Penularan COVID-19 Semakin Gampang Dan Dari Positif COVID-19 Sampai Masuk ICU Semakin Cepat?

Penularan COVID-19 Semakin Gampang Dan Dari Positif COVID-19 Sampai Masuk ICU Semakin Cepat?
Penularan COVID-19 Semakin Gampang Dan Dari Positif COVID-19 Sampai Masuk ICU Semakin Cepat?. Foto/ilustrasi
banner 500x500

banner 800x800

banner 800x800

Oleh Masrifan Djamil, Pakar kesehatan masyarakat, dosen POLKESMAR, Ketua PDUI JATENG, Ketua LITBANG PP IPHI, tinggal di Semarang

Hajinews.id – Tadi malam ada saudara saya menelepon sambil nangis-nangis, mantunya positif COVID-19 5 hari yang lalu sesak nafas, ditolak di RS Telogorejo karena penuh. Mantunya saudara saya lelaki, masih muda, usia 30 tahunan. Sebelumnya sudah ke IGD RSUP Dr. Kariadi juga ditolak karena penuh. Saya berusaha kontak teman-teman sejawat di RS sekitar, sejawat di 3 RS berhasil saya kontak, akhirnya yang menerima adalah RSI Sultan Agung. Prinsip dokter IGD nya sungguh luar biasa, “Baik dok segera dikirim saja kalau sesak, ke IGD RSI Sula, walaupun belum ada ICU, di IGD akan kami tolong dulu”. Mungkin karena disana masih ada space di IGD-nya. Pagi ini saturasi oksigen keponakan sudah membaik.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Kisahnya klasik, pasangan baru mempunyai anak usia 1 tahun karena lama tidak mudik, mereka mudik ke Labuhan Bajo karena berbakti kepada orang tua (mantu saudara saya itu asalnya Labuhan Bajo). Setelah datang kembali ke Semarang si mantu demam, periksa dikira tifus, lalu di-test antigen COVID-19 positif tanggal 2 Juni 2021. Kalau hari kemarin sesak nafas, maka tampaknya perlu waktu 6 hari sejak dia positif.

Teman lain yang di Rembang dinyatakan positif sampai memerlukan perawatan ICU karena sesak nafas juga 6 hari. Tulisan ini bukan analisis akurat epidemiologi karena N (jumlah kasus)nya hanya dua. Tetapi kalau menyimak tulisan seorang teman tentang hebohnya Kudus dimana suara Speaker TOA masjid tidak seperti lazimnya, yakni mengumumkan kematian setiap hari ada 4-5 pengumuman kematian. Fakta bahwa RS sekitar Kudus penuh dengan penderita COVID-19 dari Kudus, pagi ini running text TVRI mennginfokan 32 bus penuh penderita COVID-19 dari Kudus menuju Asrama Haji Jateng di Donohudan Boyolali. Fenomena ini sungguh luar biasa. Ini ledakan dahsyat. Para pakar Kesehatan Masyarakat dan pakar Epidemiologi di Kudus atau mungkin Fakultas Kesehatan Masyarakat di sekitar Kudus harus segera turun ke lapangan untuk survai cepat, untuk menentukan mode of transmission, berapa hari masa inkubasi, time of onset penyakit ini yang terbaru, waktu mulai sakit sampai membutuhkan ICU karena sesak nafas, gejala dan tanda apa saja yang timbul.

Tampaknya kecepatan penularan COVID-19 di Kudus dan Semarang atau mungkin se JATENG jauh lebih cepat dari COVID-19 sebelumnya. Dan waktu mulai sakit sampai membutuhkan ICU karena sesak nafas bisa jadi lebih cepat, apakah karena varian baru sudah beredar di sekitar kita? Perlu juga penelitian virology. Algoritma sebelumnya memberi guidance para dokter, seseorang positif COVID-19 sampai sesak nafas dan harus dirawat ICU karena sesak nafas membutuhkan waktu 11 hari, namun tampaknya dari kisah di atas ada perubahan menjadi lebih pendek. Maka menurut saya perlu langkah-langkah cepat yaitu 1. Dilakukan penelitian epidemiologi dan kesehatan masyarakat secara cepat. 2. Masyarakat harus bangun dari tidurnya, jangan terus-menerus percaya hoax baik dari artikel dan video yang selalu menolak adanya COVID-19. Itu pembodohan. Dan bisa membayakan kesehatan dan kehidupan kita.

Tidak perlu lagi menyatakan COVID-19 itu hanya rekayasa akibat hoax di medsos, bahkan yang lebih kejam dan sadis pernyataan warga medsos “RS (tentu termasuk SDM profesionalnya) MENCOVID-KAN semua pasiennya”. Pejabat yang dulu di TV mengawali statement adanya PENG-COVID-AN oleh RS mungkin jadi sebab semakin sulitnya pemahaman atas kenyataan COVID-19 dan pencegahannya, sebaiknya beliau klarifikasi ulang di TV. Misalnya dengan menyatakan “RS yang mencovidkan pasien ternyata hanya satu dua, dan yang nakal adalah oknumnya, sudah ditangani. Sekarang kita harus waspada, penularan COVID-19 semakin cepat, kematian juga meningkat, maka mari kita cegah penularan COVID”. Mengapa harus demikian? Karena masyarakat kita adalah PATERNALISTIK dan setelah kabar heboh “PENGCOVIDAN” tindak lanjutnya tidak juga jelas. Sedangkan ancaman jika masyarakat tak percaya COVID-19 amat membahayakan upaya preventifnya, telah terbukti.

Sebagai pesan terakhir dari artikel ini, perlu disampaikan kepada semua rakyat Indonesia, bahwa pada pasien COVID-19 muncul tanda-tanda yang tidak ada pada penyakit manapun, yaitu antara lain GGO (ground glass opacity) di paru-parunya (deteksinya dengan Rontgen atau MRI), badai sitokin (dengan laboratorium), adanya proses masuk virus SARS-CoV-2 yang selalu menempel pada molekul ACE2 (hasil penelitian), anosmia (kehilangan daya penciuman), ageusia (kehilangan rasa pada lidah), dan jika diperiksa swab tenggorok (nasopharynx) dapat diidentifikasi SARS-CoV-2. Jadi jelas memang ada penyakit baru yang dinamai COVID-19. Karena orang sehat kalau diswab hasilnya negatif, jadi tidak semua orang kalau ditest swab pasti PCR positif. Untuk melengkapi info, bisa menyimak video youtube penjelasan COVID dengan cara pengajian dari pakarnya (DR. Dr. Erlina Burhan, SpP K, M.Sc):

Tidak benar dan konyol-lah statement HOAX di medsos yang menyatakan bahwa semua orang kalau diperiksa test COVID-19 akan positif. Jadi janganlah anda dibuat bodoh oleh “hantu”. Mengapa saya sebut “hantu”? Karena anda juga tidak tahu yang membuat artikel, berita atau video tentang COVID-19 itu, alias tak ada yang bertanggung jawab. Anggap saja hiburan karena anda punya WA dan WA grup.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar