DUA ARAFAH DI MASA PANDEMI COVID-19

banner 800x800

banner 800x800

banner 500x500

Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar (Seri Edukasi-11/2021)

Setahun yang lalu tiga hari menjelang Iedul Adha, 28 Juli 2020 (dikutip dari tulisan Penulis ke-43 tanggal 28 Juli 2020) : Kasus Dunia : 16.689.533 orang, kematian 647.502 orang.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Sementara Indonesia dengan kasus kumulatif 102.051 orang dan kematian sebanyak 4.907 orang yang dikuburkan dengan protokol kesehatan tanpa dihadiri keluarga.

Kini, 19 Juli 2021 jelang Iedul Adha 1442 H/2021 M, 355 hari setelah Iedul Adha setahun yang lalu, jumlah kasus dunia sudah berjumlah 191.438.059 (Bertambah 11,5 kali), Kematian 4.109.188 orang (bertambah 6,3 kali).

Indonesia, setahun yang lalu tercatat 102.051 orang, kini telah menjadi 2.911.733 orang *(bertambah 28,5 kali)* dan Kematian 4.907 orang menjadi 74.920 orang *(bertambah 15,3 kali)*.

Dari data diatas tampak pertambahan rata-rata kasus Indonesia 2,48 kali lebih banyak dari rerata dunia, dan kematian 2,43 kali lebih banyak dibanding angka dunia.

ARAB SAUDI, JEPANG, AMERIKA SERIKAT, INDIA DAN INDONESIA

Saat ini ARAB SAUDI sebagai “penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah” tempat dimana Ummat Islam bercita-cita memenuhi rukun islamnya melaksanakan Haji, justru ditutup untuk kedatangan jamaah dari manapun diseluruh dunia, termasuk Indonesia yang merupakan Negara dengan kuota haji terbesar didunia.

Aktifitas Haji dan Arafah tahun ini hanya untuk mereka yang berdomisili di Arab Saudi. Ada sekitar 60.000 orang (biasanya kuota total sampai 3 juta jamaah) diperbolehkan berhaji tahun ini, yaitu masyarakat yang berdomisili di Arab Saudi termasuk sejumlah masyarakat Indonesia yang merupakan mukimin di Arab Saudi.

Sementara JEPANG, membuka Pesta Olah Raga kelas dunia, ‘OlimpiadeTokyo 2020’. Masih disebut 2020 karena event ini seharusnya berlangsung setahun yang lalu, dan karena Pandemi Covid-19 diundur dan baru dilaksanakan 23 Juli hingga 8 Agustus 2021 ini.

Menurut CNN, Olimpiade Tokyo 2020 diikuti 206 negara dengan 11.500 atlet (termasuk Indonesia yang mengirim 28 atlet untuk 8 cabang olahraga) memperebutkan 339 medali emas dari 33 cabang olahraga yang digelar di 42 venue di Tokyo dan sekitarnya.

Yang juga menarik 2 Negara paling terdampak Pandemi Covid-19 didunia Amerika Serikat dan India menjadi pengirim atlet terbanyak pada Olimpiade Tokyo.

AMERIKA SERIKAT (dengan kasus kumulatif mencapai 34,9 juta (18,3% dari total kasus dunia) kini dengan pertambahan sehari ini 9.513 orang dan kematian bertambah 31 orang.

INDIA dengan kasus kumulatif 31,1 juta merupakan urutan kedua terbanyak (16,3% dari total kasus dunia), namun kini pertambahan kasus harian sebanyak 38.325 orang dan kematian bertambah sehari 501 menjadi 414.141 orang.

Amerika Serikat, India, Indonesia dan Jepang juga merupakan Negara berpenduduk besar dan berdiam diwilayah yang luas.

AS berpenduduk 333.029.623 jiwa dengan jumlah test Covid-19 sudah mencapai lebih 516 juta, atau 1,5 juta persejuta penduduk.

India dengan penduduk 1.394.160.942 jiwa telah melakukan test sebanyak 443,9 juta atau 318.441 orang persejuta penduduk.

Sedangkan Jepang yang berada diurutan ke-34 telah melakukan 17,5 juta test sehingga mencapai 138.864 test persejuta penduduk.

Indonesia (urutan ke-14 dari 220 negara) dengan penduduk 276.540.989 jiwa telah melakukan 23.346.777 test sehingga mencapai 84.424 test persejuta penduduk.

Dan Arab Saudi yang berada diurutan 45, pertambahan kasus harian kemarin sebanyak 1.055 orang sehingga menjadi 509.576 orang, sedangkan kematian bertambah 12 orang menjadi kumulatif sebanyak 8.075 orang.
Arab Saudi yang berpenduduk 35,4 juta jiwa telah melakukan 23,7 juta test, sehingga mencapai ratio 670.978 test dari sejuta penduduk.

PESAN TEGAS NEGARA TERDAMPAK

4 Negara ini (Amerika Serikat, India, Jepang dan Arab Saudi) memberikan “pesan tegas” tentang seberapa kuatnya kebijakan dan seberapa kuatnya dukungan masyarakatnya.

AMERIKA SERIKAT, saat dipimpin Presiden Donald Trump yang kebijakannya cendrung anggap enteng, bahkan melarang rakyatnya pakai masker mengalami “kiamat besar” sehingga kasus dan kematian meroket tinggi.

Beruntung pemerintahan berganti dipimpin Joe Biden yang berpendapat “dahulukan kesehatan daripada ekonomi, karena ekonomi bisa dikejar setelah kesehatan membaik”. Sikap tegas Presiden Biden untuk melaksanakan Protokol Kesehatan, serta kedekatannya dengan para ahli kesehatan dan penertiban terhadap media yang memberikan mis-informasi kepada masyarakat, menunjukkan hasil yang signifikan. Kasus dan kematian bagai berhenti di Amerika Serikat.

INDIA, yang semula termasuk paling dikhawatirkan karena sanitasi yang buruk dan penduduk yang banyak, awalnya berjalan baik dan terkendali.
Tetapi merasa sudah aman, mendadak terjadi  Tsunami Covid-19.
Menurut para ahli ada 3 penyebab “tsunami covid-19 di India” sehingga Rumah Sakit penuh sesak dan penanganan kematian kewalahan. Penyebabnya adalah lambannya Vaksinasi, munculnya Varian baru (ini merupakan sifat khas virus yang bermutasi sejalan dengan lingkungan host nya) dan diperbolehkannya menghadiri acara keagamaan, yang di India sifatnya massal dan kerumunan super besar sampai jutaan manusia.
Tidak sampai 2 bulan, mulai terkendali.

JEPANG, bukan negara yang tidak terpapar, bahkan sangat buruk kondisinya pada awal hingga pertengahan tahun 2020.
Namun dengan Kebijakan dan kesungguhan serta didukung peran aktif masyarakatnya, Jepang berhasil mengendalikan Virus Covid-19. Sehingga mereka mudah mendeteksi dan mengendalikan, dan berani mengadakan event dunia yang terbuka dan hanya menunda setahun untuk dilaksanakan secara besar-besaran.

ARAB SAUDI, menyadari bahwa sistem internalnya tidak terlalu kuat, dan terbukti kasus di Arab Saudi naik turun sepanjang tahun 2020 dan Posisi jumlah kasus selalu diatas Indonesia.
Mereka konsisten melakukan “lockdown” dan “lockdown” lagi terhadap dunia luar.

Sehingga sudah 2 kali menutup kedatangan jamaah calon haji manca Negara.

Hasilnya Virus Covid-19 di Arab Saudi terkendali dan posisinya kini sudah di urutan ke 45.

Sementara INDONESIA kini menjadi Negara dengan pertambahan Kasus harian dan Kematian harian tertinggi didunia, posisinya naik dan sekarang diurutan 14 dari 220 negara.

Suatu Posisi yang tidak pernah diduga. selain karena lambatnya Test dan kurang optimalnya Tracing (pelacakan kasus terpapar), kini Vaksinasi yang sudah berlangsung sejak pertengahan Januari 2021 dengan target 1 juta perhari seharusnya pada bulan ke-6 sudah mencapai 180 juta dosis penyuntikan dari target 181,5 orang atau 363 juta dosis 1 dan 2. Yang kini bertambah menjadi 208.265.720 target sasaran, karena dimasukkan kelompok usia 11-17 tahun, yang sebelumnya dimulai dari usia 18 tahun.

Ternyata data KPC-PEN pertanggal 18 Juli 2021 menunjukkan bahwa Vaksinasi dosis-1 baru mencapai 41.673.464 orang dan dosis-2 sebanyak 16.274.150. Capaian 57,9 juta dosis 1 dan dosis 2 bermakna capaian kita masih sekitar 16 % (versi 363 juta sasaran dosis) atau 13,9% (versi update 417 juta dosis).

APA YANG TERJADI DENGAN KITA

Jika dibaca dari berbagai media luar, sejak semula para ahli kesehatan dan epidemiolog luar, selalu menyampaikan kekhawatirannya melihat kita yang mereka sebut “Stupidity”.

Mereka mengkhawatirkan sikap “mbandel” kita.

Kompas 16 Juni 2021, mengutip Media Aljazeera yang mewawancarai sejumlah ahli dan menyimpulkan secara rinci dan spesifik sejumlah faktor sebagai pemicu lonjakan kasus sebagai ikutan dari mudik lebaran, yaitu : Tidak adanya kebijakan kesehatan yang kohesif (keserasian diantara stakeholders), Pengujian (Test) dan pelacakan (Tracing) yang tidak efektif, dan Pesan Pemerintah yang membingungkan.

Kini Pemerintah menerapkan PPKM Darurat Jawa Bali mulai 3 Juli hingga 20 Juli 2021 dibawah kordinasi Menko Maritim.
Belakangan Menko Perekonomian (yang merupakan Ketua KPC PEN) mengumumkan PPKM Darurat luar Jawa-Bali pada 15 lokasi mulai 12 Juli.

Dan tampaknya akan diperpanjang karena tren kasus yang masih tinggi.

Apa yang dikutip Aljazeera seharusnya menjadi perhatian serius.
Masyarakat boleh jadi bingung dengan banyak Pejabat Negara yang bicara tentang Covid-19 dan Vaksinasi.

Tidak sekali Bapak Presiden menunjukkan kekecewaannya atas kinerja dan pola komunikasi para pembantunya.

Kondisi itu jelas sangat terasa dimasyarakat.

Psikologi masyarakat kita, setiap mendengar ada Kebijakan Pemerintah, bukan segera mempersiapkan diri dan mematuhi, tetapi menunggu kebijakan perubahan atas kebijakan terdahulu.

Akhirnya, mereka hanya menunggu dan tidak mengubah situasi yang ada.

Satu KOMANDO yang utuh dengan kendali yang kuat, serta pola komunikasi yang segar dan focus serta implementasi yang segaris dan cepat, dengan kemudahan yang bersahabat, sangat dinanti oleh masyarakat.

Khususnya komunikasi, gerakan “Kompak Media” perlu digagasi, sehingga halaman media cetak, jam tayang media elektronik, maupun berita media sosial sudah pada waktunya dimintai komitmen.

Jam tayang hiburan sangat dibutuhkan, tetapi jika hiburan jam tayangnya sampai bablas silih berganti, masyarakat tidak mendapat pendidikan dan informasi yang sehat dan utuh tentang kesehatan dan kewajibannya untuk membantu situasi.

RELEVANSI IEDUL ADHA DI ERA PANDEMI COVID-19

Pada 9 Dzulhijjah para jamaah haji berkumpul di padang Arafah melaksanakan wukuf.

Arafah maknanya mengenal atau mengakui.

Disinilah manusia harus mengenal dirinya dan menyadari setiap apa yang telah dilakukan sepanjang hidupnya.

Tempat ini mengingatkan pertemuan kembali Adam dan Hawa, dan disini Nabi Adam mengucapkan Doa Taubat nya yang tertera dalam Al Qur’an Surah Al-A’raf ayat 23 : “Rabbanaa dzallamnaa anfusanaa wa inlam taghfirlana wa tarhamnaa lanakunanna minal khasiriin”.
Yang artinya : Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat pada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.

Perjalanan Haji juga mengingatkan kita kepada Keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa Pandemi Virus, sudah pernah terjadi pada abad ke-VII tahun 632-634 Masehi yaitu masa kenabian Rasulullah Muhammad SAW, ketika itu terjadi Wabah Tha’un di Negeri Syam, suatu wilayah luas diantara Jordania, Syria, Lebanon dan Palestina/Israel.

Menghadapi wabah tha’un pada zamannya, Rasulullah SAW memberikan 3 cara:

(1).Berdiam diri di rumah (Hadits diriwayatkan dari Aisyah RA. HR.Ahmad),
(2).Tidak mendatangi tempat terjadinya wabah dan tidak meninggalkan tempat terjadinya wabah (HR Bukhari dan Muslim), dan
(3).Mencari Pengobatan dan Mengharap ridho Nya (HR Bukhari),

Bagi mereka yang berlindung dengan mengharapkan ridho Allah, niscaya ia akan mendapat ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid (HR.Ahmad).

Ajaran Islam sangat mendahulukan Kesehatan. Dengan kesehatan seluruh amalan akan terlaksana dengan baik untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Dunia perlu kita jaga dan pelihara untuk menjadi jalan kebaikan menuju akhirat.

Ujian di dunia. Selesaikan di dunia.

Cara yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, sosok yang dikagumi Allah SWT, dapat menjadi TELADAN bagi kita dalam menghadapi dan menghentikan sebaran Virus Covid-19.
Ayoo jalankan Protokol Kesehatan lebih Disiplin dan tunaikan Vaksinasi, karena itu cara efektif menaikkan Antibody.

Selamat Iedul Adha 1442 H.
Semoga Qurban dan Pengorbanan kita diterima Allah SWT,

Mari meneladani Nabi akhir zaman, Rasulullah Muhammad SAW.

Jakarta, 20 Juli 2021
Dr.H.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes :
Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Deputi BKKBN 2014-2017/ Komisioner KPHI 2013-2019/ Pengasuh media sosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *