Sepele tapi Berefek Besar! IDI : Jendela Harus Dibuka selama Pandemi Corona, Ini Alasannya ?

Bapak Presiden Siap Jadi yang Pertama Disuntik Vaksin IDI juga Bersedia
Daeng M Faqih. (Foto Detik)
banner 500x500

Hajinews.id – Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih meminta agara pemerintah menyosialisasikan anjuran membuka ventilasi atau jendela di semua ruangan atau tempat umum, baik tempat usaha, perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dan lainnya.

Pasalnya hal itu bisa jadi sebuah cara pencegahan penyebaran virus, selain himbauan untuk melakukan protokal kesehatan 3 M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Ia menyampaikan dengan tindakan sederhana seperti membuka jendela, maka dapat menghilangkan viral load dari orang tanpa gejala.

“Ventilasi yang terbuka dapat menghilangkan viral load dari orang-orang yang asimtomatik atau orang tanpa gejala. Jika tidak ada jendela maka bisa menggunakan pembersih udara atau air purefier,” jelas Daeng lewat keterangan pers, Kamis (11/3/2021).

Melansir dari Wartakota, Daeng menerangkan, dari data yang didapat, penularan virus dapat melalui aerosol, sehingga paling sulit mengendalikan orang-orang yang asimtomatis atau tanpa gejala.

WHO mengingatkan dunia bahwa penyebaran SARSCOV-2 adalah transmisi airborne (melalui droplet udara) microdroplets (5pm). Transmisi aerosol tidak mesti batuk atau bersin, bernapas normal juga dapat menularkan. Ketika bernapas dan berbicara pun dapat mengeluarkan virus.

“Apabila ada seseorang yang terinfeksi baik bergejala maupun tidak bergejala, secara tidak disadari mengembuskan napas pun dapat menyebarkan virus,” tuturnya.

Dilaporkan, saat orang terinfeksi akan menyebarkan virus dengan rata-rata penularan terjadi 35% dari droplet (terutama jarak dekat), 57% dari inhalasi (microdroplet), dan hanya 8.2% dari kontak.

Pada keadaan ruangan yang tertutup, di mana udara berputar-putar, atau transmisi pada ruang konferensi dengan udara AC yang berputar-putar, maka berpotensi menjadi masalah. Oleh karena itu, sistem ventilasi pada umumnya saat ini adalah dengan menggunakan AC central, dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet, maka virus SARS-CoV-2 dapat bertahan hidup hingga 3 jam dalam ruangan.

“Jadi jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier), yang dapat menyaring dan membunuh virus 99,9%. Sehingga kegiatan sekolah, kantor, tempat usaha dapat kembali aktif,” jelas dr Daeng

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *