WHO Ungkap Ratusan Ribu Orang di Dunia Meninggal akibat Jam Kerja Panjang yang Picu Stroke dan Sakit Jantung

WHO Ungkap Ratusan Ribu Orang di Dunia Meninggal akibat Jam Kerja Panjang
WHO Ungkap Ratusan Ribu Orang di Dunia Meninggal akibat Jam Kerja Panjang. foto/ilustrasi
banner 500x500

Hajinews.id – Jam kerja yang panjang sudah menjadi perdebatan sejak lama sekali.

Banyak pihak yang menilai jika jam kerja panjang sangatlah membebani para pekerja meskipun di satu sisi bisa menghasilkan hasil maksimal untuk tempatnya bekerja.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Namun, tahukah kalian, jika sebenarnya bekerja dalam waktu yang sangat panjang sangat berbahaya bagi kesehatan?

Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa bekerja dalam waktu yang lama dapat menimbulkan risiko kesehatan kerja yang membunuh ratusan ribu orang setiap tahunnya.

Dilansir dari laman Kabar Lumajang dalam artikel Studi WHO Terbaru Ungkap Jam Kerja Panjang Sebabkan Ratusan Ribu Orang Tewas, Begini Penjelasannya, sebuah studi baru yang dirilis oleh WHO mengungkap jika bekerja lebih dari 55 jam per minggu dapat menimbulkan “bahaya kesehatan yang serius.”

Dalam studi tersebut ditunjukkan jika ratusan ribu orang meninggal setiap tahun karena jam kerja yang panjang, dan pandemi Covid-19 justru dapat memperburuk keadaan.

“Jam kerja yang panjang telah menyebabkan ratusan ribu kematian setiap tahun, dalam tren yang diperburuk oleh ketidakamanan ekonomi akibat pandemi virus corona,” tulis WHO, seperti dikutip dari laman dw.com, pada Senin, 17 Mei 2021.

Dalam studi global pertama tentang hilangnya nyawa terkait dengan jam kerja yang lebih lama, sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Environment International menunjukkan bahwa 745.000 orang meninggal karena stroke dan penyakit jantung yang terkait dengan jam kerja yang panjang pada tahun 2016, menandai peningkatan hampir 30% dari tahun 2000. .

Studi tersebut juga mencatat bahwa jumlah orang yang bekerja dengan jam kerja yang panjang terus meningkat, dan saat ini telah mencapai 9% dari total populasi global.

“Bekerja 55 jam atau lebih per minggu merupakan bahaya kesehatan yang serius,” kata Maria Neira, direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan WHO, seperti dikutip dari laman dw.com.

“Yang ingin kami lakukan dengan informasi ini adalah mempromosikan lebih banyak tindakan, lebih banyak perlindungan terhadap pekerja,” imbuhnya.

“Pandemi COVID-19 telah mengubah cara kerja banyak orang secara signifikan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Teleworking telah menjadi norma di banyak industri, seringkali mengaburkan batas antara rumah dan pekerjaan.”

“Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyetujui batasan untuk melindungi kesehatan pekerja,” tambah Ghebreyesus.

WHO dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan bahwa 398.000 orang meninggal karena stroke dan 347.000 karena penyakit jantung pada tahun 2016 akibat bekerja setidaknya 55 jam seminggu.

Antara tahun 2000 dan 2016, jumlah kematian akibat penyakit jantung terkait dengan jam kerja yang panjang meningkat sebesar 42%, dan akibat stroke sebesar 19%.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu dikaitkan dengan perkiraan peningkatan risiko stroke 35% dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik 17% lebih tinggi, dibandingkan bekerja 35 hingga 40 jam seminggu.

Staf WHO, termasuk Ghebreyesus, mengatakan mereka telah bekerja lebih lama selama pandemi. Capping hour akan bermanfaat bagi pengusaha karena telah terbukti meningkatkan produktivitas pekerja, kata petugas teknis WHO Frank Pega.

“Benar-benar pilihan cerdas untuk tidak menambah jam kerja panjang dalam krisis ekonomi,” katanya.

Sumber: portaljember

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *