Menangis Karena Takut Azab

Menangis Karena Takut Azab
Menangis Karena Takut Azab. Foto/ilustrasi unsplash


banner 500x500

banner 800x800





Hajinews.id – SEMUA orang pasti pernah menangis. Namun, tidak banyak orang yang menangis karena Allah, takut akan azab-Nya yang dahsyat, dan khawatir jika amal salihnya tidak diterima oleh-Nya.

BANYAK manusia sering menangis untuk sesuatu yang tidak penting. Hatinya lebih mudah tersentuh oleh hal-hal sepele, lebih sensitif dan reflektif terhadap hal-hal keduniawian.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

MEREKA itu enggan bersujud dan memohon ampun kepada-Nya. Jangan-jangan hati mereka telah tertutup oleh cahaya ilahiah. Jangan-jangan hati mereka mati karena tertutup oleh banyaknya dosa yang tidak terampuni.

SUNGGUH, dunia ini tidak pantas untuk ditangisi. Sungguh dunia ini tidak layak untuk ditakuti. Dunia ini hanya sebentar. Dunia ini penuh dengan permainan dan sendau gurau semata. Kehidupan di dunia ini hanya sementara. Semuanya akan kembali kepada-Nya.

HATI manusia sesungguhnya diciptakan dalam keadaan lembut dan mudah tersentuh. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, banyak hal yang menjadikan hati manusia tersebut bebal. Hati menjadi bebal entah karena kemaksiatan atau penuh dosa. Pun pula, entah karena jarang mengasahnya dengan ibadah dan tafakur.

MAKA, jika hati sudah bebal, untuk melembutkannya bukan pekerjaan ringan. Bahkan, bagi sebagian orang ia lebih berat ketimbang pekerjaan lain semisal bersedekah.

UNTUK itu Nabi Muhammad SAW selalu berdoa berlindung dari hati yang keras dan tidak khusyuk, seperti yang di bawah ini.

اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ومن نفس لا تشبع ومن دعوة لا يستجاب لها. رواه مسلم

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan,” (HR. Muslim).

BAHKAN, mungkin banyak di antara manusia yang matanya justru sering menangis untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Hatinya lebih mudah tersentuh hanya gara-gara soal sepele.

KITA lebih sensitif dan reflektif terhadap hal-hal keduniawian. Entah itu karena soal pekerjaan, cinta, kesuksesan, kebahagiaan, dan penderitaan. Hati mudah tersentuh untuk yang sifatnya hura-hura. Menangis histeris ketika melihat idolanya datang dan berkalang kesuksesan.

SEMENTARA itu, untuk dosa yang telah menggunung, mata kita enggan untuk berurai air mata. Kita enggan untuk bersujud dan memohon ampun kepada-Nya. Jangan-Jangan hati kita telah tertutup oleh cahaya ilahiah. Jangan-jangan hati kita mati karena tertutup oleh banyaknya dosa yang tidak terampuni.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *