Gus Baha: Hukum Qurban Ayam di Hari Idul Adha, Boleh atau Tidak?

Gus Baha: Hukum Qurban Ayam di Hari Idul Adha, Boleh atau Tidak?
Gus Baha: Hukum Qurban Ayam di Hari Idul Adha, Boleh atau Tidak?
banner 800x800

banner 800x800

banner 500x500
Hajinews.id Gus Baha dalam suatu pengajian tafsirnya pernah menerangkan tentang pendapat ulama mengenai Qurban ayam pada hari raya Idul Adha.

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa dipanggil Gus Baha merupakan ulama ahli Al-Qur’an dan Hadits.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Dalam pengajiannya kali ini Gus Baha akan membahas tentang hukum Qurban Ayam di hari raya Idul Adha boleh atau tidak?

Diikuti oleh para santrinya, Gus Baha menjelaskan tentang hukum Qurban Ayam di hari raya Idul Adha menurut pendapat ulama.

Gus Baha mengatakan bahwa ia dulu sebelum merantau ke Jogja sering menyembelih atau Qurban Ayam.

“Saya pernah melarat (miskin) pada zaman merantau ke Jogja. Ketika Idul Adha jika tidak punya uang, saya menyembelih ayam atau membeli daging setengah kilo atau beberapa kilo, ” ucap Gus Baha dikutip dari iqra.id, Minggu 18 Juli 2021.

Gus Baha menjelaskan bahwa ada sahabat nabi yang bernama Ibnu Abbas ketika hari raya Idul Adha beliau tidak menyembelih kambing tapi ayam.

“Ibnu Abbas (sahabat Nabi) itu hebat, saat Hari Raya tidak menyembelih kambing tapi menyembelih ayam, ” ucapnya.

Ketika ditanya, “Apa ini Qurban ?” jawabnya, “tidak”.

“Lah kok ayam, apa ada dasarnya (dalil hukum) Qurban ayam?”

“Tidak,” jawab Ibnu Abbas.

” Pokoknya kata Allah, yaumu aklin wa surbin (يوم أكل وشرب), hari makan-makan dan minum. Pokoknya saya ikut Allah. Diingat-ingat.. ” Gus Baha

Gus Baha menjelaskan dalam sebagian hadis, ulama itu khilaf (perbedaan pendapat). Kalau menurut Imam Qurtubi, ada kemungkinan boleh Qurban ayam. Tetapi, jangan ditaruh masjid nanti ditertawakan orang.

Paham nggeh..?

Dalam hal ini Gus Baha setuju dengan alasan Imam Qurtubi karena itu masuk akal, sebab nabi berkata, orang yang berangkat Jum’atan awal/pagi (jam 08.00-09.00) itu fakaannama qarraba badanatan (seolah-olah dia Qurban dengan unta).

Kalau agak mepet, misalnya jam 10.00 itu seperti Qurban sapi. Kalau dekat misalnya jam 11.30 itu sama dengan Qurban ayam, redaksi hadisnya fakaannama qarraba dajatan (فَكَأنَّما قَرَّبَ دَجَاجَةً).

Terakhir, kata Nabi, kalau Jum’atan mendekati khotib akan naik mimbar sama dengan Qurban telur. Nabi mengistilahkan itu “Qurban ”.

Paham nggeh maksudnya?

” Berarti, ketika Idul Adha Qurban telur satu kilo namanya Qurban . Paham nggeh yang saya maksud? ” ucap Gus Baha

Gus Baha mengingat bahwa perihal masalah Ayam dijadikan Qurban jangan dibawa ke masjid karena takut menjadi kontroversial.

“Tapi, agar tidak kontroversi jangan dibawa ke masjid. Pokoknya dipakai sendiri saja. Kalau dibawa masjid kan lucu, ” tegasnya.

Menurut pengamatan Gus Baha, seumpama beneran itu bagus, tapi jangan dibawa ke masjid syaratnya.

” Misalnya satu kampung 300 orang. Yang kaya Qurban sapi, rada kaya Qurban kambing, yang miskin menyembelih ayam. Sehingga tetap ada makan-makan satu kampung, ” jelasnya

” Yang penting pada hari itu yaumu aklin wa surbin, hari makan-makan, ” tambah Gus Baha.

Jadi, kalau melihat hadis menurut Imam Qurtubi itu, seperti Qurban unta, seperti Qurban sapi, seperti Qurban ayam yang Jum’atan mendekati (adzan) dan yang paling belakang kurban telur.

Gus Baha mencoba menceritakan pengalamannya sewaktu mondok dulu jika ia pernah mempunyai teman yang kurang ajar.

“Kok tidak pernah Jumatan di depan, seperti Qurban unta?”

“Indonesia, unta mati, Gus. Belakang saja dapat telur, gampang masaknya.”

“Oh, kurang ajar, cah elek!” Hehehe

Demikian tentang penjelasan hukum Qurban Ayam di hari raya Idul Adha boleh atau tidak menurut pendapat Gus Baha.

Sumber: sukabumi

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar