Proposal Kematian

Proposal Kematian
Proposal Kematian


banner 500x500

banner 800x800





Oleh : Ahmad Sastra

Hajinews.id – Akhir-akhir ini setiap hari kita diperdengarkan dengan kabar akan kematian sahabat, tetangga, pejabat, ulama dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal. Padahal sejatinya kitapun sedang menunggu giliran akan kematian itu. Karena ajal sudah pasti datang, maka pertanyaannya adalah, apakah kita telah siap menghadapinya ?.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Setiap kali ada kegiatan, biasanya seseorang atau organisasi akan terlebih dahulu membuat proposal. Meski kadang acaranya hanya beberapa jam, namun mempersiapkan proposal adan acara jauh lebih lama waktunya. Sementara untuk perjalanan hidup yang lama, tidak banyak orang yang kemudian menyiapkan proposal kehidupannya. Terlebih lagi proposal kematian, mungkin sedikit orang menuliskan proposal kematiannya.

Proposal kematian adalah rancangan yang ditulis dengan maksud untuk mendeskripsikan perencanaan untuk menyiapkan datangnya kematian. Perencanaan dalam proposal diperkuat dengan tujuan setiap aktivitas yang telah direncanakan, sehingga seluruh aktivitas hidupnya akan sejalan dengan target kematian yang diinginkan. Kondisi kematian yang wajib menjadi target adalah akhir ajal yang husnul khotimah. Manfaat proposal kematian juga bisa menjadi pemahaman bagi orang-orang disekitar seperti keluarga, sahabat dan tetangga untuk ikut memahami dan menjadi pendorong bagi target kematian yang diinginkan.

Konsekuensi perencanaan amal untuk menyambut kematian yang husnul khotimah adalah adanya pemahaman, kesadaran, komitmen dan konsistensi atas amal-amal sholih yang wajib dijalankan dan menjauhi amalan yang diharamkan Allah. Konsekuensi berikutnya adalah adanya upaya selalu mengevaluasi (muhasabah), sudah sejauh mana seluruh amal itu sesuai dengan ketentuan hukum Allah. Disinilah pentingnya ilmu dalam menjalankan semua amaliah selama kehidupannya.

Proposal biasanya diawali oleh latar belakang pemikiran. Latar belakang pemikiran dalam proposal kematian adalah firman Allah : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185).

Firman Allah diatas memberikan gambaran tiga dimensi kehidupan yang sangat erat hubungannya dengan kematian. Kematian adalah kepastian dari Allah, namun Allah menyinggung kehidupan dunia sekaligus kehidupan akhirat. Artinya kematian adalah semacam titik dimana manusia akan mendapatkan tempatnya di akhirat, apakah surge atau neraka. Nah, keduanya ditentukan oleh kehidupan di dunia sebelum datang kematian.

Oleh sebab itu, manusia terlebih dahulu harus mampu menjawab pertanyaan fundamental yang akan menentukan apakah selamat di dunia dan akhirat. Ada tiga pernyataan mendasar yang wajib dijawab dengan benar, yakni : dari mana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia dan hendak kemana setelah mati. Allah telah memberikan jawaban melalui firmanNya berikut :

Dari mana manusia berasal ? Allah memberikan jawaban : (Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara (QS Ar Rahmaan : 1-4)

Untuk apa (tujuan) hidup manusia di dunia ?. Allah memberikan jawaban : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz Dzariyaat : 56). Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun (QS. Al-Mulk : 2).

Hendak kemana setelah kematian ?. Allahpun memberikan jawaban yang jelas : Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS Al Jumuah : 8). Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan (QS Yasin : 83).

Jawaban atas tiga pertanyaan mendasar inilah yang membedakan antara orang beriman, orang sekuler dan orang ateis. Kesalahan menjawab tiga pertanyaan ini akan berujung kepada siksa api neraka. Jawaban yang benar berdasarkan kunci jawaban dari Allah akan mengantarkan manusia kepada surga.

Orang mukmin akan menjawab tiga pertanyaan mendasar itu dengan jawaban bahwa bahwa asal manusia adalah dari Allah yang menciptakan, tujuan hidup di dunia adalah untuk menyembah dan mentaati totalitas hukum Allah dan setelah mati akan kembali kepada Allah dalam kehidupan akhirat.

Orang sekuler beda lagi jawabannya, bahwa manusia berasal dari Allah, tujuan hidup di dunia adalah untuk menikmati duniawi tanpa peduli akan akhirat, sementara kehidupan setelah kematian tidak menjadi prioritas. Meski percaya kepada Allah, namun orang sekuler akan mengatur hidupnya dengan hukum-hukum manusia dan mengabaikan hukum Allah.

Sementara orang ateis akan menjawab bahwa tuhan itu tidak ada, maka hidup di dunia hanyalah untuk mencari materi, sebab kehidupan akhirat itu tidak ada. Manusia ateis lebih kejam dari manusia sekuler, sebab orientasi hidupnya didasarkan oleh paham materislisme semata. Manusia sekuler dan ateis tidak peduli dengan nilai-nilai etis yang berakar dari agama.

Selama menjalani kehidupan pribadi maupun sosial, seorang muslim akan berjalan diatas hukum dan syariat Allah, tanpa menumpang sedikitpun, baik soal aqidah, ibadah dan muamalah. Sementara manusia sekuler hanya akan menjadikan agama sebagai asas ibadah ritual, sementara muamalahnya justru menjadikan hukum manusia sebagai pedomannya.

Sementara manusia ateis hanya menjadikan nafsunya sebagai asas seluruh perbuatannya di dunia, sebab mereka tidak percaya tuhan, hukumnya sekaligus tidak percaya hari pengadilan di akhirat. Manusia sekuler dan ateis sejatinya adalah manusia bodoh dan dungu karena tidak memikirkan tentang kematian, apalagi membuat perencanaan untuk menghadapinya. Sebab cerdas menurut Islam adalah mereka yang ingat akan kematian.

Ibnu Umar RA berkata, ”Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.” (HR Ibnu Majah)

Ka’ab sahabat Rasulullah mengungkapkan bahwa siapa yang mengetahui kematian pasti segala penderitaan dan kesusahan dunia menjadi ringan baginya. Sebab, kematian adalah kafarat bagi setiap Muslim. Sungguh manusia cerdas ialah yang bisa memaknai kematian dengan benar dan mengantarkannya pada kemuliaan hakiki.

Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan doa, sebab tidaklah cukup hanya dengan usaha, sebelaiknya tidaklah cukup hanya dengan doa. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berzikir dan berdoa agar Allah senantiasa memberikan perlindungan, pertolongan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan sekaligus kematian, sehingga mendapatkan hasanah di dunia dan hasanah di akhirat sekaligus.
Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka (QS AL Baqarah : 201)

“Ya Allah kami memohon kepadaMu keselamatan agama dan kesehatan tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rizqi, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati. Ya, Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan. Ya Allah, janganlah Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.”

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *