Dua Kasus

Dua Kasus
ilustrasi : pesawat terbang
banner 500x500

Oleh: Hamdan Juhannis

Hajinews – Ada dua kasus yang ingin saya ilustrasikan, cerita yang sering menyertai jatuhnya sebuah pesawat.

Bacaan Lainnya

banner 400x400

Kasus pertama, seorang suami yang cukup ternama menyampaikan kepada isterinya bahwa dia akan mengikuti acara di daerah A, ternyata dia pergi dengan selingkuhannya ke daerah B. Kedua daerah yang disebutkan dikunjungi dengan moda pesawat terbang. Si suami memberikan detail perjalanan dan supaya meyakinkan memberikan informasi penerbangan kepada isteri dengan bukti tiket, karena dia memang membeli tiket ke daerah A, selain tentunya tiket ke daerah B yang memang menjadi tujuan yang sebenarnya bersama dengan selingkuhannya.

Tak disangka, kecelakaan penerbangan  terjadi. Pesawat yang disebutkan si suami yang menuju ke daerah A, tentunya yang dipahami isterinya, jatuh dan semua penumpang tewas. Musibah ini tentu menyisakan duka yang sangat dalam bagi keluarga penumpang, tak terkecuali  isteri dari si suami . Keluarga dari si suami dan isterinya pada berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. Saking ramainya karena dirinya seorang figur publik, tenda pun didirikan untuk mewadahi membludaknya tamu yang semuanya larut dalam duka nestapa yang tak terkira.

Kasus kedua, seorang suami  bernama si C naik pesawat dengan menggunakan nama temannya menuju ke sebuah daerah untuk kegiatan rapat. Tentu untuk kelancaran, dia pun meminjam KTP teman tersebut. Hal ini terjadi karena temannya si D, yang sedianya berangkat mengalami halangan yang tidak bisa diatasi, akhirnya mewakilkan kepada si C tadi itu dan juga supaya tiket tidak hangus.

Tak diduga, takdir kecelakaan pun terjadi. Pesawat yang ditumpangi  jatuh dan semua penumpang dinyatakan hilang. Dalam manifest penerbangan yang dilaporkan mengalami kecelakaan, terdapat nama si D. Si D dinyatakan hilang, dan si C yang sebenarnya tewas tidak terdapat dalam daftar nama penumpang.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari dua kasus ilustratif di atas? Kedua peristiwa ini bisa disebut sebagai kejadian yang lebih mengerikan dari kematian. Kematian yang mengiringi kejatuhan pesawat adalah bagian dari proses hukum alam kehidupan. Semua tahu kalau pesawat jatuh hampir pasti semua orang mati. Namun pada kasus pertama, si suami dinyatakan mati karena prilaku amoralnya. Dia merasakan hukuman kematian terdahsyat yang orang lain tidak paham. Dia tidak bisa keluar dari modus yang dimainkan karena kapan dia berani muncul, dia akan terhukum secara sosial dengan cara yang lebih mengerikan. Modus perselingkuhannya akan pasti terungkap dan itu awal kematian dari semua predikat yang disandangnya.

Kasus kedua, si C ibarat menukar takdir. Mungkin ada orang yang berandai bahwa seharusnya bukan dirinya yang mengalami kecelakaan bila tidak melakukan itu. Lebih parahnya lagi, dia mati dengan menggunakan identitas orang yang masih menyandang kehidupan. Bahkan keluarganya tidak mendapatkan asuransi karena bukan dirinya dinyatakan mengalami kecelakaan.

Dua kasus ini terkait dengan kematian dengan latar masalah moral yang paling mendasar. Pada kasus pertama, dia hidup secara fisik, tapi terkubur oleh prilaku asusila. Pada kasus kedua, dia mati membawa nama orang lain yang masih hidup dan yang menikmati rezeki belasungkawa atas prilaku pelanggaran penerbangan yang dilakukannya. Yang juga persis sama, meskipun si suami pada kasus pertama masih hidup,  sama saja dengan si suami pada kasus kedua,  tidak mungkin lagi kembali ke rumah isterinya.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *