PW Jatim Siapkan Kebijakan yang Efisien Demi Suksesnya Muktamar IPHI VII

Wakil Ketua Pengurus Wilayah IPHI Jatim Drs.H. Dwi Eko Lokononto (dok)


banner 500x500

banner 800x800





Jakarta, Hajinews — Dalam Rakernas XVII yang digelar secara daring, Sabtu, 31 Juli 2021, lalu. Panitia Lokal Jawa Timur menyatakan persiapan teknis Muktamar IPHI sudah siap. Akan tetapi demi efisiensi acara dan perlindungan terhadap peserta, sangat dimungkinkan ada perubahan tempat penyelenggaraan yang lebih kondusif.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah IPHI Jatim Drs.H. Dwi Eko Lokononto atau yang akrab disapa Lucky, menyebutkan, jika kondisi di Jawa Timur belum sepenuhnya baik. Salah satu indikatornya bagaimana mesjid-mesjid dilarang mengumumkan berita duka, oleh karena itu ia mengimbau supaya Protokol Kesehatan tetap dilaksanakan di Muktamar IPHI VII Surabaya pada tanggal 21-22 Agustus nanti.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

“Protokol Kesehatan juga tetap dilaksanakan pada tanggal 21-22 Agustus itu memang harus menjadi konsen kita bersama. Keputusan kita untuk mengundang 30 Ketua Wilayah saya pikir merupakan sebuah langkah yang paling tepat,” ungkap Lucky.

Kendati begitu, Lucky mengusulkan beberapa hal terhadap rencana Ketua Umum IPHI H. Ismed Hasan Putro yang ingin mengundang 10 orang penerima penghargaan secara khusus. Menurutnya hal itu perlu dipertimbangkan kembali, semisal pemberian penghargaan dilakukan separuh daring kemudian penghargaannya kirimkan. Karena panitia lokal belum bisa memastikan apakah ditanggal 21 dan 22 itu sudah memungkinkan pertemuan dihadiri lebih dari 50 orang.

“Jadi nanti daripada meraba-raba, tetapi kalau misalnya di hari-hari terakhir situasi membaik baru kita kirimi undangan. Kalau memang kita memungkinkan untuk lebih dari 50 orang. Kalau menurut saya panitia lokal dengan undangan dan Pengurus Pusat itu kurang lebih sudah 50 orang. Saya khawatir kalau lebih dari 50 orang kita akan menghadapi kesulitan. Itu yang pertama,” papar Lucky.

Sementara yang kedua, terkait dengan protokol, Lucky sependapat dengan apa yang diingatkan Ketua Organizing committe (OC) Dr. Abidinsyah Siregar, tentang pentingnya hasil PCR. Ia pun menganjurkan agar peserta Muktamar untuk mengecek soal ketentuan PCR di daerah masing-masing dan seberapa lama hasilnya akan jadi.

Sebab menurutnya, jika mengacu pada ketentuan pemerintah, bahwa hanya lab-lab tertentu yang hasil PCR-nya diakui, misalnya seperti di NTT, tidak ada satu pun lab yang mempunyai izin untuk mengeluarkan hasil PCR. Dimana pada salah satu kasus menyebutkan ada hasil PCR-nya baru akan jadi setelah 4-5 hari, begitu hasilnya keluar, sudah tidak dapat digunakan karena hanya berlaku 3 hari.

Adapun Lucky mengapresiasi jika merunut pada AD/ART salah satu kunci sudah sangat bagus. Yakni, Rakernas bisa memutuskan berapa banyak yang hadir. Sehingga, bagi Panitia Lokal di Jawa Timur Muktamar bisa digelar di tengah pandemi sangatlah penting agar organisasi IPHI bisa membuat program yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

IPHI harus bisa menyusun program dan agenda kerja ke depan, yang lebih beradaptasi bukan hanya dengan teknologi tapi juga dengan suasana kebatinan masyarakat. Dan, kata Lucky, pastinya banyak yang harus dilakukan penyesuaian-penyesuaian karena banyak yang terpapar.

Kemudian mengenai pelaksanaan Muktamar, pihaknya mengakui jika memang baru akan bergerak ketika mendengar keputusan bahwa tanggal 21-22 Agustus ini sudah pasti. Mengingat jumlah peserta tidak banyak maka kemungkinan akan diambil keputusan untuk menggelar kegiatan bukan lagi di Islamic Center, melainkan di sebuah tempat—Hotel misalnya.

Di mana tempat ini tidak membutuhkan mobilitas Peserta Muktamar terlalu banyak, sebab dengan keluar dari hotel ada kemungkinan resiko terpapar. Dengan demikian akan baik jika peserta dikumpulkan di suatu tempat yang dipastikan protokol kesehatannya bagus.

Lucky juga mengatakan pihaknya akan segera mengadakan rapat dengan Ketua Pengurus Wilayah Jatim yang juga Wakil Gubernur, Emil Dardak.

“Secara keseluruhan secara teknis, insya Allah Jawa Timur sudah siap. Tinggal kita memang kemudian untuk tempatnya supaya tidak terlalu banyak habis di transportasi. Jadi ndak perlu wira-wiri, jadi misalnya dari hotel ke Islamic Center itu ada resiko di jalan. Saya pikir mungkin kita akan pul di satu tempat supaya waktu bisa lebih efisien menghindari juga resiko terpapar,” tandasnya.(ingeu)

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *