Mengatasi Dampak Perubahan Iklim



banner 500x500

banner 800x800





 

Oleh Hasanuddin

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Hajinews.id – Sejak akhir juni, kita menyaksikan dampak perubahan iklim diberbagai belahan dunia berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi, badai topan, badai salju, kebakaran hutan. Ribuan orang meninggal dalam berbagai bencana alam itu, jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal, jutaan lahan pertanian rusak, jutaan ternak mati. Lalu dari hewan yang mati, baik yang diternakkan maupun hewan liar, yang tidak dikubur mengundang aneka serangga, bakteri yang sangat mungkin akan menularkan berbagai virus.

Manusia memerlukan aneka kebutuhan hidup, yang diperoleh melalui apa yang dihasilkan oleh langit dan bumi. Kedua “orang tua” manusia itu, langit sebagai “ayah” dan bumi sebagai “ibu” telah memelihara “anak-anak keturunannya”, tumbuhan, hewan dan manusia. Tapi manusia yang durhaka kepada “kedua orang tuanya” itu telah berlaku rakus, bahkan merampas apa saja hak milik saudaranya (tumbuhan dan hewan).

Semesta ini dalam pemeliharaan Allah, pencipta dan penguasa seluruh kehidupan dan kematian. Yang mengatur dengan adil rezeki setiap makhluk-Nya. Tapi sedikit saja dari manusia yang mau bersyukur, dengan memanfaatkan rezeki pemberian Allah, tanpa merusak keseimbangan ekosistem kehidupan.

Memang benar, bahwa Allah telah menundukkan langit dan bumi, aneka hewan dan tumbuhan, gunung-gunung, samudera yang luas kepada manusia, dengan memberikan kekuatan berupa ilmu pengetahuan, agar dengan ilmu pengetahuan itu, manusia mengelola hidup dan kehidupannya dengan tidak merusak keseimbangan alam. Tapi yang terjadi, bahwa kebanyakan manusia, telah menyalahgunakan pengetahuan yang Allah berikan, demi pemenuhan ego, nafsu mereka. Padahal, pemberian pengetahuan kepada manusia, adalah sebuah amanah, yang diterimanya melalui suatu sumpah suci, bahwa ilmu pengetahuan itu, akan dipergunakan dalam rangka beribadah kepada-Nya, dan dalam rangka mengemban misi pemeliharaan semesta alam, sebagai khalifah.

Apapun yang diturunkan oleh langit (ayah) ke rahim ibu (perut bumi), semua itu dalam rangka berkesinambungannya kehidupan. Serta apapun yang naik kelangit dari perut bumi, (mati) pun dalam rangka keseimbangan. Kehidupan dan kematian diciptakan sebagai suatu siklus. Karena itu, kerusakan di bumi, pasti akan mendatangkan pertolongan dari langit. Hujan lebat, petir, salju, angin topang, menunjukkan besarnya kerusakan di bumi. Kebakaran akibat panas bumi, menunjukkan kerusakan di langit, dilapisan atmosfir sehingga bumi mesti menolong langit, dengan memproduksi lebih banyak gas hidrogen.

Perubahan iklim adalah suatu keniscayaan. Namun perubahan yang bersifat ekstream, tidak kita harapkan. Dan perubahan yang ekstream itu, karena besarnya kerusakan di bumi maupun di langit. Kerusakan itu akibat ulah manusia dalam mengekspolitasi alam, membangun aneka pabrik dan memproduksi C02 dalam jumlah yang berlebihan. Semuanya bermula dari hasrat manusia untuk menguasai manusia lain, mengungguli manusia lain dengan menciptakan berbagai produk manufactur.

Sudah waktunya manusia mengambil tindakan terukur, untuk menghentikan konsep ekonomi yang eksploitatif terhadap alam, dan mengembangkan konsep ekonomi yang ramah lingkungan (green ekonomi). Tidak bisa lagi hanya sebatas slogan. Kecuali manusia akan merasakan dampak perubahan iklim yang makin ekstream dsri tahun ke tahun.

Para pemimpin dunia mesti duduk bersama. Memikirkan pola hubungan ekonomi politik yang lebih beradab. Menghentikan perlombaan untuk saling memonopoli, mwnguasai satu sama lain. Mengedepankan semangat persaudaraan sebagai “putra-putri” dari “langit dan bumi”. Hidup dalam suatu konsep kekeluargaan, sekalipun dengan negara yang berbeda-beda, dengan kedaulatan dan sistem pemerintahan yang berbeda pula.

Kebersamaan dalan harmoni kehidupan adalah keniscayaan bagi species manusia. Dengan mamusia hidup harmoni, hewan dan aneka tumbuhan akan terus berproduksi menghasilkan aneka kebutuhan bagi manusia, layanan hidangan dari Allah, Tuhan semesta alam.

Atau sebaliknya, teruslah menuruti nafsu, kerakusan yang eksploitatif terhadap alam, dan rasakan bagaimana Keperkasaan Allah terhadap mereka yang membangkang.

Depok, hari Rabu, 4 Agustus 2021

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *