Menteri Bahlil Membuka Harapan Baru Investasi Kesehatan [Seri Edukasi 8]

banner 500x500

#Pendekatan Inklusif Menteri Budi Dorong Pembangunan Kesehatan

#Kolaborasi Budi dan Bahlil, Harapan Kebiasaan Baru Kesehatan Indonesia

Bacaan Lainnya


banner 400x400

 

Oleh : Dr.H.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes

Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Deputi BKKBN 2014-2017/ Komisioner KPHI 2013-2019/ Sekretaris KKI 2006-2008/ Kepala Pusat Promkes Depkes RI 2008-2010/ Ses.Itjen Depkes 2010-2011/ Direktur Bina Yankes Tradkom Kemenkes 2011-2013/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI

 

Hajinews — Sambutan kunci (keynote speech) Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyentak lebih 100 peserta Webinar yang diselenggarakan media sosial GOLansia.com pada kamis 6 Mei 2021 yl yang dipandu dengan hangat oleh DR.Haslinda Daulay sang penggagas GOLansia.com, yang juga Ketua III PB IIDI, didukung Hermina Group, PP IPHI, PB IIDI dan IIK Bhakti Wiyata Kediri.

Menteri Investasi dengan jelas dan mimik tegas mengatakan bahwa saatnya Indonesia berinvestasi di bidang kesehatan secara mandiri. Menurutnya mengutip pernyataan Menristek Bambang Brodjonegoro bahwa besarnya impor bahan baku obat Indonesia pada saat ini sudah mencapai 95% yang juga menegaskan Industri Kimia Indonesia tertinggal. Demikian pula alat kesehatan sebagian besar adalah impor.

Jika ditambah lagi dengan tingginya pajak pemasukan barang alat kesehatan yang disetarakan sebagai barang mewah maka apa yang disampaikan oleh Menteri Investasi berkorelasi dengan tingginya harga obat, diikuti dengan tingginya biaya berobat di fasilitas kesehatan dan efek buruknya patut diduga menyebabkan tingginya peredaran obat tidak resmi dan obat palsu.

Disisi lain juga mendorong banyaknya orang Indonesia yang berobat ke luar negeri bahkan kadang hanya untuk konsultasi kesehatan, baik ke Malaysia, Singapura, Australia, Thailand bahkan ke Cina dan Jepang dikarenakan selain teknologi Indonesia yang boleh jadi sedikit tertinggal tetapi yang pasti menurut mereka yang pernah berobat di luar negeri pelayanannya baik, cepat, murah dan terhitung.

Terhitung maksudnya setiap tindakan dapat dibuat perhitungan nilai bayarnya sebelum tindakan dilakukan sehingga banyak orang Indonesia benar-benar merasa diperlakukan secara beradab.

Media sosial GOLansia.com (yang didirikan tahun 2018) sengaja mengangkat tema Webinar yaitu “Kesehatan Sebagai Aset dan Investasi”.

Isu Kesehatan sebagai Aset dan Investasi sudah lama dikenal, namun sejak terjadinya Pandemi Covid-19 pada akhir tahun 2019, bagaikan membuka “kotak Pandora”, yang membuka fakta betapa rentannya kualitas kesehatan dan ringkihnya status kesehatan sebagian masyarakat. Sementara itu Pandemi Covid-19 belum tahu kapan berakhirnya, belum ada gambaran tren penurunan dan terkendali, masih berfluktuasi dan bahkan kini terjadi ledakan baru sebagai Gelombang kedua dan Gelombang Ketiga, dengan tingkat keganasan yang lebih tinggi dan cepat di beberapa Negara.

 

SEBAGIAN BESAR YANG TERKONFIRMASI DENGAN PENYAKIT PENYERTA (KOMORBID)

Dari berbagai sumber, termasuk BPS dan Balitbangkes Kemenkes memperlihatkan bahwa mereka yang terkonfirmasi Virus Covid-19 adalah kelompok usia 6-45 tahun yang mobilitas tinggi (aktivitas diluar rumah) sebanyak 62%, sementara yang meninggal kelompok usia di atas 46 tahun hingga lanjut usia yang umumnya banyak berdiam di rumah (stay at home, sesuai anjuran Pemerintah) sebanyak 77%.

Data penyebab meninggal karena adanya Komorbid Hipertensi (13,2%), Diabetes (11,7%), Penyakit Jantung (7,5%), Penyakit Ginjal (3,1%), Penyakit Paru Obstruktif Kronis (2,3%).

Sebesar dan seburuk apa kondisi kesehatan masyarakat kita, terkonfirmasi dengan Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) yang menggambarkan Beban Penyakit Tidak Menular (lihat Tabel).

Tampak jelas Prevalensi (populasi yang memiliki faktor risiko) Hipertensi sebanyak 58,7 juta (34,10% dari seluruh penduduk Indonesia berusia di atas 18 tahun). Ada sebanyak hampir 100 juta orang atau 53% dari seluruh populasi berusia di atas 15 tahun dengan Obesitas (over weight) yang tentu menyimpan banyak faktor risiko sakit. Dan 21,2 Juta penderita Diabetes atau 10,9% dari populasi.

Semua bukan angka yang boleh diabaikan. Banyak Negara menghadapi kesulitan besar dan terancam bankrut karena besarnya biaya (Anggaran Negara) yang tersedot untuk menutup biaya kesehatan masyarakat.

Melihat jenis penyakit, tidak berhubungan dengan penularan dan keturunan. Semua hanya karena “gagal konsep atau tanpa konsep hidup sehat”. Terlahir sehat, sayangnya setelah berpengalaman hidup, berpendidikan bahkan sudah berpenghasilan, malah mengundang risiko penyakit dengan bergaya hidup tidak sehat.

Di era pandemi covid 19 ditengarai terjadi penurunan kualitas kesehatan secara masif dikarenakan menurunnya kunjungan konsultasi sakit dari masyarakat penderita penyakit kronis yang khawatir keluar rumah karena takut penularan virus covid-19, di samping itu terjadinya pula penurunan kuantitas pelayanan pada fasilitas kesehatan.

Dari data Pusdatin Kemenkes 2019 dan 2020, tampak capaian indikator SPM pada 7 jenis pelayanan semua menunjukkan penurunan yang signifikan termasuk pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir hingga pelayanan usia lanjut. Cakupan Imunisasi menurun 58,3%, kegiatan Posyandu berhenti 45,9%, Tidak terselenggaranya 39,9% kegiatan kunjungan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) sebagai pengukur Kualitas Kesehatan Keluarga, sementara Pelayanan KB pun terhenti hingga 78%. Demikian pula Praktik Dokter mandiri yang tutup.

Penurunan jumlah pelayanan kesehatan dipastikan akan meninggalkan persoalan besar di bidang kesehatan dalam beberapa tahun kedepan. Perlu upaya antisipatif sejak dini.

 

TRANSISI EPIDEMIOLOGI YANG AKAN MENGGERUS SEMUA SUMBERDAYA

Sejak Tahun 1990 sukses Pembangunan Nasional yang dipicu Pembangunan yang semakin meluas dan beraneka, Suksesnya Program KB, Transmigrasi yang sedang tumbuh dan mulai menjadi arus balik, membuka ruang aktivitas warga lintas wilayah makin deras didukung ekonomi yang membaik.

Disaat yang sama mulai muncul Transisi Epidemiologi akibat Pusat pertumbuhan yang hanya berputar di wilayah tertentu, Proporsi Anggaran Kesehatan yang hanya dibawah 2% dari total APBN, Akses masyarakat yang masih sulit untuk mendapat pelayanan kesehatan berkualitas, mal-distribusi tenaga kesehatan.

Prof.Farid Anfasa Moeloek sosok yang peduli pada kesenjangan kualitas pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, saat menjadi Menteri Kesehatan di era Presiden Soeharto (16 Maret 1998-21 Mei 1998) dan Presiden BJ Habibie (21 Mei 1998-20 Oktober 1999) menggagasi Konsep PARADIGMA SEHAT yang menempatkan Kesehatan sebagai aset dan investasi.

Pendekatan Promotif dan Preventif menjadi yang terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. Kala itu sudah mulai menunjukkan prestasi dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index Indonesia yang sudah dibawah angka 100), tampak indikator komposit Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang semakin membaik. Setelahnya, Indonesia tampak tangguh menghadapi berbagai wabah Virus yang melanda Indonesia dan Dunia.

Sejak era Reformasi, perhatian lebih banyak kepada aspek Politik, dan tampaknya sampai sekarang belum banyak bergeser. Disisi lain transisi epidemiologi penyakit berjalan terus dan abai kajian prediksi dan antisipasi.

Dalam 27 tahun, Penyakit Tidak Menular telah melesat naik seratusan persen seperti Stroke, Penyakit Jantung Iskhemik dan Diabetes menggeser Penyakit menular. Penelitian Balitbang Kesehatan dengan pengukuran DALY-Lost (Disability Adjusted Life Year) memperlihatkan angka kematian yang menunjukkan buruknya kualitas kesehatan.

Selain masalah lingkungan dan sanitasi termasuk ketersediaan air bersih yang belum optimal, masalah Perilaku kesehatan mengalami penurunan yang dahsyat. Angka proporsi perokok yang kini tertinggi di dunia. Kelompok usia perokok muda jauh meningkat di Indonesia.

Agus Suprapto, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK menambahkan bahwa Prevalensi perokok dibawah 18 tahun terus meningkat (9,1% pada Riskesdas 2018), 23 dari 100 remaja laki-laki usia 13-15 tahun merokok. Penelitian BPS 17-21% penghasilan Rumah Tangga digunakan untuk belanja rokok. Sehingga umumnya keluarga perokok bukan hanya beresiko sakit tetapi juga kekurangan asupan gizi.

Kebiasaan ini berkontribusi besar terhadap semua Komorbid yang menjadi pemberat terjadinya gagal nafas karena Virus Covid-19.

 

RENTANNYA KUALITAS KESEHATAN

Buruknya kualitas kesehatan yang berakar dari rendahnya penghargaan (mindset) kesehatan sebagai asset dan investasi, menyebabkan orang-orang usia produktif kehilangan hari-hari produktifnya dan berdampak pada produktifitas kolektif, diikuti hilangnya kesempatan dan tergerusnya Anggaran public maupun private untuk belanja kesehatan yang semakin meningkat.

Apa yang salah?. Jelas konten Promosi Kesehatan yang semakin hilang dimasyarakat. Tentu tidak hanya poster dan jargon, tetapi perlu gerakan massif menyasar di seluruh tingkatan pendidikan dengan materi kesehatan yang semakin disesuaikan sejak anak usia dini melalui (PAUD), hingga Hukum kesehatan pada pendidikan lanjutan.

Mindset Kesehatan sebagai Tanggungjawab Individu dan kolektif harus sudah selesai bersamaan dengan selesainya pendidikan lanjutan.

Kedepan, dunia akan memasuki era baru penyakit tanpa Obat dan tanpa Vaksin. Bahkan Virus ditengarai menjadi senjata murah namun pemusnah massal. Selain ledakan Stunting yang mengintai.

Berangkat dari pengalaman Pandemi Covid-19, Bangsa Indonesia harus mendapat Pembelajaran untuk memasuki era Kebiasaan Baru. Kebiasaan Baru harus sudah punya desain dan model, diikuti dengan adanya Law Enforcement. Kesehatan bukan Asesori, Tetapi Aset dan Investasi.

BPJS Kesehatan harus ubah konsep, menjangkau penyediaan pembiayaan kesehatan pada aspek Promotif dan Preventif, termasuk Pelayanan KB dan pelayanan kesehatan konsultasi.

Perhatian juga perlu serius mengembangkan Pelayanan Kesehatan Tradisional dengan semua produk hulu dan hilirnya, dimana Indonesia merupakan pemilik terbesar kearifan yang sudah diakui dunia.

 

MEMBANGUN KONSEP SEHAT SEBAGAI ASET DAN INVESTASI

Menarik testimoni yang disampaikan DR.Bambang Harsono Suhartono,MBA tokoh Jawa Timur yang kini berusia jelang 78 tahun tetapi tampak tetap fit. Selain pola hidup yang teratur, pola makan terukur tidak berlebihan, olahraga yang ringan teratur serta keluarga yang harmonis.

Bambang mendedikasikan dirinya membantu masyarakat. Banyak terlibat dalam kegiatan sosial, selalu hadir membantu dalam berbagai peristiwa bencana alam. Atensinya menghantarkannya menjabat Gubernur Distrik Lions Club Internasional Distrik 307-B2 yang harus mundar mandir dari Jawa Barat hingga Papua (lebih 10 Provinsi). Ikut rekonstruksi Tsunami di Aceh, Pangandaran hingga Erupsi Gunung Agung Bali, semua urusan sosial. Di samping berbagai aktivitas bisnis, juga sempat mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi Kesehatan di Kediri pada tahun 1985 dan semakin dikembangkan menjadi Institut Ilmu Kesehatan pada tahun 2005, dengan 4 Fakultas dan 22 program studi serta memberi banyak kesempatan beasiswa.

Kiat sehat bugarnya, karena “olahraga dan donor darah”. Donor darahnya sudah lebih 170 kali.

Pak Bambang mungkin bukan model umum yang bisa diikuti banyak orang. Tapi PENGHARGAANNYA kepada waktu, kesehatan, kesempatan dan interrelasi dengan sesama, sebagian besar kebiasaan baik itu, bisa dilakukan siapapun bagi diri sendiri, bagi keluarga maupun lingkungan sekitar, sekecil apapun itu. Itulah model yang memberi harga tepat untuk Kesehatan sebagai Investasi.

Ajakan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia tidak hanya gagasan, tetapi sekaligus tantangan dan ajakan yang untuk itu menyediakan lahan seluas 200 Hektar di suatu Kabupaten di Jawa Tengah untuk digunakan sebagai tempat berinvestasi bidang kesehatan kepada siapa saja dengan berbagai macam kemudahan yang akan diberikan oleh Kantor Kementerian Investasi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan pendekatan Inklusif nya tentu tidak melepas peluang strategis dan futuristik ini.

Kolaborasi Budi dan Bahlil menjadi solusi Kesehatan Indonesia di era Kebiasaan Baru. Jakarta, 15 Mei 2021.

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *