Al-Wala’ Wal-Bara’ dalam Pandangan Buya Yahya

Al-Wala’ Wal-Bara’ dalam Pandangan Buya Yahya
Buya Yahya


banner 500x500

Hajinews – Istilah al-wala’ wal-bara’ menjadi tema perdebatan belakangan ini. Hal ini karena ada kelompok berpaham ekstrem, karena mudah mengkafirkan, menggunakan istilah al-wala’ wal-bara’ sebagai dasar mengkafirkan sesama Muslim dan permusuhan terhadap non-Muslim. Lebih jauh, kelompok ekstrem tersebut melancarkan permusuhan dan perang terhadap Muslim lain yang sebelumnya telah dituduh murtad.

Ekstremis Muslim yang dimaksud dalam hal ini adalah kelompok Salafi-Jihadi. Menurut Shiraz Maher, al-wala’ wal-bara’ merupakan salah satu pilar utama ajaran kelompok Salafi-Jihadi; selain doktrin jihad, takfir, tauhid, dan hakimiyyah (Salafi-Jihadism The History of an Idea, 2016).

Bacaan Lainnya

banner 800x800

banner 400x400

Para ulama di Timur Tengah memberi respon yang beragam. Sebagian berpendapat bahwa al-wala’ wal-bara’ merupakan ajaran Islam yang prinsipil. Sebagian lagi menolaknya karena tidak ditemukan dalam literatur keislaman; baik primer maupun sekunder. Sebagian ulama lainnya memilah, model penafsiran terhadap al-wala’ wal-bara’. Kelompok ini menolak penafsiran yang bersifat ekstrem, namun menerima konsep al-wala’ wal-bara’ yang moderat. Konsep al-wala’ wal-bara’ yang moderat ini adalah sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

Sebagaimana di Timur Tengah, al-wala’ wal-bara’ juga menjadi tema yang cukup banyak dipertanyakan di kalangan masyarakat Indonesia. Para agamawan juga telah menjelaskan dengan penjelasan yang beraneka macam. Mulai yang mendukung, menolak hingga memilah-milah.

Salah satu tokoh agama, pendakwah, yang pernah memberikan ulasan tentang al-wala’ wal-bara’ adalah KH. Yahya Zainul Ma’arif atau yang populer dengan sebutan Buya Yahya. Dalam channel Youtube yang dikelola tim medianya, pernah ada jamaah yang bertanya tentang al-wala’ wal-bara’. Jamaah tersebut bertanya, “Saya ingin bertanya mengenai al-wala wal bara’, yang sering dikutip sebagian ustadz. Apakah akidah Aswaja Asy’ariyyah juga mengenal akidah al-wala’ wal-bara’ tersebut?”

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Buya Yahya mengatakan:

“Al-wala’ wal-bara’ memang secara khusus, bab khusus, hampir secara khusus tidak pernah dibahas dalam kitab-kitab akidah. Akan tetapi maknanya sudah dipahami, bagi yang sudah belajar akidah yang benar. Al-wala’ wal-bara’ itu maknanya, wala’ kecintaan, al-bara’ cuci tangan, atau bebas. Maksudnya, siapakah orang yang harus kita bela dan kita cintai, dan siapakah orang yang harus kita perangi dan kita musuhi. Bahasanya seperti itu, bara’. Dia adalah bukan bagian dari kita. Yang wala’, siapa yang kita harus punya wala’ kepada mereka. Loyalitas, pengabdian, pengorbanan. Ini dalam Islam, ya seperti itu memang ada. Cuma di sini ada orang yang menyalahgunakan istilah ini untuk memusuhi semua orang. Sehingga misalnya, setiap orang kafir harus jadi musuh kita. Lha Ini salah. Padahal, di sana ada ahli dzimmah. Orang kafir Nasrani Yahudi yang hidup berdampingan dengan kita, Nabi mengajari kita untuk menghormati mereka. Maka sekarang ada kelompok yang mudah mengkafirkan dengan istilah ini. Ini adalah istilah benar tapi disalahgunakan.”

Dari jawaban tersebut dapaat dipahami bahwa Buya Yahya mengakui jika istilah tersebut sering dikaitkan dengan masalah akidah. Sekalipun jika dirujuk dalam kitab-kitab akidah, tidak akan ditemukan istilah tersebut. Khususnya kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyyah. Karena tidak ditemukan dalam kitab-kitab akidah, yang artinya ini adalah istilah baru, maka ia harus ditelaah model penggunaannya. Dalam praktiknya, ada beberapa pihak yang menggunakannya secara serampangan sehingga menyebabkan permasalahan, yaitu memusuhi semua pihak.

Buya Yahya mencontohkan, seringnya penggunaan istilah tersebut untuk memusuhi seluruh Non-Muslim. Ini merupakan penggunaan yang salah-kaprah. Karena, Nabi SAW tidak mengajarkan demikian. Sebaliknya, Nabi SAW mengajarkan agar umat Islam menghormati Non-Muslim yang tidak memusuhi umat Islam yang disebut dengan istilah ahlu dzimmah.

Buya Yahya juga menegaskan bahwa yang biasa menggunakan istilah tersebut secara serampangan adalah kaum takfiri. Yaitu kelompok yang mudah mengkafirkan. Istilah ini harus dikembalikan dalam penggunaan yang benar. Loyalitas, pengabdian dan pengorbanan memang harus ditujukan kepada Allah dan agama Islam. Permusuhan dan perang harus ditujukan kepada pihak-pihak yang memusuhi dan memerangi. Harus dijalankan secara benar, moderat dan penuh keadilan.

Pandangan Buya Yahya ini berada di posisi tengah-tengah, tidak menolak mentah-mentah, tidak pula menerima secara bulat dan membabi buta untuk membenarkan segala tindakan yang dianggap bagian dari sikap kesetiaan kepada Islam.

Buya Yahya menambahkan, kita hendaknya juga tidak seperti sikap sebagian orang yang melupakan sama sekali pentingnya pembelaan kepada sesama umat Islam. Jangan sampai, ketika ada non-Muslim diganggu lalu kita lantang bersuara. Tetapi, ketika ada Muslim yang diganggu menjadi diam saja. Ini juga sikap yang kurang tepat.

Terlepas dari sikapnya yang kedua, sikap Buya Yahya terhadap al-wala’ wal-bara’ mengingatkan kita kepada pendapat Syarif Hatim Al-Auni, dari Arab Saudi, yang mengajak agar penafsiran terhadap al-wala’ wal-bara’ dilakukan secara proporsional. Tidak melebihi batas. Kesetiaan kepada Islam merupakan keharusan agama. Tetapi, menjadikannya dasar pembenaran ideologi atau tindakan yang membabi buta dan jelas-jelas merusak, merupakan bentuk kekeliruan. Pemahaman al-wala’ wal-bara’ harus seiring dan tidak boleh bertentangan dengan prinsip dalam ajaran Islam yang menekakan toleransi, cinta kasih, dan moderasi (wasatiyyah).

Demikian sedikit penjelasan tentang al-wala’ wal-bara’ dalam pandangan Buya Yahya. Semoga penjelasan ini dapat menambah wawasan kita bersama. Khususnya, al-wala’ wal-bara’ dalam pandangan Buya Yahya.

Sumber: harakah

 

Facebook Comments
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *