Tafsir Al-Quran Surat Ghafir 56-60: Doa Meneguhkan Pendirian dan Ketawakkalan

Tafsir Al-Quran Surat Ghafir 56-60: Doa Meneguhkan Pendirian dan Ketawakkalan
Tafsir Al-Quran Surat Ghafir 56-60: Doa Meneguhkan Pendirian dan Ketawakkalan


banner 500x500

banner 800x800





Oleh KH Didin Hafidhuddin
Ahad, 25 Juli 2021

Disarikan oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Hajinews.id – Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Pada hari ini adalah tanggal 15 Dzulhijjah 1452 bertepatan dengan tanggal 25 Juli 2021, kita dapat bersilaturrahmi secara virtual untuk melanjutkan Pengajian Tafsir Al-Quranul Karim. Insya Allah, hari ini kita membahas Tafsir Al-Qur’an Surat Ghafir ayat 56-60. Marilah kita mulai dengan membaca bersama Ummul Kitab, Surat Al-Fatihah. Kita lanjutkan dengan membaca bersama Surat Ghafir 56-60 tersebut, artinya adalah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) pula orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran. Sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”

Pertolongan dan bantuan dari Allah SWT adalah keniscayaan, bagi siapa pun yang telah melakukan ikhtiar dan usaha secara baik. Walaupun ikhtiar sudah dilakukan, tapi tanpa pertolongan dari Allah, tidak mungkin kita mencapai keberhasilan. Para pejuang kemerdekaan sangat menyadari hal tersebut, apalagi hanya bermodalkan senjata yang sederhana. Para pahlawan bangsa itu membekali semangat dengan kalimat tahlil dan takbir. Pekik takbir “Allahu Akbar” senantiasa dikumandangkan di medan perang dan di mana-mana oleh para pejuang itu. Kemerdekaan itu adalah hal segala bangsa karena hal itu tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan dilandasi perjuangan ketauhidan, yang tidak rela tanah airnya dijajah oleh bangsa lain. Kita paham akhirnya Allah SWT memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Dalam Alinea ke-4 UUD 1945 secara jelas ditulis, bahwa “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan keingian luhur…” Banyak sekali pejuang kemerdekaan itu yang beragama islam dan mereka sangat yakin atas pertolongan Allah SWT. Mereka berjuang mencapai kemerdekaan negara Indonesia atas panggilan akidah untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi Indonesia.

Pertolongan Allah itu mesti diupayakan, diraih dan lalu ditunggu dengan:

  1. Kesabaran setelah melakukan ikhtiar yang maksimal, sehingga tidak ada penghalang antara kita makhluq dan Sang Khaliq Allah SWT;
  2. Berdo’a berdasarkan keimanan dan pengharapan bahwa setiap do’a kita akan dikabulkan oleh Allah SWT; dan
  3. Istighfar, banyak minta ampun kepada Allah SWT, sekaligus sebagai rasa syukur kepada Allah Yang Maha penolong.

Ketika melakukan pembukaan Kota Makkah, Rasulullah SAW membaca tasbih, memuji Allah dan besitighfar atau memohon ampun kepada Allah, karena warga kota secara berbondong-bondong masuk islam (afwajan). Perhatikan kembali Surat An-Nashr 1-3, “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Mahapenerima tobat”

Tapi, ada juga orang-orang yang enggan untuk berdoa kepada Allah SWT, karena kesombongan dan ketakabburannya. Mereka apriori bahkan menolak perintah-perintah Allah. Mereka sebenarnya ia telah menciptakan hambatan (barrier) sendiri untuk mendapat karunia Allah SWT. Orang-orang yang sombong dan takabbur itu dianggap buta kepada rahmat Allah dan gemar melakukan kesalahan. Mengapa banyak orang yang tidak jujur pada dirinya? Tidak lain karena mereka sombong dan takabbur. Mereka sebenarnya buta hatinya, tidak mampu melihat kebenaran. Mereka tentu sangat berbeda dengan orang-orang yang mampu melihat kebenaran dari Allah SWT, mereka yang beriman dan beramal shalih. Doa akan menguatkan ketawakkalan kita dalam bermohon kepada Allah SWT. Pada Surat Ghafir di atas, ada perintah langsung dari Allah SWT, “Berdoalah kepada-Ku, Aku nanti akan kabulkan”. Bagi kita, urusan pengabulan do’a itu, kita harus serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Kita tidak boleh mengatur kekuasaan Allah SWT yang Mahamutlak. Ajarannya adalah bahwa kita mohon atau berdo’a kepada Allah harus dengan keyakinan bahwa do’a itu akan dikabulkan. Apalagi, aktivitas berdo’anya saja sudah merupakan ibadah. Kita harus yakin tentang hal itu. Oleh karena itu, tatacara berdo’a itu ada tuntutannya, dan banyak diuraikan dalam beberapa Hadist Rasulullah SAW, misalnya pada saat sepertiga malam, dll.

Menjawab pertanyaan tentang tingkatan surga-surga dan kewajiban ketaatan kepada pemimpin, sebenarnya hal itu menjelaskan tempat-tempat yang indah di surga itu. Hal ini sama dengan ekspresi dua Timur dan dua Barat (masyriqaini wa maghribain). Bukan arah Timur dan Barat-nya ada dua, tapi pada kedua arah terbit dan terbenamnya matahari tersebut ada beberapa tingkatan. Kita mentaati pemimpin yang tidak maksiyat kepada Allah, kita tidak taat kepada makhluq yang melakukan maksiat, walaupun ia seorang pemimpin. Jika ulil amri (pemimpin) itu tidak melaksanakan perintah Allah dan menyuruh kepada kemaksiatan, kita tidak wajib taat kepadanya. Jika sekarang ada yang menengarai ada indikasi penjajah yang terlihat ingin menguasai Indonesia, kita perlu terus membela kebenaran, jangan menjadi pengkhianat, bekerjasama dengan penjajah atau yang ingin menguasai negeri kita. Tindakan “menjual” kepentingan ekonomi kepada penjajah ni merupakan dosa besar bagi pengkhianat seperti ini. Sarannya adalah kita jangan bekerja atau berjuang sendiri, karena semuanya akan terasa berat. Ada pepatah “Srigala akan mudah menerkam kambimg yang sendirian. Srigala yang jahat juga takut pada kambing yang berkelompok”.

Menjawab pertanyaan tenang ujian ketakutan karena pandemi, sebenarnya hal ini menjadi salah satu ujian kesabaran dan keikhlasan kepada Allah SWT. Perhatikan Surat Al-Baqarah 155-156. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Bagi kita manusia, ujian yang paling berat adalah ketika ujian atau musibah itu berhubungan dengan mental atau psikologi kita. Kita harus bersabar, kembalikan semua pada Allah SWT. Kita perlu membiasakan diri berdzikir dan berdo’a dengan membaca, “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Doa ini dapat disampaikan sambil sujud, setiap saat, tidak harus ketika waktu shalat, tapi dapat dilakukan di mana saja. Di samping itu, salah satu doa yang terbaik atau paling mustajab adalah doa yang disampaikan pada kondisi yang bersangkutan tidak mengetahui sedang didoakan. Hal ini menjadi pelajaran keikhlasan yang sangat tinggi, jika kita mendo’akan seseorang tanpa diketahui yang bersangkutan, tidak harus disebarluaskan. Dengan zaman Whats App ini kita juga mendapatkan ujian keikhlasan yang sebenarnya.

Mari kita berdoa bersama kepada teman-teman dan jamaah kita yang sedang sakit, semoga Allah SWT segera mengangkat penyakitnya, sehingga beliau-beliau dapat sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala. Mari kita tutup pengajian kita dengan doa kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruuka wa atuubu ilaika”. Demikian catatan ringkas ini. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh hadirin yang sempat mengikuti Ta’lim Bakda Subuh Professor Didin Hafidhuddin tadi. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *