Kisah Inspiratif! Jusuf Hamka, Mualaf yang Ingin Bangun Seribu Masjid

banner 500x500

banner 800x800

Hajinews.id – Alun Josef atau yang lebih dikenal dengan nama Jusuf Hamka adalah seorang pengusaha sukses di bidang kontruksi. Dirinya dilahirkan di Samarindadan pada Desember 1957 dan merupakan keturunan dari keluarga Tionghoa.

Pengusaha keturunan China ini sudah menjadi seorang mualaf sejak tahun 1981 atas tuntunan Buya Hamka. Untuk mensyiarkan agama Islam, Jusuf Hamka kemudian berkeinginan untuk membangun 1.000 masjid bernuansa China pertama di Indonesia.

Bacaan Lainnya

banner 800x800

banner 400x400

Dengan sisa umur yang ada, Jusuf berupaya membuktikan ucapannya, tidak hanya membangun, target 1.000 masjid juga akan diwujudkan lewat program renovasi masjid apabila ada yang memintanya melakukan. Masjid pun akan direnovasi dengan corak serupa.

Selain membangun dan merenovasi, Jusuf telah memberikan wasiat kepada anak-anak dan para cucu hingga cicitnya kelak, agar meneruskan janjinya mendirikan 1.000 masjid dari Sabang sampai Merauke.

Membangun 1.000 masjid bukanlah ambisi untuk seorang Jusuf, bukan pula sebagai pertanggungjawaban sosial dari seorang pengembang jalan tol, mengingat beberapa masjid yang telah dibangun berada di zona bisnis miliknya.

“Bentuk rasa terimakasih saya kepada Allah dan ini bukan berbisnis, kita tunjukkan Islam yang ‘Rahmatan lil’alamin, Islam yang makmur, bukan kita sok, kita mulai coba tunjukkan itu,” kata Jusuf dengan logat Betawinya.

Bagi Jusuf Hamka Masjid Babah Alun menjadi sarana syiar Islam, sebagai destinasi wisata religi yang bebas didatangi masyarakat dari manapun juga. Bahkan untuk memudahkan wisatawan Tiongkok bila berkunjung ke sana, petunjuk informasi di dalam masjid hanya bertuliskan bahasa Indonesia dan aksara China.

Melalui masjid dengan akulturasi budaya tersebut, Jusuf ingin menyampaikan bahwa Islam merupakan agama luluhur bangsa China sebelum komunisme masuk ke Negeri Tirai Bambu, seperti yang disampaikan Buya Hamka kepadanya.

Bukan hanya masjid yang diperbanyak olehnya, Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk itu juga akan melebarkan program berbagi untuk sesama tidak mampu lewat Warung NKRI atau Warung Kuning Pojok Halal dan sedekah ‘drive thru’ di jalan tol yang digagas olehnya.

*Persatuan bagi Indonesia*
Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha kaya raya, Jusuf Hamka juga dikenal dermawan juga rendah hati. Jusuf  hafal betul dengan makna sila ketiga Pancasila yakni Persatuan Indonesia. Mungkin buah dari pembelajaran yang didapat dari orang tua angkatnya Mantan Wakil Presiden RI ketiga, Adam Malik dan diperkuat didikan nilai Islam dari sang ayah angkat Buya Hamka.

Dalam buku semi otobiografi “Babah Alun Naik Haji”, Jusuf menceritakan momen kehilangan atas wafatnya sang orang tua angkat Adam Malik tahun 1984 saat dirinya naik haji pertama kali. Di saat bersamaan dirinya tengah teringat pesan dari ayah angkat, yakni “Kau tidak boleh mengkhianati hati nurani mu atau perasaan batin mu sendiri. Batin mu akan berasa bahagia apabila permohonan-Nya padamu telah kau isi dengan ibadah. Maka jangan sekali-kali kau kecewakan Dia,” nasihat Almarhum Buya Hamka.

Jusuf dikenal sebagai pribadi yang santai sehingga memudahkannya bersosialisasi dan bersilaturahmi dengan berbagai kalangan masyarakat. Dikenal sebagai pribadi yang mengedepankan rasa kemanusiaan, nasionalisme dan menyerukan persatuan Indonesia, begitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto mengenal sosoknya ditulis dalam kata pengantar buku “Babah Alun Naik Haji”.

Dalam setiap kesempatan menghadiri acara sosialisasi ataupun silaturahmi, Jusuf selalu mengacungkan tiga jari yang merupakan representatif dari sila ketiga Pancasila.

Baginya, jika masyarakat Indonesia mengatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati, maka persatuan Indonesia adalah harga pasti. Karena kalau tidak bersama Indonesia akan porak poranda, dengan bersatu Indonesia teguh, begitu pun jika bercerai akan runtuh.

Menurut Jusuf, dengan persatuan Indonesia tidak ada lagi istilah pribumi dan non pribumi. Istilah itu sudah ketinggalan atau norak di zaman sekarang ini. Caranya menyerukan persatuan Indonesia dengan bersatu dalam keberagaman.

“We are Indonesia one nation (kita Indonesia satu bangsa) tanpa embel-embel,” katanya.

Di masa pandemi COVID-19 tidak mengurangi aktivitas Jusuf Hamka untuk terus menggalakkan aksi sosialnya lewat warung NKRI akan ditambah outlet (toko)- nya setelah ada di Sunter, Kemayoran dan Taman Lembang, akan hadir di wilayah Cilandak, Jakarta Selatan.

Secara sederhana Yusuf mencontohkan kalau sampai ada masyarakat yang lapar maka keamanan dan ketertiban nasional juga terganggu sehingga sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk mendukung saudara-saudara sesama anak bangsa yang tengah kesulitan.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
1
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *