Haji dan Umrah Simpan Banyak Peluang di Luar Wisata Religi

Daftar Tunggu Haji Sulsel Sampai 43 Tahun
banner 800x800

banner 800x800

banner 500x500

 

 

Bacaan Lainnya


banner 400x400

 

 

 

 

 

Jakarta, Hajinews.id- Kegiatan haji dan umroh merupakan sebuah kegiatan wisata religi yang harus mengedepankan unsur ibadah. Namun, di sisi lain ada peluang lain seperti bisnis atau ekonomi, politik, serta sosial yang harus ditangkap.

Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag), Khoirizi, menyebut dalam satu musim haji setidaknya ada perputaran uang senilai kurang lebih Rp 15 triliun. Sementara, untuk umroh minimal per-orangnya mengeluarkan biaya Rp 25 hingga 30 juta.

“Ibadah haji dan umroh tidak semata-mata memperhatikan nilai-nilai di luar nilai ibadah. Kalaupun ada aspek lainnya, itu hanya sebagai dampak. Kegiatan haji dan umroh tidak bisa disamakan dengan wisata lainnya,” kata dia dalam webinar Indonesia Islamic Marketing Festival 2021 Episode 1, dengan topik ‘Meningkatkan Kualitas Layanan Haji, Umrah, dan Wisata Islami’, Senin (12/7).

Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, disebut Pemerintah Indonesia membuka peluang bagi kemungkinan ekonomi. Bahkan, Khoirizi menyebut dalam setiap kontrak yang dibuat diupayakan dapat membantu aspek ekonomi Indonesia.

Menghadapi era pasca-pandemi Covid-19, ia menyebut penyelenggara perjalanan harus bisa mengambil peluang yang ada, agar ibadah umroh dan haji tidak hanya sebagai aspek ibadah namun juga wisata dan bisnis. Ketika dua aspek ini menjadi target, ada hal yang harus didiskusikan agar tidak menghilangkan esensi utama, yaitu ibadah.

“Harapannya, ke depan aspek ibadah makin kuat, namun peluang yang lain bisa dikedepankan dan ada nilai manfaat yang bisa diraih bersamaan,” lanjutnya.

Khorizi menyebut saat ini Arab Saudi sedang fokus menjalankan Visi 2030, dimana bertujuan melakukan diversifikasi dalam hal ekonominya. Cara ini dinilai harus diadopsi dan ditangkap oleh Indonesia agar tidak ketinggalan langkah dalam upaya menangkap peluang yang ada.

“Pemerintah membuka pintu selebar-lebarnya agar pihak penyelenggara dapat mengambil kesempatan dengan sebaik-baiknya. Kekuatan stakeholder utamanya penyelengagra diharapkan bisa semakin bersatu dalam satu genggaman,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama terkait meningkatkan layanan haji dan umroh, Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Beny Witjaksono, menyebut kegiatan manasik yang kekinian perlu dilakukan namun jangan sampai terlalu kekinian. Hal ini penting diingat melihat kondisi akses teknologi dan internet yang masih belum merata dengan baik.

Sampai saat ini, model manasik di Indonesia masih manual tatap muka dengan memanfaatkan kantor urusan agama yang ada. Teknologi bisa digunakan jika keadaannya memungkinkan.

Terkait wisata Islami atau religi, Beny menyebut ada peluang yang cukup besar di dalamnya. Hal ini mengingat gaya hidup halal kini menuju tren dan ruang lingkup mainstream atau kebiasaan utama dan konsumsi produk maupun layanan halal semakin berkembang.

“Indonesia merupakan daerah wisata Islami yang menjadi harapan dunia ke depan. Muslim adalah pasar sekaligus kesempatan yang besar, sehingga optimisme pemain pariwisata halal sangat besar,” ujar dia.

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *