WHO Akan Berikan Rekomendasi Vaksin Covid-19, Sinovac Tak Disebut?

Ilustrasi vaksin covid-19 (gambar ist)
banner 904x1280
banner 500x500

Hajinews — Vaksin menjadi salah satu solusi untuk menanggulangi pandemi Covid-19 dunia. Dalam rentan setahun ini sudah ada beberapa jenis vaksin yang dikeluarkan, seperti Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan yang Indonesia beli Sinovac, pun masing-masing vaksin memiliki efikasi berbeda. Sementara itu, WHO sampai saat ini belum memberikan rekomendasi vaksin terbaik untuk digunakan.

Meski demikian menurut sebuah sumber yang dilansir BangkaPos, Sabtu (23/1), ada beberapa vaksin yang akan diberi izin oleh WHO.

Bacaan Lainnya

banner 400x400

Laporan itu mengatakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) berencana untuk memberikan izin penggunaan beberapa vaksin COVID-19 dari sejumlah produsen di negara Barat dan juga Cina dalam beberapa pekan hingga beberapa bulan mendatang.

Ini bertujuan agar negara-negara miskin segera mendapatkan vaksin virus corona.

COVAX, skema penyediaan vaksin COVID-19 global yang dipimpin oleh WHO, ingin menyediakan sedikitnya 2 miliar dosis vaksin corona di seluruh dunia tahun ini.

Di mana 1,3 miliar dosis ditujukan untuk negara-negara miskin.

Namun, hal ini menemui kendala seperti kurangnya dana yang mencukupi, karena negara-negara kaya telah memesan vaksin dalam jumlah besar untuk mereka sendiri.

Dalam perlombaan penyediaan vaksin, persetujuan dari regulator adalah kunci mengonfirmasikan efektivitas dan keamanan vaksin, dan untuk meningkatkan produksi.

Tetapi beberapa negara miskin sangat bergantung pada persetujuan WHO karena memiliki kapasitas regulator yang terbatas.

Sejauh ini WHO baru memberikan izin penggunaan kepada vaksin buatan BioNtech-Pfizer pada akhir Desember tahun lalu.

Oleh karena itu, WHO “mempercepat” persetujuan penggunan darurat, menurut dokumen internal COVAX yang dilihat oleh kantor berita Reuters.

Vaksin mana saja yang akan direkomendasi?

Vaksin COVID-19 dikembangkan oleh AstraZeneca dan diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) akan disetujui pada bulan Januari ini atau Februari, kata dokumen itu.

Sebelumnya, kepada Reuters, Kepala Eksekutif SII Adar Poonawalla mengatakan pekan lalu bahwa pihaknya mengharapkan persetujuan WHO “dalam satu atau dua minggu ke depan.”

Vaksin AstraZeneca yang dikembangkan bersama Universitas Oxford ini telah diberikan izin penggunaan darurat di Inggris, sementara pemberian izin untuk di Uni Eropa dan Amerika Serikat dikabarkan sudah semakin dekat.

COVAX sendiri memiliki kontrak dengan AstraZeneca dan SII untuk sekitar 400 juta dosis dengan opsi tambahan ratusan juta dosis, meskipun belum jelas kapan waktu pendistribusiannya.

Dokumen tersebut juga menyebutkan vaksin corona produksi Moderna yang didasarkan pada teknologi mRNA akan disetujui akhir Februari.

Vaksin yang dikembangkan oleh Johnson & Johnson (J&J) – yang memiliki perjanjian tidak mengikat dengan COVAX – juga direncankanan mendapat persetujuan WHO paling cepat pada Mei atau Juni.

Selain itu, vaksin yang diproduksi di Korea Selatan oleh SK Bioscience dapat disetujui oleh WHO paling awal di pertengahan bulan Februari, sedangkan vaksin corona asal dua produsen Cina, Sinovac dan Sinopharm, akan disetujui paling cepat pada Maret.

Oxford kembangkan vaksin untuk varian baru virus corona

Para ilmuwan di Universitas Oxford sedang bersiap untuk segera memproduksi versi baru dari vaksin mereka untuk memerangi kemunculan varian baru virus corona lebih menular yang ditemukan di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil.

Dilansir The Telegrapgh, Rabu (20/01), tim dari Universitas Oxford dan AstraZeneca sedang melakukan studi kelayakan untuk mengkonfigurasi ulang platform vaksin mereka yang bernama ChAdOx.

Juru bicara Universitas Oxford mengatakan bahwa tim tengah menilai dengan cermat dampak varian baru pada vaksin dan mengevaluasi proses yang dibutuhkan untuk pengembangan vaksin COVID-19 yang disesuaikan.

Sementara itu, mengapa Sinovac belum disebut akan mendapat izin dan rekomendasi dari WHO?

Menurut Al Jazeera, disebut sebagai vaksin paling lemah jika dibandingkan dengan vaksin lainnya.

Kabar itu disebutkan oleh Al Jazeera pada November tahun lalu, yang dimuat dalam tabel berdasarkan hasil uji klinis dari berbagai vaksin.

Membandingkan 10 vaksin, di anataranya Sinovac adalah vaksin paling bawah dalam menimbulkan respon imun.

Sementara vaksin dengan respon imun tertinggi adalah Pfizer dengan angka mencapai 95 persen, sementara Sinovac tidak disebutkan dengan angka dan hanya disebutkan low.(ingeu/dbs)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *