Niat: Awal dan Akhir Suatu Ibadah

Niat: Awal dan Akhir Suatu Ibadah
Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id


Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Banyak pandangan yang menganggap niat itu hanya mengawali suatu ibadah, lalu ditinggalkan di tempat melakukan niat. Keliru!! Niat itu fungsinya memandu seseorang, agar seseorang itu mencapai tujuan yang ingin dicapainya dengan selamat.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Dalam suatu hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Bacaan Latin:

“Innamal a’malu binniyyat, wainnamaa likullimri yinmaanawa, waman kanat hijrotuhu illaahi wa rasululihi wa hijrotuhu illalai warusulluhu, waman kanat hijrotuhu illa dunyaa yushiibuhaa iw imro ati yatazawwajuhaa, wahijrotuhu illa maa haajaro ilayhi”

Artinya:

“Sesungguhnya amal seseorang itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya. Barangsiapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut”. [Hadist Riwayat Bukhari & Muslim]

Hadits diatas muttafaq alaih sehingga tidak ada perbedaan pandangan tentang kesahihan hadits tersebut dikalangan para ahli hadits. Berikutnya perlu diperhatikan bahwa sekalipun dalam berbagai kesempatan hadits di atas seringkali dikutip oleh berbagai kalangan secara sepotong-sepotong, misalnya hanya mengambil frase innamal a’malu binniyat” saja, tapi sesungguhnya selengkapnya dari hadits tersebut adalah seperti yang tertulis di atas. Yang mana jika kita membacanya secara utuh, maka sabda Nabi Muhammad SAW di atas itu, terkait dengan masalah “hijrah”. Sebuah istilah yang bukan sekedar perjalanan melintasi suatu ruang atau dari satu daerah ke daerah lain, namun juga memiliki, bahkan sarat dengan makna spiritual, sebagai sesuatu yang ditekankan di dalam diri seseorang yang melakukannya.

Lebih jauh lagi, niat adalah motivasi dasar, atau motivasi utama yang mendorong seseorang melakukan “perjalanan spritual” atau aktifitas ibadah kepada Allah.

Selanjutnya, penting pula dipahami sabda Rasulullah Saw berikut ini:

يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ » . قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ . قَالَ « يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ »
Artinya: “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” [HR. Bukhari, no. 2118 dan Muslim, no. 2884].

Dua hadits Rasulullah SAW diatas, menunjukkan secara tegas, bahwa semua perbuatan itu ditentukan oleh niat melakukannya. Lalu pada hadits yang kedua, kita dapati bahwa balasan akan diberi juga sesuai niat masing-masing.

Dengan demikian niat adalah motivasi awal seseorang melakukan sesuatu, sekaligus akan menjadi hasil dari apa yang mereka kerjakan.

Niat mengawali semua perbuatan. Jika diibaratkan perjalanan, maka “niat”-lah yang paling terdepan berangkat ke tujuan, lalu disusul oleh perbuatan. Sehingga karena niat selalu ada diposisi depan, maka sekaligus menjadi “pemandu”, “kompas”, “petunjuk”, bahkan “pemimpin” dalam perjalanan.

Oleh sebab itulah para Rasulullah mengajarkan agar niat senantiasa diluruskan, diperbaiki, dibersihkan dari segala yang dapat merusak iman atau akidah umat Islam. Dalam rangka menjaga akidah itu, maka Rasulullah mengajarkan agar semua amal perbuatan terutama Ubudiyah kepada Allah, di niatkan semata untuk menggapai Ridha Allah SWT, dan dilakukan Lillahi Taala, seperti kalau kita melafazkan bacaan niat sebelum salat.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani mengajarkan supaya selalu memulai sesuatu dengan niat Lillahi Taala, dengan lafadz niat “ilahi anta Maksudi, waridhaka matlubi”–Ya Allah, Engkaulah Maksudku (melalukan ini) dan keridhaan-MU, yang (senantiasa) aku harapkan”.

Jika niat ini senantiasa memandu perjalanan kita, selalu di depan menuntun kita, maka dengan pertolongan-Nya atas niat itu, kita akan sampai tujuan sesuai apa yang diniatkan.

Demikianlah, sehingga niat bukan hanya awal dari suatu perbuatan, atau amal, namun juga pemandu untuk menjaga maksud dan tujuan tidak melenceng, dan seterusnya akan mengantar kepada tujuan, yakni apa yang diniatkan. Sehingga niat adalah awal sekaligus akhir dari suatu amal ibadah, jika amal ibadah itu berjalan sebagaimana mestinya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya bagi kita semua.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *