Mengejutkan! Vaksin Nusantara Bukan Vaksin, Dokter RSUP Hasan Sadikin: Lebih Tepat Disebut Imunoterapi

VakNus Positif


 

 

Bacaan Lainnya


banner 400x400

 

Jakarta, Hajinews.id – Perbincangan soal Vaksin Nusantara kembali mencuat di tengah serbuan vaksin Covid-19 dari luar negeri.

Vaksin Nusantara yang dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto tersebut terus menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

Belum lama ini, seorang praktisi kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, Dokter Samuel P. K. Sembiring turut angkat bicara soal Vaksin Nusantara.

Dokter Samuel yang juga lulusan FK Universitas Sumatera Utara ini menyebut bahwa Vaksin Nusantara bukanlah vaksin. Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun Instagram pribadinya dengan akun @doktersam seperti dilihat hajinews.id Senin, 20 September 2021.

Semula ia mengungkap bahwa dirinya sudah lama ingin membahas soal Vaksin Nusantara namun baru memiliki kesempatan.

Dokter yang banyak memberikan konten edukasi tentang kesehatan itu mengatakan bahwa yang mendorongnya untuk membahas Vaksin Nusantara itu lantaran ada seorang yang memberikan pesan kepadanya.

“Sebelumnya ada yang DM saya bahwa dia menolak semua vaksin asing dan ingin menunggu Vaksin Nusantara,” tulisnya.

Ia membeberkan bahwa alasan seseorang itu menolak vaksin luar negeri karena kekhawatiran adanya sesuatu yang sengaja dimasukkan ke dalam vaksin.

Selain itu kata dia, ia seorang tersebut juga menyebut bahwa menggunakan Vaksin Nusantara sama dengan mencintai produk dalam negeri.

Menanggapi itu, Dokter Samuel mengungkapkan bahwa tidak ada salahnya memiliki sikap cinta produk dalam negeri.

Namun kata dia, berkaitan Vaksin Nusantara bisa jadi semua orang belum paham bahwa vaksin besutan Terawan ini menggunakan metode berbeda.

“Vaksin Nusantara ini menggunakan metode dendritik. Metode ini biasanya dikerjakan pada penderita kanker,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa vaksin ini sama sekali berbeda dengan vaksin yang selama ini digunakan di Indonesia untuk melawan Covid-19.

“Bukan disuntikkan lalu anda pulang, tapi darah anda diambil kemudian diproses hingga 7 hari lalu disuntikkan kembali ke anda,’” jelas Dokter Samuel.

Sebab itu kata dia, Vaksin Nusantara lebih tepat disebut imunoterapi ketimbang vaksin.

“Mengetahui metodenya demikian, maka lebih tepat bila Vaksin Nusantara ini disebut IMUNOTERAPI BUKAN VAKSIN,” tegasnya.

Ia juga berpesan kepada pengikutnya di Instagram yang mencapai 47,6 ribu itu agar tidak menunggu-nunggu untuk divaksin.

Sementara itu kata dia, ia tetap mendukung dan menunggu perkembangan terbaru terkait pengembangan Vaksin Nusantara.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *