Produk Asing

Produk Asing
ilustrasi: produk asing
banner 500x500

banner 800x800

Oleh: Heppy Trenggono

Hajinews – Untuk kesekian kalinya Presiden menyampaikan agar digaungkan cinta produk Indonesia. Menariknya, pernyataan Presiden kali ini juga dilengkapi dengan permintaan agar digaungkan benci produk asing. Menurut saya ini pernyataan penting dan perlu difahami lebih lanjut.

Bacaan Lainnya

banner 800x800

banner 400x400

Sebagai sebuah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia, Indonesia menjadi incaran berbagai bangsa di dunia untuk memasarkan produk – produk mereka, dan yang kita lihat kita kedodoran dalam menghadapi persoalan ini. Tahun 1980an Indonesia swasembada pangan tapi sekarang justru tergantung impor, dulu banyak sentra sentra ekonomi pertanian dan industri, sekarang justru meredup hingga tutup. Jadi dalam perspektif ini pembangunan kita sebenarnya sedang bergerak mundur.

Persoalan produk sangat fundamental dalam ekonomi. Sederhananya produk asing itu ekonomi asing, produk Indonesia itu ekonomi Indonesia. Di balik sebuah produk banyak hal yang telah dan akan terjadi. Disampaikan Presiden Habibie dibalik sebuah produk itu ada jam kerja, artinya angka pengangguran juga ditentukan disitu, belum lagi berbicara tentang kemana uang akan diinvestasikan lagi setelah produk itu terjual. Jika uang pemerintah dan uang masyarakat terlalu banyak digunakan untuk membeli produk asing maka yang akan bertumbuh bangsa lain, bukan bangsa sendiri.

Berbagai kampanye tentang produk Indonesia telah kita dengar sejak lama, namun hingga saat ini masih saja kita jumpai pola pikir yang sesat.

Sesat pertama, disebut produk Indonesia jika kandungan lokalnya lebih dari sekian persen. Nah, VOC menjual produk Indonesia, tapi bikin miskin bangsa kita. Kita perlu definisikan ulang, produk Indonesia yaitu produk yang dibuat di Indonesia dan dimiliki bangsa Indonesia. Definisi ini menjadi penting karena yang kita bicarakan adalah pembangunan ekonomi nasional, artinya mau nggak mau menyangkut nasionalisme, darimana nasionalisme ini kita harapkan jika bukan dari anak bangsa sendiri? Di Australia selalu kita jumpai berbagai produk yang dengan bangganya menulis “Owned by Australian”, Pemiliknya orang Australia, itu yang mereka sampaikan, tidak cukup bicara tentang asal produk, tapi siapa pemilik produk itu. Margareth Thatcher ketika menghadapi kesulitan ekonomi di masa awal pemerintahannya menyerukan gerakan “Buy British!”, British yang dimaksud adalah orang, bukan sekedar barang.

Sesat kedua, menganggap produk Indonesia tidak dibeli karena kalah kualitas. Masalah sebenarnya bukan pada kualitas tapi karena tidak adanya pembelaan dari para pemimpin dan dari masyarakat terhadap produk anak bangsa sendiri.

Coba kita lihat, produk air minum dalam kemasan, kenapa tetap saja yang mendominasi produk asing? Apakah ini persoalan kualitas? Kualitas yang mana? Air air juga juga bentuknya, tapi tetap saja produk anak anak kita tidak dibeli oleh masyarakat.

Pesawat terbang buatan Indonesia. Korea Selatan bahkan menggunakannya sebagai pesawat kepresidenan setelah pesawat CN235 kualitasnya teruji sangat handal ketika secara tidak sengaja pilot Korsel mendaratkannya tanpa roda. Tapi di dalam negeri BUMN Merpati justru memilih membeli pesawat MA60 dari Cina yang kualitasnya jauh dibawah CN235. Seorang pejabat mengatakan pada saat itu “Apa salahnya beli dari Cina?”. Kita melihat MA60 yang dibeli berjatuhan satu persatu bersama jatuhnya BUMN Merpati. Kembali pertanyaannya, apakah benar persoalannya ada pada kualitas produk?

Jadi membangun ekonomi dalam negeri bukan terletak pada produknya, tetapi pada pembelaannya.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *