil Gubernur Jatim,yang juga Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PW IPHI) Jawa Timur Emil Elestianto Dardak membuka rapat koordinasi (Rakor) Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di Hotel Harris Surabaya, Kamis (23/9/2021).

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Rakor yang digelar bertajuk ‘Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem di Jawa Timur’ itu turut dihadiri Sekretaris Eksekutif Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) RI, Ir Suprayoga Hadi.

Wagub Emil Dardak mengajak seluruh Ketua TKPK di masing-masing Kab/Kota untuk bersama-sama dan bergotong royong menurunkan angka kemiskinan di Jatim.

Menurutnya, menanggulangi kemiskinan bukanlah tugas yang mudah. Untuk itu, dirinya mengingatkan bahwa upaya menurunkan angka kemiskinan merupakan tugas seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Menanggulangi kemiskinan itu bukan tugas satu OPD saja, tapi tugas seluruh elemen di dalam pemerintahan yaitu harus bisa ikut bergotong-royong menangani kemiskinan,” kata Emil.

Ia memaparkan, untuk angka kemiskinan Jatim pada September 2020 lalu mencapai 10,19 persen. Lalu, pada Maret 2021 angka kemiskinan menurun menjadi 10,14 persen.

Namun, dirinya membandingkan dengan angka pengangguran yang mencapai 5,17 persen. Kondisi tersebut bisa diartikan bahwa banyak orang yang tidak menganggur tapi miskin.

“Jadi persentase penduduk miskin kita memang turun tetapi yang lebih penting kalau kita mau melihat bahwa penduduk miskin jauh lebih tinggi dari pada angka pengangguran,” ujarnya.

Maka dari itu, lanjut Wagub Emil, salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan memberikan pekerjaan. Akan tetapi, cara tersebut belum maksimal. Sebab, upaya pemerintah memberikan pekerjaan, tapi masih banyak penduduk yang miskin. Situasi ini menjadi menarik.

“Artinya, ada satu realita terutama mungkin banyak terjadi di daerah pedesaan. Sebagian besar mereka yang bekerja di sektor pertanian tetapi kondisinya miskin,” ujarnya.

Emil menjelaskan, sebuah workshop yang melibatkan lembaga Semeru memberikan forum studi mengenai kemiskinan. Dari studi tersebut, kata Wagub Emil, 75 persen dari yang terdata miskin masuk kategori working full time (bekerja penuh waktu).

“Sudah kerja full time tapi miskin. Berarti ada yang salah di sini. Maka dari itu kenapa mulai muncul anggapan bahwa memang kita harus mulai melihat lagi, bahwasanya ini bukan saja urusan Dinas Sosial,” jelasnya.

Menurut Emil, membedah kemiskinan kota dan kemiskinan pedesaan menjadi hal yang penting. Fenomena yang sangat berbeda utamanya adalah ketika terjadi Covid-19 cenderung menghantam perkotaan dari pada pedesaan.

Oleh karena itu, Wagub Emil menyampaikan, melalui rakor yang dihadiri Sekretaris Eksekutif TNP2K RI ini diharapkan dapat sedikit meringankan tugas rekan-rekan wakil bupati dan wakil walikota dan kepala-kepala Bappeda dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya masing-masing.

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *