Teknologi Sumur Zamzam yang Dibuat Insinyur Arab Yahya Koshak

Teknologi Sumur Zamzam yang Dibuat Insinyur Arab Yahya Koshak
ilustrasi: air zamzam
banner 500x500

banner 800x800

Hajinews – Seorang tokoh yang dijuluki ‘Bapak Insinyur Saudi’, Yahya Hamza Koshak meninggal dunia di usia 80 tahun, pada Rabu (3/3). Kepergian Yahya Koshak meninggalkan kesedihan mendalam bagi sejumlah warga Arab Saudi karena jasanya melestarikan sumur Zamzam.

Sebelum meninggal, Koshak amat aktif dalam melestarikan sumur zamzam di dekat Ka’bah. Sebagian besar hidupnya diketahui dicurahkan untuk menjaga dan membuat sumur Zamzam bermanfaat buat umat di sana.

Bacaan Lainnya

banner 800x800

banner 400x400

Koshak merupakan lulusan jurusan teknik di Arab Saudi dan Amerika Serikat. Saat berkuliah, dia pernah membuat penelitian tentang sumber daya air di sekitar Makkah, serta penelitian tentang penggunaan sinar ultraviolet (UV) untuk membersihkan dan memurnikan air dari sumur Zamzam.

Melansir Arabian Knight, Koshak sempat tinggal sekitar 150 meter dari depan Gerbang Al Safa Masjidil Haram saat masih kecil. Di kediamannya saat itu, Koshak kerap melihat para peziarah dan warga yang saling berdesak-desakan untuk minum air dan berwudhu di sumur Zamzam.

Kondisi itu kemudian membuatnya prihatin dan berpikir bagaimana hal itu tidak terus terjadi.

Selain itu, Koshak bercerita bahwa orang-orang menggunakan ember dan berbagai peralatan untuk menimba air dari sumur zamzam. Namun pihak berwenang tidak ingin hal itu terus terjadi karena tidak higienis.

Kala itu, Koshak mengaku ayah menyarankan agar pompa digunakan untuk menimba air.

Namun, saran itu mendapat banyak keberatan, tidak hanya dari pemasok Zamzam tradisional tetapi dari mereka yang percaya bahwa air hanya boleh diambil dengan ember, serta kekhawatiran bahwa suara pompa akan mengganggu jamaah yang mengelilingi Ka’bah.

Di tengah situasi itu, Koshak pun pergi ke Jerman untuk mengevaluasi dan melihat spesifikasi pompa submersible terbaru. Hasilnya, pompa pertama dipasang di dalam sumur dan diikuti dengan pemasangan pompa kedua sebagai alternatif jika pompa pertama mengalami masalah.

“Kualitas air membaik dengan adanya pompa. Sekarang pompa mengambil air dari kedalaman lima atau enam meter. Itu menjadi keyakinan saya bahwa air zamzam harus sampai ke peminumnya dalam kondisi bersih dan higienis,” ujarnya.

Sebelum meninggal, Koshak juga tercatat pernah menjadi Direktur Jenderal Departemen Air dan Saluran Pembuangan untuk Wilayah Barat Arab Saudi.

Yahya Hamza Koshak, insinyur Arab Saudi yang melestarikan sumur air Zamzam di Mekah meninggal dunia.
Ilustrasi sumur air Zamzam di Mekah. (Mohammad Bahareth via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-2.0))
Saat menjabat, dia melakukan studi ekstensif tentang pekerjaan teknik yang diperlukan untuk saluran di sumur Zamzam dekat Kakbah untuk desinfeksi air dan menerapkan sistem radiasi ultraviolet untuk mengendalikan bakteri.

Dia juga membangun jaringan ganda di Mekah untuk meningkatkan kualitas air minum dan penggunaan kembali limbah sebagai air daur ulang sekunder untuk pertanian dan penggunaan lainnya.

Selain itu, dia juga menginisiasi pemindahan pintu masuk ke sumur dan menentukan cara terbaik untuk mendistribusikan air di dalam Masjidil Haram, serta mengelola air hujan, drainase, dan sistem pembuangan limbah.

“Ini juga memberi saya kesempatan untuk mewujudkan impian hidup saya dan mensterilkan air Zamzam dengan cara yang memastikan bahwa air tersebut mempertahankan kualitas karakteristik dan rasa yang khas,” kata Koshak.

Hal lain yang dilakukan Koshak untuk sumur zamzam adalah meningkatkan sumur Zamzam dan melindunginya dari rembesan. Koshak juga sempat ditugaskan untuk mempelajari sumber sumur, bukaan feeder, dan menentukan apakah sumber air lain bocor ke dalam sumur.

“Jadi, hubungan misterius antara sumur dan saya terus berlanjut,” ujarnya.

Kecintaan Koshak pada sumur zamzam juga dituangkan dalam sebuah buku berjudul ‘Zamzam, Air Suci’ yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1983.

Koshak juga memproduksi film dokumenter berjudul ‘Zamzam: Nourishment and Curative‘ berdasarkan pengalaman langsung dan keterlibatannya seumur hidup dengan sumur. Film itu diketahui diproduksi dalam tujuh bahasa.

Sumber: cnn

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *