Telah Digunakan Secara Luas, Studi Ungkap Terapi Plasma Darah Pasien Corona Tidak Efektif

banner 500x500

Hajinews – Sebuah hasil studi di Inggris memperlihatkan terapi plasma darah untuk pemulihan pasien infeksi virus corona (Covid-19) tidak efektif.

Laporan itu berdasarkan hasil penelitian Institut Penelitian Kesehatan Nasional yang didanai Dewan Penelitian Kedokteran.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Uji coba itu berlangsung di 177 rumah sakit yang dikelola Badan Jaminan Kesehatan (NHS) di seluruh Inggris, dengan melibatkan 11.558 pasien yang memenuhi syarat sebagai penerima penyembuhan melalui metode plasma darah.

Studi itu menggunakan metode acak, label terkendali dan terbuka untuk menilai beberapa kemungkinan perawatan pasien yang dirawat di rumah sakit di Inggris yang terinfeksi Covid-19.

Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui lebih jauh laporan mengenai efektivitas terapi plasma terhadap pasien Covid-19. Sebab ada sejumlah pasien yang diobati dengan plasma darah penyintas yang mengandung antibodi anti-SARS-CoV-2.

Menurut laporan itu, plasma darah penyintas Covid-19 digunakan secara luas di luar uji klinis, termasuk lebih dari 100 ribu pasien yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

“Pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19, plasma pemulihan dengan titer tinggi tidak meningkatkan kelangsungan hidup atau hasil klinis yang ditentukan sebelumnya,” demikian hasil kesimpulan studi itu, dikutip dari The Lancet pada Senin (17/5).

Studi tersebut dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dan tingkat efikasi terapi plasma darah yang mengandung antibodi SARS-CoV-2 pada pasien yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19.

Menurut paparan hasil studi itu, dari rentang waktu 28 Mei 2020 sampai 15 Januari 2021 ada sebanyak 11.558, atau sekitar 71 persen, dari 16.287 pasien yang terdaftar dalam pemulihan itu memenuhi syarat untuk menerima terapi pemulihan dengan plasma darah. Mereka menjalani terapi itu dalam kelompok plasma penyembuhan atau kelompok perawatan biasa.

Berdasarkan hasil penelitian itu, angka risiko kematian pasien Covid-19 yang menjalani terapi plasma darah tak berbeda dari pasien biasa.

Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam angka risiko kematian pasien corona dari pengamatan yang dilakukan dalam rentang 28 hari. Angka rasionya 0.95.

Dalam hasil studi itu, angka kematian pasien terapi plasma darah mencapai 1.399 orang, atau 24 persen dari 5.795 pasien.

Sementara jumlah kematian pasien yang tidak menjalani terapi plasma darah mencapai 1.408 orang, atau sekitar 24 persen dari 5.763 pasien.

“Rasio tingkat kematian 28 hari sama di semua sub kelompok pasien yang ditentukan sebelumnya, termasuk pada pasien tanpa antibodi SARS-CoV-2,” demikian isi hasil temuan studi itu.

Alokasi untuk terapi plasma darah juga tidak berpengaruh secara signifikan pada proporsi pasien yang dipulangkan dari rumah sakit dalam 28 hari. Artinya terapi plasma tak menurunkan jumlah pasien rawat inap Covid-19 di rumah sakit.

Saat dibandingkan, persentase tingkat kepulangan pasien virus corona yang menjalani terapi plasma darah mencapai 3.832 orang atau 66 persen, dengan 3.822 pasien atau 66 persen pasien dalam kelompok yang menjalani perawatan biasa.

Dari sana diketahui rasio tingkat pasien rawat inap hanya 0.57.

“Kami tidak melihat bukti manfaat atau bahaya material apapun plasma pemulihan di setiap sub kelompok pasien,” lanjut isi hasil studi itu.

Di antara pasien infeksi corona yang tak menggunakan ventilator juga tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam proporsi tingkat kematian pasien. Rasio kedua kelompok itu berkisar di angka 0.79. (dbs).

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *