Ustadz Baharmus Dan Kisah Masjid Al-Yaqin Lemka

Ustadz Baharmus Dan Kisah Masjid Al-Yaqin Lemka
Ustadz Baharmus Dan Kisah Masjid Al-Yaqin Lemka


banner 500x500

banner 800x800





Oleh Didin Sirojuddin AR

Hajinews.id – Orangnya sangat baik, soleh, dan luarbiasa tawadhu. Saya yakin, Al-Ustadz K.H. Abdullah Said Baharmus, Lc, kakak kelas saya tahun 1970an dan terakhir menjabat Sekretaris Badan Wakaf Pondok Moderen Darussalam Gontor,  Ketua Umum Ikatan Alumni Saudi Arabia se-Indonesia, dan Pembina PAJIM (Perkumpulan Alumni Jamaah Islamiyah Madinah) termasuk golongan mukhlisin dan mukhlasin. Lewat Mu’assasah Al-Ishlah lalu Mu’assasah Ar-Rahmah yang didirikannya, selama lebih 30 tahun ratusan santri dan pelajar Indonesia lolos jadi mahasiswa Universitas Madinah. Bantuan lilfuqara wal yatama dan pesantren mengalir.  Bahkan beberapa masjid berdiri di pelosok tanah air atas usaha beliau. “Solihatuhu (kesalehannya) dan mahasinuhu (kebaikannya),” sebagaimana dikomentari Pimpinan PMD Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal, “tak terhitung jumlahnya dan harus kita ingat.” Pak Hasan menyitir perumpamaan Arab tentang orang yang banyak jasanya seperti Ustadz Baharmus yang “bikin kita cemburu”:

Bacaan Lainnya


banner 400x400

والناس ألف منهم كواحد، وواحدكالألف إن أمرعنى

     “Manusia seribu dari mereka ibarat satu orang, tetapi yang satu seperti seribu bila menguasai urusan mereka.”

إناللـــه وإناإليـــه راجعـــون.

Kepergiannya dengan husnul khotimah di hari Jumat 16 Juli 2021, setelah menjamak salat Zhuhur-Ashar karena sakit,  meninggalkan duka. Saya termasuk yang sangat kehilangan, karena punya kenangan dengan Pak Kiai yang tidak bisa dilupakan:

Malam Senin bada tarawih, 16 Januari 1997, dilangsungkan temu silaturahmi Lemka (Lembaga Kaligrafi Alquran) dengan masyarakat Kelurahan Karamat, Sukabumi, di Mushalla Al-Awwabin yang sudah agak rusak. “Kami ingin mendirikan pesantren kaligrafi di sini,” kata saya tanpa tahu “di sininya di mana?” Sebab tanahnya belum ada, keluarga pun tidak punya. Tiada teman yang saya kenal “di sini”. Bikin pesantren hanya bermodal tekad dan keyakinan. Saya hanya berpikir ingin sekali mengembangkan satu-satunya ilmu yang jadi hobi saya dari Gontor, yaitu KHAT atau KALIGRAFI. Ternyata, dari pertemuan itu saya baru tahu jamaah Al-Awwabin pun sedang merindukan mushalla yang bagus, tapi sudah setahun hanya bisa  kukumpul 2 onggok pasir dan kerikil untuk merehab mushalla mereka. Saya spontan menjawab, “Kalau soal rehab mushalla biar saya ambil alih. Saya akan menyelesaikannya.” Saya yakin rehab itu tidak sulit. Rupanya, saya tidak sadar sudah takabur, menganggap enteng persoalan. Sampai keinginan merehab rumah ibadah itu jadi  terlupakan dan terlantar.

Barulah 3 bulan kemudian pada hari Jumat, 28 April, sambil motong kurban di hari raya Idul Adha, janji rehab mushalla itu saya sampaikan lagi kepada jamaah, “Rehabnya akan kita mulai.” Tapi mulai dari mana? Saya tidak punya apa-apa. Rumah juga jauh di Ciputat. Rupanya, Allah mulai membukakan jalan. Sabtu besoknya, 29 April, keluarga Ibu Haji Idoh (ibunya Bp. Ece Abidin) menyatakan siap mewakafkan lebih 1000 m tanahnya untuk Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka. Di atasnya ada 3 rumah bilik. (Tapi transaksi wakaf dari waqif kepada nadzir baru ditandatangani 11 bulan kemudian hari Senin, 2 Maret 1988, disaksikan beberapa pejabat KUA Kecamatan Gunung Puyuh. Sedangkan awal studi Pesantren diresmikan hari Ahad, 9 Agustus 1998, dihadiri oleh Drs. H.A. Hafizh Dasuki, MA, Prof. Dr. H. Ridlo Masduki,  Prof. K.H. Chatibul Umam, dan Camat Gunung Puyuh Drs. H. Sutisna Wirawan. Santri pertamanya 4 orang ditambah santri kalong yang didatangkan dari 25 bocah kampung sekitar, dan belajarnya masih ngagepor di lantai tanah).

Rehab Mushalla Al-Awwabin belum dimulai. Tapi kebutuhan asrama santri sangat mendesak. Desain rehab mushalla akhirnya berubah jadi desain “pembangunan masjid baru”.Gedung pesantren akan dimulai dari membangun masjid serbaguna untuk shalat dan belajar santri. Mushalla lama akan dipindahkan. Ustadz Mukhtar, imam Mushalla Al-Awwabin, diangkat jadi Ketua Panitia. Setelah motong 3 kambing kurban Idul Adha, Jumat siang 10 April 1998, Panitia Gabungan Pesantren Lemka dan masyarakat mulai bergerak mencari dana. Saya sendiri membawa satu jengkal tumpukan amplop proposal khusus untuk para pengusaha dan orang-orang kaya terutama yang bermastautin di Pondok Indah. “Amplop-amplop itu saja pasti cukup untuk membangun masjid mah,” pikir saya sangat yakin.

Ternyata saya  kepleset. Tidak satu proposal pun yang menebal amplopnya. Orang-orang kaya dan para pengusaha itu mengaku collaps, rugi, bangkrut atau tidak punya dana untuk nyumbang. Seiring dengan itu, gerakan reformasi semakin menyeruak membakar Ibukota Jakarta yang berujung kejatuhan Pak Harto dari tahta kekuasaannya pada  hari Kamis, 21 Mei 1998. Ekonomi Indonesia ambruk. Saya heran campur cemas, karena tidak satu proposal pun yang berhasil.

Di saat kepentok, tiba-tiba teringat ke sobat saya yang sangat baik, Ustadz Abdullah Said Baharmus. Singkat cerita, beliau mau bantu carikan masjid untuk Pesantren Lemka. Tidak satu syarat pun yang membebani saya. Bahkan biaya administrasi pun tidak dipinta.

“Ustadz, bagaimana dengan gambarnya?” tanya saya.

“Biar ane bikinkan. Ane percaya sama ente,” jawab Ustadz Baharmus.

Pada hari Jumat, 18 Juni 1999, saya ditelepon Ustadz Mukhtar, Ketua Panitia, menanyakan kapan uang sumbangannya bisa dibawa. Rupanya, masyarakat sedang menunggu-nunggu. Lebih setahun saya berjanji, belum serupiah pun dapat uang. Saya langsung menjawab telepon Ustadz Mukhtar, “Hari Jumat depan Taz. Nanti saya kabari.” Padahal maksud saya Jumat depan mau ditanyakan dulu ke Ustadz Baharmus, bukan mau bawa uangnya. Saya lupa menjelaskan. Tapi hari Kamis malam, 24 Juni, tiba-tiba Ustadz Baharmus nelpon, “Taz Din, ente beruntung proposalnya dikabulkan.” Ya Allah, alhamdulillah. Dari lebih 50 proposal yang diusulkan, hanya 3 yang dikabulkan bakal dapat masjid. Yaitu Lemka dan dua lainnya di Bandung dan Ambon. Sumbangan untuk masjid Lemka ini dari dermawan Kuwait Ali Abdullah Ali Al-Waqyan (maka atas permintaannya, masjid itu nantinya dikasih nama Al-Yaqin lalu saya gabung jadi Al-Yaqin Lil Awwabin). Menurut Ustadz Baharmus, yang dikabulkan permohonannya bukanlah orang sembarangan. Mereka itu orang-orang pilihan. Ditanya dipilih apanya, beliau hanya menjawab sambil senyum, “Pokoknya ane percaya sama ente.” Akhirnya, besok Jumatnya saya jadi beneran mengontak Ketua Panitia: “Ustadz, uang sumbangannya sudah ada. Nanti saya bawa ya.”

Infak dari muhsinin Ali Abdullah Ali  Al-Waqyan hasil perjuangan Ustadz Abdullah Said Baharmus nominalnya Rp 75 juta yang diberikan bertahap untuk bangunan berukuran 12,5 x 12,5 m². Saya bolak-balik Jakarta-Sukabumi untuk mengambil cicilan infak sambil menyerahkan 36 foto bidikan kamera hasil  progress pembangunan secara rinci dari waktu ke waktu. Tahap pertama 10 jt diberikan hari Rabu, 4 Agustus 1999, dan tahap ke-5 atau terakhir 10.500.000 diberikan hari Sabtu, 23 Oktober 1999. Ustadz Baharmus sendiri hanya sempat hadir untuk meletakkan batu pertama fondasi bangunan hari Jumat, 6 Agustus 1999, dan tidak pernah melihat jadinya Masjid Al-Yaqin Lil Awwabin saat dinyatakan selesai hari Ahad, 14 Nopember 1999, yang langsung digunakan MTQ Tkt. Kecamatan Gunung Puyuh selama 2 hari, bahkan sampai akhir hayatnya 22 tahun kemudian. Masjid yang berada di tengah-tengah Kampus Seniman Muslim Lemka ini tuntas dibangun 4 bulan, lebih cepat daripada dua saudaranya di Bandung dan Ambon. “Ane percaya saja sama ente,” jawaban yang selalu disampaikannya kalau ditanya mengapa? Tapi beberapa kali beliau mengirim uang untuk buka puasa bersama, mengirim kurma dan mushaf Al-Qur’an sampai mengirimkan 1 unit  lampu gantung penghias masjid.

Masjid Al-Yaqin Lil Awwabin benar-benar “barokna haulahu”. Seperti penuh karomah di tengah masyarakat Kelurahan Karamat. Selain digunakan untuk segala aktivitas ibadah dan sosial, kisah-kisah uniknya juga punya, yang selalu berklimaks dengan barokah.

Pada saat pengukuran lahan, arah kiblat sedikit condong ke kanan sehingga pojok  bangunan mentok ke sisi Barat Laut. Panitia ingin membeli 1½ meter tanah dari tetangga di utara masjid tapi ditolak. Mungkin bermaksud membalas atau menghukum, Panitia menembok dinding utara secara full sehingga menutup rumah tetangga tersebut. Saya minta supaya dinding bata tebal tersebut dirobohkan lagi. Panitia keberatan, tapi saya ngotot, “robohkan!!!” dengan alasan: Pertama, orang itu akan kehilangan akses angin dari selatan. Kedua, dia akan kesusahan sehingga tidak mau masuk masjid. Ketiga, mungkin saja tetangga itu jadi musuh kita atau musuh masjid. Dan keempat, menyalahi gambar karena seharusnya tepian itu diisi tiang-tiang terbuka, bukan dinding. “Orang Arab kalau kecewa, bisa-bisa bantuannya tidak akan lanjut. Pokoknya, robohkan!” pinta saya lagi. Saat nengok minggu depannya, saya lihat dinding utara sudah dirobohkan. Yang menakjubkan, Panitia memperlihatkan secarik SK Wakaf dari tetangga itu berisi pesan: “Dengan ikhlas-rido saya berikan 2½ m tanah saya untuk masjid.” Begitulah kalau dakwah. “Ketika kita keras, beli pun g boleh. Tapi ketika kita lembut, malah dia kasih tanpa harus kita bayar,” komentar saya.

 Setelah masjid jadi, muncul gangguan lain. Seorang anak muda mengancam akan merubuhkan masjid. Preman ini, memang, suka bikin ribut dan rada anti kegiatan masjid. Saya tidak tahu harus bagaimana. Lalu saya laporkan ke Ustadz Baharmus. Ustadz Baharmus  melaporkannya lagi ke waqifnya di Kuwait. Besoknya, Ustadz Baharmus menyampaikan kabar dari Kuwait: “Kata waqif, sampaikan ke anak itu, kalau mau dirobohkan robohkan saja atau kalau mau dibakar bakar saja gak apa-apa.” Selaku imam, Ustadz Mukhtar gemetaran juga, “Bukan karena takut preman itu, lho. Tapi takut kalau beneran masjid kita dirobohkan atau dibakar.” — “Sudah sampaikan saja. Lha whong waqifnya yang mempersilakan, mau dirobohkan atawa dibakar,” timpa saya. Pesan itu betul-betul disampaikan. Pas di minggu depan saat nengok masjid, saya kepergok anak muda itu. Saya duga mau bakar masjid, malah langsung cium tangan saya sambil setengah teriak, “Tad, pokoknya kalau ada yang mau ganggu masjid, nih ana bekingnya” sambil menunjuk dadanya. Langsung saya sambut.  “Alhamdulillah. Pemuda segagah ente mah memang paling pantas jadi beking masjid. Ane percaya aja sama ente,” jawab saya menirukan Ustadz Baharmus.

Masjid Al-Yaqin Lil Awwabin kini sedang direhab dan ditingkatkan jadi dua lantai. Ustadz Baharmus masih terasa hadir di situ. Seakan memberi pesan lewan bait syair Ahmad Syauqi:

 ولدتك أمك ياابن آدم باكيا  #

 والناس حولك يضحكون سرورا

فاجعل لنفسك أن تكون إذابكوا  #

 فى يوم موتك ضاحكامسرورا

“Wahai manusia, ibumu melahirkanmu saat itu engkau menangis, sedangkan manusia di sekelilingmu tertawa gembira.

Maka, jadikanlah untuk dirimu agar ketika mereka menangis di hari kematianmu, hanya engkau sendirilah yang tertawa ria.”

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *