banner 970x250

Imlek Bencana

Imlek Bencana
Podcast Dahlan iskan


banner 500x500

banner 800x800





Hajinews – BAGI Royce, Imlek kemarin berarti bencana. Mungkin bencana yang ia bikin sendiri. Atau mungkin dibuat oleh papanya. Atau mungkin memang jalan hidup sudah harus begitu.

“Apakah di malam tahun baru besok Anda akan hadir ikut makan malam bersama di rumah orang tua?” tanya saya pada Roy.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Hari itu, Rabu (10/2) lalu, Royce Muljanto ke rumah saya. Dua hari sebelum Imlek. Itu untuk kali pertama saya kenal Roy. Juga untuk kali pertama Roy ke rumah saya.

Saya harus bertanya kepadanya soal malam tahun baru itu. Kalau Roy masih berniat tetap ke rumah papa-nya berarti pertengkaran anak-papa ini segera berakhir damai.

“Saya akan ke rumah papa. Bersama istri dan anak saya. Sebagai anak saya harus begitu. Tahun lalu pun, di malam Imlek, saya juga ke rumah papa,” ujar Roy Rabu lalu.

Dua tahun lalu Roy sudah bertengkar dengan papanya: Muljanto, bos Liek Motor. Yang biasa dipanggil The King. Yang di Surabaya paling terkenal namanya. Yang showroom dan bengkelnya ada di mana-mana.

Pertengkaran dua tahun lalu itu begitu hebatnya sampai Roy masuk tahanan. Lalu jadi terdakwa di pengadilan.

Menurut Roy, kesalahan yang dituduhkan jaksa kepadanya adalah: merusak benda orang lain. Pemilik benda yang dirusak itu sebenarnya tidak mempersoalkan. Juga tidak minta ganti rugi. Bahkan minta diperbaiki pun tidak.

Hari itu, tahun 2018, Roy mendatangi showroom Liek Motor yang di Jalan Indrapura, Surabaya. Ia tembaki mobil yang ada di situ. Lalu Roy pergi.

Papanya, menurut Roy, tidak bereaksi apa-apa. Padahal Roy ingin bisa dipanggil menghadap sang papa.

Berikutnya Roy mencari tahu siapa backing papanya. Ketemu. “Seorang pejabat di Pemkot Surabaya,” katanya. Roy menyebut nama, tapi biarlah nama itu hanya diingat Roy.

Roy pun mendatangi rumah pejabat itu. Kosong. Hanya ada mobil Innova di depan rumah itu. Maka mobil tersebut ia tembaki. Sampai kaca, lampu, dan bumper mobil itu rusak.

Setelah itu ia pergi ke pos satpam di perumahan sepi itu. Ia berikan KTP kepada satpam. “Kalau ada yang mengadu mobilnya rusak, yang melakukan saya. Ini KTP saya. Silakan tangkap saya,” ujar Roy menirukan kejadian dua tahun lalu itu.

Roy akhirnya dicari polisi. Ia pun cari wartawan. Ia ingin wartawan tahu kalau ia akan ditangkap. Agar jadi berita. Agar heboh. Dengan demikian sang ayah akan memperhatikannya.

Di jalan raya, setelah bertemu wartawan, polisi mengetahui keberadaan Roy. Polisi berusaha menghentikan mobil Roy. Tapi Roy mempercepat mobilnya. Dikejar. Roy kian ngebut. Ia ingin menghilang ke jalan tol, lewat bundaran Waru, Surabaya Selatan.

Sepanjang pengajaran itu Roy bisa lolos. Termasuk ketika melewati daerah padat. Tapi di bundaran Waru itu mobil polisi yang lain mencegatnya.

Roy tidak bisa lagi lari.

Roy ditangkap.

Roy ditahan.

“Saya mencoba menghubungi papa. Tapi papa ke Singapura. Sengaja menghindar,” ujar Roy.

Tapi hari ke-5 di tahanan, papanya datang menjenguk. Roy mengira hari itu ia akan dikeluarkan dari tahanan. Roy merasa papanya orang kuat. Pengaruhnya besar.

Setelah 10 menit bicara-bicara di salah satu ruang di kantor polisi, Roy bertanya pada bapaknya.

“Terus bagaimana urusan ini?”

Jawaban sang ayah di luar perkiraan Roy.

“Ya kamu jalani saja dulu,” ujar sang ayah seperti ditirukan Roy.

Roy kecewa. Ternyata ayahnya membiarkan anaknya tetap ditahan.

“Ya sudah Pa, saya jalani,” kata Roy. Lalu meninggalkan sang ayah. Ia kembali ke ruang tahanan.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: