Malaysia Resmi Darurat Nasional, Kurs Ringgit Ambruk!

banner 500x500

Jakarta, hajinews.id – Nilai tukar ringgit Malaysia ambruk melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/1/2020), setelah pemerintahnya menetapkan kondisi darurat nasional.

Melansir data Refinitiv, ringgit sebenarnya membuka perdagangan dengan menguat 0,25% melawan dolar AS, tetapi setelahnya langsung berbalik merosot hingga 0,54% ke RM 4,072/US$ yang merupakan level terlemah dalam 1 bulan terakhir. Sementara itu di waktu yang sama ringgit juga melemah 0,16% melawan rupiah di Rp 3,478,8/RM.

Bacaan Lainnya

banner 400x400

Raja Malaysia, Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah mengumumkan keadaan darurat nasional, kemarin. yang mengancam sistem kesehatan negara itu.

“Wabah Covid-19 di negara ini berada pada tahap yang sangat kritis dan ada kebutuhan untuk keadaan darurat,” kata sebuah pernyataan dari istana nasional, dikutip dari AFP.

Perdana Menteri Muhyiddin Yassin juga telah meminta keadaan darurat diumumkan dalam pertemuan dengan Raja pada hari Senin (11/1/2021). Senin lalu, Muhyiddin juga mengumumkan pembatasan baru yang ketat di lebih dari separuh negara bagian. Termasuk memerintahkan warga untuk tinggal di rumah semua kecuali tujuan penting.

Penutupan sebagian besar bisnis juga dilakukan. Ia memperingatkan sistem perawatan kesehatan Malaysia sudah berada ‘di titik puncak”.

Mengutip Reuters, lockdown dilakukan di Kuala Lumpur dan lima negara bagian selama dua minggu. Ini menyusul kasus kumulatif yang menyentuh lebih dari 135 ribu kasus per minggu.

Hal yang sama juga dilakukan Indonesia yang membuat rupiah cukup tertekan melawan dolar AS. Dilansir cnbc, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih ketat, atau yang saat ini disebut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) resmi dimulai Senin lalu. PPKM berlangsung di pulau Jawa dan Bali mulai hari ini hingga 25 Januari mendatang. Kebijakan tersebut diterapkan oleh pemerintah guna menekan penyebaran penyakit akibat virus corona (Covid-19).Di daerah-daerah yang kena PPKM, perkantoran non-esensial diimbau menerapkan kerja dari rumah (work from home) 75%. Kegiatan belajar-mengajar belum bisa tatap muka di sekolah, masih jarak jauh. (Sitha/cnbc)

 

 

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *