Bila Cina Berkuasa

Bila Cina Berkuasa
Bila Cina Berkuasa
banner 800x800

banner 800x800

banner 500x500

Hajinews.id – Tercekat hati membaca rintihan orang-orang Melayu Singapura yang kian hari kian digulung oleh orang-orang Cina. Umpanya keluhan lelaki bernama Ibrahim kepada Dato Hamidah Oesman, aktivis Barisan Nasional (Malaysia) di situs Sungai Rapat Online.

Ibrahim yang suatu hari bertandang ke Malaysia bertutur dengan nada perih kepada Dato Hamidah. Bahwa sejak Lee Kuan Yew berkuasa pada 1959 menyusul kemenangan Partai Tindakan Rakyat (PAP) dalam pemilihan umum, orang Melayu, pribumi Singapura, mulai ditindas. Atas nama pembangunan, perkampungan-perkampungan Melayu digusur. Penghuninya diharuskan menyewa flat-flat. Mereka yang tidak punya uang terpaksa membangun tenda di tepi pantai, dan kemudian diusir lagi. Kini di Singapura hanya ada beberapa titik perkampungan Melayu. Itu pun tinggal menunggu dirobokan.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Padahal sewaktu kampanye, kenang Ibrahim yang dalam tulisan Dato Hamidah Oesman disebut berumur 71 tahun, Lee Kuan Yew begitu manis mengambil hati orang Melayu. Lee memakai songkok, memasuki surau, makan bersama jamaah masjid . Lee juga kerap berada di sebuah kampung selama 2-3 hari untuk bergotong-royong membersihkan kampung bersama orang Melayu.

Tetapi, manakala Lee berkuasa, dia berubah menjadi Dewa Kemakmuran dan Pahlawan Besar bagi etnis Cina, tetapi menjadi monster bagi etnis Melayu serta semua penduduk Asia Tenggara berkulit sawo matang.

Kini, dalam pemerintahan di Singapura, tidak ada menteri berdarah Melayu asli. Semua jabatan strategis di Singapura ditempati oleh etnis Cina.

Orang Melayu pun diperlakukan secara diskriminatif. Bila mereka memasuki kekawasan sensitif (misalnya markas militer) untuk bekerja, mereka akan diawasi dan dikawal secara ketat. Sebab, tutur Ibrahim, orang melayu Singapura senantiasa dicurigai dan tidak dipercaya.

Bila orang Melayu bekerja di perusahaan milik orang Cina, mereka akan selalu dikalahkan oleh orang Cina. Biasanya, orang Cina akan dinaikkan pangkatnya terlebih dahulu daripada orang Melayu.

Anak-anak Melayu tidak dibolehkan berkerudung ke sekolah. Pemerintah dan aparatur negara yang didominasi etnis Cina, takut kalau-kalau orang Melayu menjadi ekstremis.

Jika bekerja di angkatan bersenjata (National Service), orang Melayu hanya boleh menjadi petugas medis rendahan, tukang bersih-bersih, dan semacamnya. Orang Melayu tidak boleh menjadi tentara dan berlatih menggunakan senjata api. Pemerintah Singapura khawatir, orang Melayu akan menjadi pemberontak.

Budaya Melayu pun digerus dengan kejam. Bahasa Melayu, misalnya, hanya digunakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan “Majulah Singapura”. Bahasa pengantar resmi adalah Bahasa Inggris. Tetapi Bahasa Cina boleh digunakan dengan leluasa.

Di hadapan Dato Hamidah Oesman, Ibrahim meneteskan air mata mengenang nasib saudara-saudaranya sesama orang Melayu di Singapura. Kini etnis Cina mengisi 74,2% dari penduduk Singapura yang sekitar 4 juta jiwa. Orang Melayu 13,4% dan India 9,2%. Sementara Eurasia, Arab dan kelompok lain berjumlah 3,2% dari populasi Singapura.

Ibrahim pun merasa cemas, orang Melayu Malaysia juga akan bernasib serupa dengan orang Melayu Singapura. Sebab kian hari, orang-orang Cina di Malaysia bertambah dominan di berbagai lini dan sektor.

Bagaimana andaikan Ibrahim berkunjung ke Indonesia? Ia pasti akan lebih cemas dan berurai air mata. Ia akan melihat pemandangan memilukan. Orang-orang Cina menguasai hampir semua pusat-pusat bisnis, dari mall sampai rumah toko (ruko). Orang pribumi (Jawa, Sunda, Batak, Ambon, Papua, Padang, dan lain-lain), digebah ke emper-emper atau ke kawasan pinggiran. Hampir tidak ada toko bangunan yang kini dimiliki orang pribumi. Semua milik orang Cina. Di perusahaan-perusahaan milik orang Cina, orang pribumi akan sulit memperoleh jabatan strategis.

Apa jadinya bila nanti orang-orang Cina menguasai pemerintahan, badan-badan perwakilan, jajaraan ketentaraan, kepolisian, kejaksaan, kehakiman media massa, lembaga-lembaga pendidikan negeri, dan lini-lini strategis lainnya.

Oleh karena itu, belajar dari tragedi orang Melayu Singapura dan demi kehormatan pribumi Indonesia, kita bangsa Indonesia, pribumi Indonesia, berhak melindungi rumpun dan ras kita. Yakni dengan menguasai sepenuhnya lini-lini strategis. Presiden, Wakil Presiden, Ketua dan Wakil Ketua MPR, Ketua dan Wakil Ketua DPR, Kapolri, Panglima TNI, Menteri, Rektor dan Wakil Rektor Perguruan Tinggi Negeri, Pemimpin Redaksi media massa, Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Camat, Lurah harus pribumi asli.

Kita pasti akan dicap rasis. Tetapi apakah Lee Kuan Yew bukan rasis? Lebih baik dicap rasis daripada melihat pribumi terpaksa membangun tenda di tepi pantai karena terusir oleh orang-orang Cina.

(Naskah Asli pernah dimuat di Majalah Forum Keadilan)

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *