Ada Apa dengan Vaksinasi Usia Lanjut? Target 21,5 Juta Baru Tercapai 7,74 % [SERI EDUKASI 5]

banner 500x500

banner 800x800

Oleh: Dr. Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI

 

Bacaan Lainnya

banner 800x800

banner 400x400

#10 Kabupaten/Kota terbaik, bisa diatas 26-93% #Perang Melawah Wabah, bukan Perang Gerilya #DMI tawarkan Program Masjid Sentra Vaksinasi

Jakarta, Hajinews — Sejak Senin 8 Februari 2021, dimulainya vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat berusia di atas 60 tahun di seluruh Indonesia, yang ditargetkan hingga berakhir tahapannya pada akhir April 2021, dari Evaluasi sementara pada awal April. Dari target sebanyak 21,5 juta di seluruh 34 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota, ternyata baru

PALING BERESIKO TERINFEKSI COVID-19 (Sumber : Balitbangkes, Kemenkes 2020)

Terinfeksi 6-45 Th = 61,2%


Meninggal > 46 Th = 77,5%


Ko-morbid mencapai 1,7 juta untuk Dosis 1 atau 7,74% dan 210.000 Dosis ke-2.

 

ADA APA DENGAN PARA KOMUNITAS LANJUT USIA?.

Sudah jelas publikasi dan sosialisasi lebih setahun berjalan, betapa para lanjut usia merupakan kelompok usia paling rentan dan fatal dalam menghadapi infeksi virus Covid-19. Dari data Balitbangkes Kemenkes, diketahui bahwa 61,2% kasus terkonfirmasi Covid-19 adalah mereka yang berusia 6-45 tahun. Dan 77,5% kematian terjadi pada kelompok usia 46 keatas, termasuk para lanjut usia.

Mengapa angka fatalitas pada lansia termasuk di atas usia 46 tahun (Note : ini juga suatu tragedi memilukan bahwa orang Indonesia usia di atas 46 tahun menjadi bahagian dari group rentan dan ringkih terhadap serangan penyakit), semua karena telah mengidap penyakit kronis tidak menular atau PTM yang dalam konteks paparan Infeksi Virus Covid-19 lebih dikenal sebagai Ko-morbid atau penyakit penyerta.

Beberapa Ko-morbid atau penyakit yang menyertai mereka yang terinfeksi dan terkonfirmasi Covid-19, adalah 13,2% hipertensi (tekanan darah tinggi), 11,7% Diabetes, 7,6% Penyakit Jantung, 3,1% Penyakit Ginjal, 2,4% Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), 1,7% Gangguan Nafas, dll.

Persentase di atas bisa dibandingkan dengan data terbaru kasus terkonfirmasi di Indonesia yang berada pada posisi ke-20 dari 219 Negara di dunia, yang menurut publikasi WHO updated 6 April 2021 berjumlah 1.542.516 orang, bertambah dalam sehari sebanyak 4.459 kasus, kematian 41.977 orang (yang bertambah 162 orang) dan 114.566 orang dalam status kasus aktif (dalam perawatan, intensif maupun isolasi). Ada penurunan kasus namun masih tinggi angka kematian, serta masih banyak dalam status perawatan.

 

DIMANAKAH PARA LANSIA ?

Komunitas usia lanjut Indonesia menurut perkiraan BPS di tahun 2020, mencapai 28,8 juta atau 11,34% dari total penduduk. Usia lanjut adalah proses alami yang tak dapat dicegah, semakin tahun kelompok usia ini semakin membanyak, sejalan dengan meningkatnya umur harapan hidup yang sejalan pula dengan adanya peningkatan lama masa pendidikan, perbaikan kualitas kesehatan dan perbaikan ekonomi.

Indonesia masuk Lima Negara dengan populasi lansia terbanyak di dunia dan akan terus meningkat. Diperkirakan pada tahun 2050, populasi lansia akan meningkat 3 (tiga) kali lipat, sekitar 80 juta.

Populasi yang diperkirakan 40% memiliki 2-4 jenis penyakit penyerta (Komorbid), sekitar 20% mereka tinggal bersama pasangan dan lebih 9% hidup sendiri. Balitbangkes mencatat hampir 90% mereka tidak menyadari punya masalah kesehatan.

Akibat kurangnya persiapan menuju masa lansia, sebagian besar mereka tidak terlibat berbagai aktivitas kemasyarakatan maupun program Pemerintah, seperti yang diselenggarakan oleh BKKBN melalui kelompok kegiatan (poktan) seperti Bina Keluarga Lansia/BKL, oleh Kemenkes/Dinas Kesehatan melalui Posyandu Lansia/Posbindu, maupun kegiatan yang diselenggarakan Kemenag dan Kemensos/Dinas Sosial di Daerah.

Pandemi Covid-19 dengan berbagai informasi yang massif, baik naratif maupun visual, ditimpali dengan banyak berita hoaks, serta menurunnya secara drastis kegiatan dan hari pelayanan dan pertemuan dengan kelompok komunitas lansia, boleh jadi menyebabkan lansia jauh dari informasi ancaman virus Covid-19.

Maka tidak mengherankan ketika publikasi tentang capaian Vaksinasi bagi lanjut usia yang diprioritaskan pada kesempatan pertama bersama kelompok Tenaga kesehatan dan Aparatur Pemerintah, terlihat sangat tertinggal dan memprihatinkan.

34 Provinsi se Indonesia capaian vaksinasi Dosis ke-1 hanya 7,7%, berada diantara capaian terendah Sulawesi Barat (0,23%) dan Aceh (0,40%) dengan yang tertinggi DKI Jakarta (52,98%) dan Bali (15,78%). Target Vaksinasi harian adalah 276.000 orang, sementara capaian berjalan masih sekitar 25.000 atau 10%.

Pendekatan Otonomi tidak bisa sepenuhnya digunakan dalam menghadapi wabah yang luas dan meluas tanpa batas dan menjangkau seluruh wilayah sesuai aktivitas dan mobilitas manusia.

Pendekatan “komando” dengan mendorong Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, sudah tepat dan harus dikedepankan. Keahlian tehnis dan militer sangat memudahkan mereka bersama masyarakat untuk menemukan sasaran. Letjen (TNI) DR.Doni Monardo, suatu ketika mengatakan “Kenali dirimu, kenali musuhmu. 1.000 kali kau berperang, 1.000 kali kau akan menang”, strategi yang dikutipnya dari filsuf Sun Tzu.

ADAKAH YANG MULAI MENANG?

Beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota tampak mampu mengelola tantangannya dengan cermat dan tertib, sehingga menuju kemenangan. Kemenangan dalam perang menghadapi wabah, bukan seperti perang gerilya, siapa paling bisa bertahan lama. Tidak, perang melawan wabah harus dikenali sebagai perang cepat dengan strategi tepat dan berani.

Kita menghadapi sejumlah variable bebas dan dinamis, seperti kemungkinan Virus mengalami mutasi menjadi lebih ganas dan cepat meluas, seperti yang terjadi dibeberapa Negara di Erofah dan Afrika sehingga menerapkan lockdown dan membatasi aktivitas keluar rumah hanya dalam radius 10 kilometer, yang dilihat melalui Handphone dari aplikasi GPS nya.

Hal lainnya lagi terkait kualitas Vaksin, yang dipengaruhi oleh tempat penyimpanan, saat penggunaan Vaksin agar segera digunakan untuk 10-11 penyuntikan, juga masa kadaluarsa vaksin.

Artinya tugas aparat terkait (boleh plus, dengan meminta dukungan Babinsa, Babinkamtibmas, Satpol PP, Pramuka, Remaja Mesjid, dan banyak lagi) untuk mendata, menginformasikan hingga mengajak dan membawa para lansia pada hari H penyuntikannya.

Harap dimaklumi, dengan kondisi kesehatan dan mobilitas sebagian besar lansia yang terbatas, harus diimbangi dengan kemampuan “inklusif” jajaran Kesehatan agar sasaran terjangkau.

Kita apresiasi kepada 10 Provinsi dan 20 Kabupaten/Kota yang mampu masuk kedalam jalur menuju sukses Vaksinasi bagi Lansia.

Sejumlah Kabupaten/Kota juga mampu mencapai yang tertinggi, sekalipun secara Nasional masih merupakan bahagian dari capaian yang rendah.

Keberhasilan capaian Vaksinasi Dosis-1, yang terendah (posisi ke 20 dari 514 Kab/Kota) adalah Kabupaten Sleman, DIY yakni 26,59% dan yang tertinggi adalah Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta yakni 93,30%. Itu tidak hanya karena perkotaan, tetapi Kabupaten Pulau Seribu, DKI Jakarta bisa mencapai 62,73%, demikian pula Kabupaten Bulungan Bali mencapai 48,51% dan Klungkung 31,26%.

 

Dalam bahasa Menkes RI, pak Budi Gunadi Sadikin dengan pendekatan INKLUSIF atau merangkul stakeholders untuk menjangkau sasaran, semua jadi mudah dan ringan.

 

KONSEP MASJID SEBAGAI SENTRA VAKSINASI

Ketua Umum PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang pada awal kejadian Pandemi Covid-19 tahun 2020 menggagasi penyemprotan desinfektan pada 10.000 Masjid dan mengajak Pimpinan Organisasi Agama untuk sama-sama melakukan desinfektanisasi rumah-rumah ibadah telah memberi sumbangan besar dengan kecilnya kejadian Kluster sebaran virus Covid-19 di rumah ibadah. Tercatat dari detikhealth hingga akhir 2020 di Jakarta, di rumah ibadah Gereja 4 kluster dengan 41 kasus, dan 6 kluster di Masjid dengan 126 kasus .

Beberapa hari yang lalu, Pak JK, sang Ketua Umum PP DMI, mengatakan Mesjid dapat menjadi tempat vaksinasi Covid-19. Di Mesjid yang memiliki banyak ruangan diluar ruang ibadah tempat sholat, sarana dan halaman yang luas, serta berada di daerah pemukiman ramai, bahkan ada yang memiliki Klinik dan Ambulans, akan sangat membantu Pemerintah mencapai target 1 juta Vaksinasi perhari.

Pendekatan ini memang unik, yaitu pendekatan komunitas, dimana penekanannya lebih kepada mendorong peranserta masyarakat, termasuk dalam mengambil keputusan, sehingga akan meningkatkan kepesertaan dan keterlibatan masyarakat.

Gagasan Pak JK langsung disambut pak Menkes, Budi Gunadi Sadikin dengan langsung sowan kepada pak JK dan dengan pendekatan Inklusifnya mengajak DMI.

Momentum ini pada tempatnya dimanfaatkan oleh jajaran Kemenkes, khususnya Pemerintah Daerah yang sudah mendapat mandat Menteri Keuangan RI menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU) yang menyediakan 8% anggarannya untuk pengendalian Covid-19 utamanya program Vaksinasi.

Insya Allah. Jumat 9 April 2021, PP DMI bersama Kemenkes RI dan Pemko Depok Provinsi Jawa Barat, didukung anak-anak muda millenials Remaja Mesjid yang terhimpun dalam PRIMA akan mencanangkan Program Masjid Sentra Vaksinasi (MSV).

Kota Depok dengan penduduk 2,4 Juta, tentu didiami 11 % lansia atau sekitar 250.000 orang lansia. Jika diskenariokan Program ini dilakukan pada 4-5 MSV, maka rata-rata mendapat sasaran 50.000 orang. Dengan pelayanan 500 orang perhari, akan selesai dalam 100 hari plus 30 hari untuk Dosis kedua, sehingga menjadi 130 hari ditambah hari tanpa kegiatan untuk istirahat dan desinfektan menjadi sekitar 150 hari atau 5 (lima) bulan.

Ratusan bahkan ribuan masjid lainnya berperan sebagai “feeder” (pengumpan), membawa lansianya secara terorganisir oleh DKM/ Kenadzirannya sesuai jumlah dan tanggal yang ditetapkan.

Banyak yang bertanya bagaimana menemukan lansia jika mereka tidak datang. Secara sosial, sesama jamaah rumah ibadah bisa memberikan informasi. Secara administrasi, seorang Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) bisa dimintai bantuan data mutakhir yang dimilikinya by name by address. Artinya jika digunakan pendekatan komunitas dan inklusif, maka cakupan rendah tak akan terjadi.

Ini adalah gagasan rasional, praktis dan cepat untuk Indonesia Sehat. Sistem kerja ini intinya adalah Gotongroyong.

 

MARI SUKSESKAN VAKSINASI COVID-19.

Sumber: Kanal-kesehatan.com

 

 

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *