Soekarno: Saya akan Membubarkan HMI

Soekarno: Saya akan Membubarkan HMI
Presiden Soekarno saat menerima PB HMI tahun 1965 usai Bung Karno urung membubarkan HMI
banner 500x500

Hajinews — Hari ini, 5 Ferbruari 2021 dkperingati sebagai hari lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ke-74 tahun. HMI lahir di masa awal kemerdekaan, yaitu 5 Februari 1947, di mana bangsa Indonesia masih menghadapi agresi militer Belanda.

HMI yang anggotanya masih hanya beberapa kampus saja di Yogyakarta ikut memanggul senjata, berjuang secara eksternal untuk kemerdekaan dan secara internal terus melakukan ekspansi ke seluruh Yogyakarta, lalu HMI oleh Lafran Pane dkk terus mengembangkan HMI di Jakarta dan keseluruh provinsi di Indonesia.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Tahun 50-an boleh dikata di mana ada kampus perguruan tinggi terkemuka di sana ada HMI. Sampai pada tahun 60, hampir semua provinsi di Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera telah berdiri HMI.

Pada tahun 1965, Indonesia mengalami krisis ideologi. Islam dan komunisme yang secara ideologis bertentangan justru dijadikan ssbagai haluan politik kebangsaan oleh rezim Soekarno.

Pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) begitu kuat pada Soekarno, sehingga Masyumi yang menjadi kekuatan politik dan aspirasi umat Islam dapat dibubarkan. HMI yang dianggap anak Masyumi pun hendak dibubarkan pada tahun 1965.

Spanduk pembelaan terhadap HMI yang ingin dibubarkan oleh PKI.

Kisah tentang upaya keras pembubaran HMI ini banyak ditulis dalam sejarah. Sebuah cuplikan upaya pembubaran HMI ini pernah ditulis oleh Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri dalam buku biografinya. Diceritakan bagaimana dialog Soekarno dan Saifuddin Zuhri sampai akhirnya Bung Karno urung membubarkan HMI.

Cuplikan dialog antara KH Saifuddin Zuhri dengan Presiden Soekarno itu diambil dari buku karya KH.Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, halaman 671-674. Berikut cuplilkannya:

Soekarno: Saya Akan Membubarkan HMI

PADA suatu pagi aku dipanggil Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Aku diterima di serambi belakang. Menjadi kebiasaan presiden sejak di Yogyakarta, tiap pagi antara pukul 07.00-09.00, untuk menyelenggarakan koffie uurtje atau sejenak minum kopi bersama beberapa orang tamunya, baik yang datang dengan perjanjian maupun tanpa perjanjian. Biasanya mereka berjumlah hingga belasan orang dengan berbagai profesi. Ada menteri, duta besar, perwira tinggi, wartawan, pengusaha swasta, seniman, dan lain-lain. Masing-masing disuguhi setangkup roti panggang yang ditaburi gula pasir dan telur dadar, sebagai teman secangkir kopi hitam.

Setelah beberapa tamu memperoleh giliran masing-masing untuk berbicara empat mata dengan presiden, aku dipersilahkan duduk di sebelahnya. Tamu-tamu tinggal 3-4 orang saja, di antara yang kukenali ialah Hasyim Ning, salah seorang pengusaha nasional yang berhasil.

Demo tuntutan pembubaran HMI oleh kader-kader PKI
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *