Muhammadiyah Borong Panen Petani Yang Harganya Jatuh

Muhammadiyah Borong Panen Petani Yang Harganya Jatuh
Muhammadiyah Borong Panen Petani Yang Harganya Jatuh


banner 500x500

banner 800x800





Hajinews.id – Dari dulu saya selalu salut dengan teman-teman Muhammadiyah yang peka dengan problem lingkungan dan langsung take action memberikan solusi.

Mendengar ada petani yang cabainya harganya jatuh di Kudus, mendengar ada peternak ayam di Blitar yang telornya tidak terserap pasar, Muhammadiyah dengan LazisMu-nya langsung bergerak memborong hasil panen petani dan kemudian membaginya ke masyarakat atau menjualnya kembali dengan harga yang layak. Petani tidak rugi, dana LazisMu pun tersalur ke pemanfaatan yang jelas dan manfaatnya langsung bisa terasakan oleh petani.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Seharusnya yang begini-begini tugas pemerintah dengan perangkat birokrasinya seperti Dinas Pertanian dan yang terkait untuk memikirkan solusinya. Tapi, bagi Muhammadiyah kalau nunggu pemerintah bergerak, bisa jadi akan terlalu lama mikirnya, keburu petani kolaps. Maka, apa yang dilakukan LAzisMu ini adalah langkah yang tepat dan trengginas untuk menolong umat. Minimal secara kondisional. Lebih bagus lagi bila berkelanjutan dengan cara membentuk Amal Usaha baru di bidang agribisnis yang bekerjasama dengan pabrik-pabrik yang siap menampung hasil pertanian dari petani. Dengan harga yang sudah disepakati. Muhammadiyah menjadi jembatan untuk membuat petani tidak akan diombang-ambingkan pasar yang kebanyakan dikuasai para tengkulak.

Itu persis dengan ajaran dari Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah. Ketika murid-muridnya ditanya: kamu sudah tahu surat al-Maun? Sebagian santrinya menjawabnya dengan cara menghapal salah satu surat dalam alQuran itu. Dan Kiai Dahlan hanya menggeleng dan bilang kamu belum tahu surat itu.

Tapi, ada sedikit santrinya yang langsung action, datang ke alun-alun depan keraton, mencari pengemis dan gelandangan yang sedang kelaparan. Kepada mereka dibagi nasi bungkus. Sebagian ada yang dimandikan baru diberi makanan. Setelah itu baru melaporkan kepada Kiai Dahlan apa yang barusan dilakukan.

“Berarti kamu sudah paham surat al-Maun,” ujar Kiai Dahlan. AlQuran itu bukan cuma sekadar untuk dihapalkan, tapi dipraktekkan. Nggak hapal nggak papa, yang penting dilaksanakan dalam kehidupan nyata, yang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sebagai warga Muhammadiyah saya tentu vangga dengan langkah-langkah sporadis Lazismu. Memang sudah saatnya Muhammadiyah memikirkan problem umat di pedesaan. Selama ini bermain di sektor perkotaan. Sudah saatnya yang berada di pinggiran juga dipikirkan. Apalagi jumlah petani di Indonesia memang masih mayoritas dan Indonesia sendiri adalah negara agraris yang ironisnya produk-produk pertaniannya justru masih impor dalam jumlah yang tidak kecil, jutaan ton per tahun, termasuk beras, cabai, dan bawang.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar