Bersahabat tapi Tidak Menjilat, Dakwah Amar Maruf Nahi Munkar Muhammadiyah

Bersahabat tapi Tidak Menjilat, Dakwah Amar Maruf Nahi Munkar Muhammadiyah
Abdul Mu'ti
banner 500x500

Hajinews – “Anggapan yang salah itu muncul karena dua hal. Antara tidak mengetahui khazanah amar maruf nahi munkar Muhammadiyah ataupun karena kesalahan memahami konsep amar maruf nahi munkar itu sendiri,” kata Abdul Mu’ti dalam Pengkajian Ramadan PWM DKI Jakarta, Ahad (2/5/2021).

Dia menilai selama ini amar maruf nahi munkar itu dianggap berbeda. Padahal, itu satu kesatuan. “Kalau amar makruf itu bahasa gampangnya ‘jadilah orang baik’, kalau nahi mungkar itu ‘jangan nakal,’ lanjut tokoh yang akjrab disapa Abe tersebut dikutip dari web resmi Muhammadiyah.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Karena itu, bagi Mu’ti, nahi mungkar pun wajib dilakukan dengan cara yang makruf, bukan dengan cara yang mungkar.

Dia menjelaskan, konsep amar maruf nahi munkar pun memiliki pengertian beragam oleh masing-masing kelompok. Karena itu, membawa penafsiran nahi mungkar kelompok lain kepada Muhammadiyah dianggap tidak tepat dan tidak sesuai.

“Selama ini kita memaknai nahi mungkar dengan cara-cara yang pro kekerasan dan bernuansa kekerasan. Itu bukan pilihan Muhammadiyah. Cara amar makruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara yang makruf,” tegasnya.

Jika nahi mungkar Muhammadiyah di tingkat kultural dilakukan dengan cara musyawarah, kata dia, nahi mungkar Muhammadiyah di tingkat struktural juga menggunakan tiga pendekatan. Yaitu opinion maker (membuat opini), lobi, dan political pressure (tekanan politik).

Pendekatan kultural dan bukan konfrontasi seperti ini, lanjut Mu’ti, telah dilakukan Kiai Ahmad Dahlan ketika menghadap Sultan Hamengkubuwono agar mengubah penentuan waktu Idul Fitri dari hitungan tradisional ke hitungan kalender (hisab).

“Nah cara-cara sepeti ini sudah dilakukan Kiai Dahlan, tapi oleh sebagian orang dianggap cara yang lembek. Tapi, menurut saya bukan lembek karena ini efektif memberikan hasil, seperti yang dilakukan Pak A.R. Fachruddin ketika menyampaikan aspirasi kepada Pak Harto,” imbuhnya.

Bagi Mu’ti, cara-cara persuasif itu lebih berguna daripada cara-cara yang konfrontatif dalam melakukan amar maruf nahi munkar. “Pendekatan-pendekatan persuasif itu lebih efektif dan dalam beberapa hal itu diikuti (berhasil) walaupun kita semua tidak menyadarinya,” ungkap Mu’ti.

“Bersahabat tapi tidak menjilat. Insya Allah dengan cara itu Muhammadiyah akan selamat,” pungkasnya.

Sumber: klikmu

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *