Heppy Trenggono, Bos Sawit Terbebas dari Utang Berkat Sedekah



banner 500x500

banner 800x800





Jakarta, hajinews.id – Heppy Trenggono,dikenal sebagai founder dan CEO United Balimuda Group yang sukses karena sering bersedekah. Bahkan Heppy percaya, dengan bersedekah ia mampu bangkit dari jeratan utang yang pernah ia alami beberapa tahun yang lalu.

Perjalanan Karier Heppy Trenggono terbilang panjang. Jiwa bisnis mulai tumbuh sejak dini, Heppy kecil senang sekali membantu sang Ibu berdagang di pasar. Diusia remaja usai lulus kuliah, Heppy bekerja di perusahaan United Tractor sebagai system analist selama empat tahun.Karena jenuh dengan pekerjaanya, akhirnya Heppy memutuskan untuk keluar dan bekerja di stasiun televisi LaTivi yang sekarang berubah menjadi TVOne selama lima tahun sebagai direktur teknik. Setelah banyak pengalaman, Heppy Trenggono memilih berhenti dari pekerjaannya dan mulai berbisnis. Heppy mulai fokus dengan perusahaan PT. Balimuda Persada yang ia rintis sejak bekerja di stasiun televisi.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Heppy Trenggono memilih untuk berbisnis sawit karena ia sudah terbiasa melihat dan mempelajari saudaranya yang juga menggeluti bisnis yang sama. Bisnis yang Heppy jalani berkembang dengan pesat seiring dengan berjalannya waktu.

Happy mulai melebarkan sayapnya tatkala tau bisnis yang ia jalani sedang mujur. Untuk memperluas ekspansi, ia kemudian memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman ke Bank Niaga. Uang hasil pinjaman tersebut, ia gunakan untuk membeli alat berat guna menyokong usaha sawitnya.

Beberapa tahun kemudian badai melanda bisnisnya. Heppy terlalu terlena dan berpuas diri atas bisnis yang ia jalani. Heppy tak mampu mengontrol diri sehingga ia tak bisa melunasi pinjaman sebesar Rp 63 miliar di Bank Niaga.

Inilah momen terberat dalam hidup Heppy Trenggono. Heppy sempat berpikir untuk melunasi pinjamannya dengan menjual seluruh asset perusahaannya. Namun ia sadar hal itu tidak dapat melunasi segala utangnya pada bank.

Berbekal uang simpanan sejumlah Rp 1 miliar, Heppy mulai mencicil sedikit demi sedikit utangnya tersebut. Sebagian dari uang simpanannya tersebut juga ia sumbangkan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan. Saat itu Heppy berpikir dari hal tersebut ia bisa memperoleh manfaat dan juga pengalaman hidup yang berarti.

Heppy kemudian sadar dan mencoba bangkit kembali. Langkah pertama yang ia lakukan untuk memperbaiki bisnisnya yaitu mengubah arah bisnis perusahaan.Perusahaannya yang dulu bergerak dibidang kontraktor kelapa sawit ia ubah menjadi broker untuk perusahaan-perusahaan yang ingin terjun di bisnis kelapa sawit.

Usahanya kembali membuahkan hasil. Heppy berhasil melunasi seluruh utangnya di Bank dalam tempo 3 tahun. Bahkan Heppy mampu memiliki perkebunan kelapa sawit yang besar.

Heppy Trenggono kembali melebarkan sayapnya dalam dunia bisnis, tentunya dengan persiapan yang lebih matang. Ia merambah pada bisnis alat berat dan industri makanan dengan mendirikan perusahaan bernama Heppyfoods.

Bisnisnya sekarang bernilai Rp 7 triliun rupiah dan tidak punya utang sama sekali. Ia memiliki 12 anak perusahaan dan juga memiliki 3000 pegawai.

Sampai saat ini, ia masih sering memberikan sarapan kepada para kaum dhuafa atau fakir miskin di rumahnya di Jl. Mampang Prapatan. Sebab ia percaya bahwa berbagi dengan sesama akan membawa manfaat yang berarti baginya.

Tidak hanya itu perusahaan miliknya juga menerapkan prinsip ”Inspiring and Giving the World”. Heppy selalu memberikan motivasi dan teladan kepada para karyawannya.

Seiring dengan semangat menginspirasi, Heppy juga membentuk komunitas Indonesian Islamic Business Forum. Ini merupakan komunitas yang beranggotakan pengusaha dan calon pengusaha. Komunitas ini didirikan Heppy dengan tujuan membantu dan menyemangati para pengusaha dan calon pengusaha dalam membangun bisnis.

Heppy juga menggagas lahirnya gerakan Beli Indonesia, pada 27 Februari 2011 bersama 504 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Beli Indonesia adalah gerakan membangun karakter bangsa yang membela bangsa sendiri, yaitu sikap untuk membeli produk bukan dengan alasan lebih baik atau lebih murah, tetapi karena milik bangsa sendiri. Heppy prihatin pada kondisi perekonomian Indonesia yang justru banyak dijajah produk asing. (Kumparan/Sitha).

 

 

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *